Dokter: Gejalanya Memang Seperti Hamil, tapi… Palsu
  • Dipublikasikan pada: Nov 7, 2015 Dibaca: 224 kali.

Kehamilan palsu atau pseudocyesis.

Kehamilan palsu atau pseudocyesis.


SIMALUNGUN, SUMUTPOS.CO – Hilangnya bayi atau janin berusia 6 bulan dari dalam kandungan yang menimpa Hera Boru Tanjung (37), warga Huta III, Nagori Karangrejo, Kecamatan Gunung Maligas, Simalungun, dikaitkan masyarakat dengan perbuatan mahluk halus seperti jin atau sebangsanya. Namun dokter mempunyai pendapat lain.

Dr Dina Mariani SpoG yang bertugas di RS Pirngadi Medan, saat dikonfirmasi mengatakan, sebenarnya ada penjelasan ilmiah untuk keadaan seperti itu. Kehamilan itu biasa disebut sebagai ‘kehamilan palsu’ atau pseudocyesis.

“Pseudocyesis adalah suatu keadaan yang bersifat psikosomatik, di mana terjadi gangguan mental dan fisik yang menyebabkan perubahan pada tubuh wanita sehingga menyamai ciri-ciri wanita hamil, padahal sebenarnya dia tidak hamil,” katanya.

Belum ada penyebab pasti dari pseudocyesis, tetapi teori yang banyak muncul adalah disebabkan oleh faktor konflik emosional atau psikologi. Jadi wanita ini berkeinginan sangat kuat untuk hamil dan tekanan perasaan yang dialaminya ini mengakibatkan perubahan hormon sehingga menyerupai perubahan hormon pada keadaan hamil yang sebenarnya.

Wanita yang mengalami pseudocyesis mengalami gejala-gejala yang sama seperti wanita yang benar-benar hamil, misalnya : haid terhenti, morning sickness, payudara yang membesar, perut yang membesar dan banyak yang bisa merasakan pergerakan bayi (meskipun tidak ada janin di dalamnya).

Mereka yang memeriksakan kandungannya ke dokter atau bidan, seringkali dinyatakan memang benar-benar hamil. Tetapi setelah beberapa bulan, perut yang membesar tersebut tiba-tiba mengempes dan dokter akan menyatakan bahwa tidak ada bayi di dalam kandungannya.

Wanita yang mengalami hamil palsu ini, sebagian besar mengalami gonjangan emosi yang hebat, karena harapan besar untuk memiliki bayi ternyata tidak terjadi. Karena kebanyakan bersifat psikologi, sebaiknya pasien pseudocyesis dirujuk ke seorang psikoterapis untuk mengatasi masalahnya ini.

Wanita yang memiliki risiko untuk mengalami kelainan ini wanita yang belum dapat anak pada usia akhir 30 atau awal 40 tahun. Wanita dengan kondisi emosi yang tidak stabil, terutama yang berhubungan dengan kehamilan. Wanita dengan riwayat abortus ataupun kematian janin sebelumnya.

Selain kehamilan palsu, ada lagi istilah lain yaitu kehamilan kosong. Dimana seorang ibu mengalami perut membesar layaknya ibu hamil. Membesarnya perut tersebut disebabkan dari perkembangan awal kehamilan membentuk kantong bayi, namun di dalamnya tidak ada janin. Salah satu faktor penyebabnya adalah faktor genetik.

Hamil kosong ini sering terjadi dan bertahan selama 3-4 bulan, di mana ibu merasa hamil. Namun setelah di USG, ternyata kosong. Di mana kalau hamil ini biasanya keluar sendirinya dengan ditandai ada plak atau pendarahan. Kasus ini biasanya tidak terjadi pada kehamilan pertama, tetapi bisa juga kehamilan kedua, ketiga maupun kelima.

Oleh sebab itu agar seorang ibu hamil atau tidak, ia seharusnya memeriksa kehamilannya sejak dini dan melakukan pemeriksaan USG, apakah benar-benar hamil atau tidak.

Sementara informasi lain yang diperoleh, di Indonesia, banyak mitos berkembang tentang bayi yang hilang saat masih dikandung. Ada wanita yang mengalami tanda-tanda kehamilan, setelah cek ke dokter positif hamil, muntah-muntah, badan lemas dan sebagainya layaknya wanita yang sedang hamil muda, tetapi beberapa bulan kemudian, diketahui tidak ada janin di dalam rahim. Mitos pun bermunculan, ada yang bilang janin diculik jin atau makhluk halus untuk dipindahkan ke rahim wanita lain atau jadi tumbal.(smg/deo)