Patung Wanita Penghibur Bikin Jepang Tarik Dubes
  • Dipublikasikan pada: Jan 7, 2017 Dibaca: 276 kali.

Foto: VOA Sebuah bunga diletakkan pada sebuah patung seorang gadis yang mewakili korban seksual oleh militer Jepang saat berlangsungnya unjuk rasa di depan Konsulat Jepang di Busan, Korea Selatan, 30 Desember 2016.

Foto: VOA
Sebuah bunga diletakkan pada sebuah patung seorang gadis yang mewakili korban seksual oleh militer Jepang saat berlangsungnya unjuk rasa di depan Konsulat Jepang di Busan, Korea Selatan, 30 Desember 2016.


SUMUTPOS.CO – Menlu Jepang dan Korsel mencapai penyelesaian terobosan mengenai wanita penghibur itu pada tahun 2015, termasuk permintaan maaf tertulis dari PM Abe dan janji oleh Tokyo menyediakan dana jutaan dolar untuk mendukung para korban yang masih hidup.

Jepang telah menarik sementara duta besarnya ke Korea Selatan karena patung wanita penghibur dipasang di depan konsulat Jepang di kota Busan Korea Selatan.

“Wanita Penghibur” adalah eufemisme bagi perempuan dari seluruh Asia yang dijadikan budak seks untuk tentara Jepang selama Perang Dunia Kedua di rumah-rumah bordil di garis depan.

Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga mengatakan penempatan patung itu “sangat disesalkan”, Jumat (6/1). Dia mengatakan Jepang juga menghentikan pembahasan ekonomi dengan Korea Selatan dan menangguhkan pembicaraan tentang perjanjian baru untuk kontrak pertukaran mata uang mereka.

Menteri Luar Negeri Jepang dan Korea Selatan mencapai penyelesaian terobosan mengenai wanita penghibur itu pada tahun 2015, termasuk permintaan maaf tertulis dari Perdana Menteri Shinzo Abe dan janji oleh Tokyo untuk menyediakan dana jutaan dolar untuk mendukung para korban yang masih hidup.

Aktivis yang menentang penyelesaian itu menempatkan patung tersebut dekat konsulat Jepang akhir bulan lalu. Patung serupa sudah berada di dekat Kedutaan Besar Jepang di Seoul selama beberapa tahun.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengatakan “sangat disesalkan” bahwa Jepang menangambil langkah untuk menarik duta besarnya. Ia mengatakan kedua negara harus bekerja sama “bahkan ketika ada masalah yang sulit.” (voa)

TAGS :
loading...