Redam Berita Hoax, Pemerintah Rangkul Pengelola Medsos
  • Dipublikasikan pada: Jan 7, 2017 Dibaca: 229 kali.

Berita hoax alias bohong di medsos-Ilustrasi.

Berita hoax alias bohong di medsos-Ilustrasi.


JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Berita hoax dan fitnah menyebar lewat berbagai saluran di media sosial (medsos). Di jagat maya, peredarannya tidak hanya melalui situs mesin pencari, tetapi  juga banyak bermunculan melalui medsos. Pemerintah mematangkan kerjasama dengan platform medsos untuk menanggulanginya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menuturkan pemerintah bakal serius menangani berita-berita palsu alias hoax yang beredar lewat medsos. Penanganan itu kemungkinan besar akan ditangani secara khusus. Pemerintah kini sedang mempertimbangkan membentuk badan khusus atau memasukan ke instansi yang telah ada. ”Tentu ini nanti akan dibicarakan lebih lanjut dan presiden (Joko Widodo) lagi memperhatikan itu,” ujar JK, Jumat (6/1).

JK menuturkan, ada beberapa badan yang dianggap punya kemampuan untuk menangani berita-berita bohong yang berseliweran selama ini. Salah satunya Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg). Selama ini, Lemsaneg bertugas untuk mengirimkan berita-berita rahasia dari pemerintah pusat ke daerah. ”(Penanganan berita hoax) itu juga salah satu opsi untuk (melibatkan badan) tersebut,” ujar dia.

Selama ini penyebar berita hoax memang memiliki banyak modus. Misalnya, situs penyebar berita hoax dan fitnah membuat akun di media sosial. Dari situ, dia memposting tautan situsnya di media sosial dengan memberi keterangan yang bombastis. Yang lebih parah, sebagian netizen langsung menyebarkan tautan itu ke akun masing-masing bahkan tanpa membaca isi beritanya.

Modus lainnya adalah menggunakan buzzer. Biasanya berupa akun-akun personal, namun baru seumur jagung alias baru saja dibuat. Akun-akun itu menyebarkan berita hoax dari akun utama, yang pada akhirnya terbaca oleh netizen lain. lagi-lagi, berita itu mengandalkan judul yang bombastis untuk memainkan psikologis netizen.

Kerjasama dengan platform medsos tidak hanya dilakukan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap internet. Bagaimanapun, penyedia layanan media sosial juga harus perhatian terhadap penggunanya. Khususnya, yang menyalahgunakan media sosial tersebut.