Tim Duffy: Operasi Katarak Gratis Itu ‘Amazing Program’, Alasannya…
  • Dipublikasikan pada: Dec 30, 2016 Dibaca: 220 kali.

Foto: Martabe for Sumut Pos Tim Duffy, Presiden Direktur Tambang Emas Martabe membantu pasien yang baru saja menjalani operasi katarak menuju ruang rawat inap di RS Tentara Losung Batu, Padangsidimpuan, Kamis (8/12/2016). Di Padangsidimpuan, kegiatan operasi katarak gratis dilakukan di RS Tentara Losung Batu dari tanggal 8 sampai dengan 10 Desember 2016.

Foto: Martabe for Sumut Pos
Tim Duffy, Presiden Direktur Tambang Emas Martabe membantu pasien yang baru saja menjalani operasi katarak menuju ruang rawat inap di RS Tentara Losung Batu, Padangsidimpuan, Kamis (8/12/2016). Di Padangsidimpuan, kegiatan operasi katarak gratis dilakukan di RS Tentara Losung Batu dari tanggal 8 sampai dengan 10 Desember 2016.


Kebanyakan pasien tidak tahu siapa pria jangkung berkulit putih yang sering menuntun mereka. Pria itu sendiri kalem saja saat hilir mudik mendorong kursi roda pasien yang baru dioperasi katarak, dari ruang operasi menuju ruang pemulihan. Pakaiannya sama seperti seragam relawan lainnya; kemeja orange plus celana katun berliris perak khas tambang.

————————————
Dame Ambarita, Psp
————————————-
“Dia salahsatu bule yang kerja di Tambang Emas Martabe ya?” tanya salah seorang keluarga pasien, saat melihat Tim Duffy semangat sekali menuntun pasien yang matanya tertutup dop usai operasi.

“Iya…. jabatannya Presiden Direktur,” jawabku.

“Masak? Nggak terlihat seperti Presdir ya,” sahutnya heran, sambil memandangi langkah Tim Duffy mendorong kursi roda pasien.

Tim Duffy sendiri, terlihat menikmati aktivitasnya sebagai relawan operasi katarak gratis yang digelar Tambang Emas bekerjasama dengan lembaga kemanusiaan A New Vision, didukung Kodam I Bukit Barisan, di RS Tentara Padangsidimpuan, pertengahan Desember baru lalu.

“Pekerjaanku membawa pasien ke ruang pemulihan saja ya. Saya suka. Kalau netes-neteskan obat mata, serahkan ke yang lain,” katanya sambil tersenyum lucu.

Ditanya mengapa lebih memilih menuntun pasien operasi katarak gratis ke ruang pemulihan yang jaraknya bisa bikin kaki lecet jika dilakukan bolak-balik, Tim mengatakan dirinya ikut bahagia melihat pasien memiliki harapan baru dalam hidupnya.

“Selain itu, melayani pasien katarak gratis membuat saya ikut rendah hati,” katanya.

Operasi Katarak Gratis menurutnya termasuk program CSR terbaik dari sebuah perusahaan. Karena memberi dampak positif bagi banyak orang. Pertama, si pasien itu sendiri yang senang karena matanya yang buta bisa melihat kembali. Efeknya si pasien lebih mandiri dan lebih produktif, sehingga beban keluarga untuk menjaga dan menanggungnya, berkurang. Pada akhirnya, itu akan berdampak positif pada perekonomian masyarakat.

Diakuinya, sekitar 75 program CSR perusahaan umumnya baik. Tetapi operasi katarak gratislah yang memberi dampak paling baik bagi masyarakat luas.

“This is amazing program. Saya berharap program ini akan berkelanjutan selama mungkin,” cetusnya.

Ia bahkan tidak menutup kemungkinan akan mereplikasi program serupa, seumpama dirinya pindah ke perusahaan tambang di tempat lain. Saat ini, pihaknya sudah menshare positifnya program tersebut dalam pertemuan rutin para CEO perusahasn tambang.

Tim juga memuji kerja sama yang baik dengan beberapa stakeholder seperti ANV dan Kodam I BB, dalam penyelenggaraan operasi. “Ini contoh yang baik dan saling melengkapi dari tiga organisasi, untuk  mencapai tujuan bersama,” jelasnya.

Saat ini, program diarahkan untuk menangkap lebih banyak peserta untuk memberi dampak yang lebih besar, meski tetap dengan target utama masyarakat lingkar tambang. “Tetapi tidak menutup kemungkinan digelar di tempat lain jika dibutuhkan. Seperti sudah dilakukan di Medan, Siantar, dan Karo,” ujarnya.

Sejak tahun 2011, sejumlah 5.662 orang (6.087 mata) telah menjalani operasi katarak dengan metode penggantian lensa intraokuler secara cepat dan aman dengan tingkat keberhasilan 100 persen.

Mereka berasal dari berbagai daerah lintas Pulau Sumatra, di antaranya dari Padangsidimpuan, Madina, Sibolga, Langkat, Deliserdang, Tarutung, Rantau Prapat,  Nias, dan Aceh.

Di Sumatera Utara diperkirakan ada 170.000 – 200.000 akumulasi kebutaan katarak. Setiap tahun terdapat tambahan 17.000 kasus kebutaan katarak. Katarak dapat disembuhkan melalui operasi, sementara jumlah operasi katarak yang dilakukan kurang dari 10.000 per tahun.

Akhir kata, Tim mengatakan sangat mengapresiasi seluruh pihak yang mendukung upaya memberantas kebutaan di Sumatera Utara. “Khususnya di Tapanuli Selatan di mana Tambang Emas Martabe beroperasi,” ujar Tim Duffy. (Mea)