SEPENGGAL KISAH PESERTA OPERASI KATARAK GRATIS KE-5 MARTABE (9)
Usia 12 Tahun, Anak Ini Mau Start dari Kelas Satu SD
  • Dipublikasikan pada: Dec 21, 2016 Dibaca: 276 kali.

Foto: Dame/Sumut Pos Rizky Fadilla (tengah), diapit ayah dan ibunya, serta staf Tambang Emas Martabe, Donna Hattu, usai operasi katarak gratis di Rumkit Putri Hijau Medan, Kamis (15/12/2016).

Foto: Dame/Sumut Pos
Rizky Fadilla (tengah), diapit ayah dan ibunya, serta staf Tambang Emas Martabe, Donna Hattu, usai operasi katarak gratis di Rumkit Putri Hijau Medan, Kamis (15/12/2016).


Sejak kecil ia pengen sekolah. Tak diterima di sekolah biasa, sekolah luar biasa pun ia mau. Sayang, SLB terdekat jaraknya 7 jam perjalanan via bus. Alhasil, ia hanya bisa memendam cita-citanya jadi polisi, gara-gara lapisan katarak yang menyelimuti bila matanya. Namun tekad belajar itu tak pernah usai…

————————————-
Dame Ambarita, Medan
————————————-
Tak mudah mengajak Rizky Fadilla berbincang. Anak baru gede berusia 12 tahun itu pendiam. Mungkin, ketidakmampuan melihat dunia selama 12 tahun, membuat semangat hidupnya ikut memudar sehingga ia cenderung pemarah.

Untunglah ayah dan ibunya, Zainuhri (50) dan Siti Saleha (48), sangat pengertian. Mereka mewakili Rizky berbicara, dan terkadang bertanya padanya dengan nada lembut dan membujuk.

Ditemui Kamis pekan lalu di Rumkit Putri Hijau Medan, usai operasi katarak gratis yang digelar Tambang Emas Martabe bekerja sama dengan A New Vision dan Kodam I Bukit Barisan, anak yang tinggal dengan orangtuanya di Desa Padangluar Kecamatan Barumun, Sibuhuan, Palas ini tidak menampakkan ekspresi gembira. Tidak juga ekspresi sedih. Hanya diam dan mendengar, tanpa ingin merespon.

Kata ayahnya, anak bungsu dari 9 bersaudara itu menderita katarak sejak lahir. “Ketahuan setelah ia berusia 3 bulan,” tuturnya.

Setelah ketahuan buta, mereka membawa Rizky ke seorang dokter mata. Ia disebut menderita katarak.

Namun si dokter meminta mereka menunggu Rizky agak besar, baru dibawa lagi berobat.

Entah bagaimana, berbagai kesibukan membuat langkah pengobatan tak kunjung diambil. Apalagi beberapa tahun lalu, mereka memutuskan pindah dari Medan ke Palas, membawa sejumlah anak-anak yang belum menikah.

Di Palas, Zainuhri dan istrinya membuka kedai nasi. Rizky yang saat itu berusia 6 tahun, hanya bisa bermain di rumah.

“Dia tidak bisa mengenali warna. Kalau di rumah, ia bisa berjalan tampa dituntun karena sudah mengenali tata letak perabot. Kalau ada barang yang tersepak, biasanya dia marah: kenapa ada yang meletakkan barang di jalur yang biasanya dia lewati,” tutur ayahnya.

Biasanya kakak dan adiknya memilih mengalah, karena mereka juga prihatin dengan kondisi Rizky.

Memasuki usia sekolah, ayahnya mulai bertanya ke beberapa sekolah dasar, tentang kemungkinan menerima putranya belajat. Tetapi sekolah ‘biasa’ menolak. Para guru mengatakan, Rizky lebih cocok di Sekolah Luar Biasa (SLB).

“Kami cari info SLB terdekat, ternyata hanya ada di Panyabungan (ibukota Kabupaten Madina, red). Jaraknya 7 jam perjalanan naik bus umum,” ungkap sang ayah.

Akibatnya, pilihan SLB dicoret. Padahal Rizky telah bolak-balik mengatakan pengen sekolah seperti kakak adiknya atau teman-teman sebayanya.

Selama tinggal di rumah, hasrat Rizky untuk belajar cukup kuat. Ia suka membongkar pasang mesin penyedot air merek Sanyo yang sudah rusak, milik ayahnya. Ia kerap bertanya: “Ini apa, Pak? Ini apa, Mak?”
“Kalau bertamu ke rumah orang lain, ia suka cari kamar mandi mencari mesin Sanyo… dikiranya semua rumah memilikinya,” kata ayahnya.

Sejak sadar dirinya tak bisa sekolah, anak yang bercita-cita jadi polisi itu kerap membantu orangtuanya di kedai nasi. “Kesukaannya menumbuk kentang untuk dibuat perkedel. Kalau ada yang membantu, ia justru marah dan mengatakan, itu tugasnya,” celoteh si ayah.

Setahun lalu, Rizky sempat dibawa untuk diperiksa di RS Mata di Jalan Karya Ujung Medan. Vonisnya sama: katarak!

loading...