ROKOK JADI PENYUMBANG TERBESAR
Laju Tekanan Inflasi Sumut Diprediksi Sulit Dikendalikan
  • Dipublikasikan pada: Jan 9, 2017 Dibaca: 276 kali.

TRIADI WIBOWO/SUMUT POS--sejumlah pekerja sedang memilah daun tembakau deli di gudang tembakau Klumpang , Deli Serdang. senin (6/5)

TRIADI WIBOWO/SUMUT POS–sejumlah pekerja sedang memilah daun tembakau deli di gudang tembakau Klumpang , Deli Serdang. senin (6/5)


MEDAN, SUMUTPOS.CO – Harga Rokok saat ini kembali mengalami kenaikan. Harga rokok saat ini naik rata-rata Rp500 per bungkusnya. Kenaikan harga rokok tersebut tentunya kembali akan menyulut besaran inflasi di Kota Medan maupun Sumut. Bahkan, sebelumnya di bulan desember rokok menjadi penyumbang inflasi yang signifikan sementara harga sejumlah kebutuhan pokok relatif tidak mengalami kenaikan yang besar.

Menurut praktisi ekonomi dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumut), Gunawan Benjamin, pada bulan Januari ini rokok masih akan tetap menjadi penyumbang inflasi terbesar. Sebab, rokok meskipun pada dasarnya bukanlah kebutuhan pokok manusia, namun faktanya banyak masyarakat yang ketergantungan rokok. Kenaikan harga rokok ini jelas akan menggiring kenaikan laju tekanan inflasi di bulan ini.

Ditambah lagi, sambungnya, dengan penyesuaian harga sejumlah kebutuhan masyarakat yang diatur pemerintah seperti listrik dan BBM.

“Di bulan Januari ini ada kenaikan pada sejumlah harga kebutuhan pokok masyarakat seperti cabai, tomat, daging ayam dan beberapa komoditas lainnya. Saya menilai laju tekanan inflasi Sumut akan sulit dikendalikan di bawah 0,7%,” ungkap Gunawan, kemarin.

Diutarakannya, penyesuaian harga terkait dengan kepengurusan STNK dan BPKB kemungkinan juga akan mempengaruhi laju tekanan inflasi. Akan tetapi, ini tidak terlalu signifikan. Untuk itu, tidak ada kata lain pemerintah dan seluruh stakeholder yang berkaitan memang harus bekerja keras guna mengendalikan inflasi saat ini.

“Ke depan, ancaman inflasi tinggi masih menghantui perekonomian Sumut. Saya melihatnya masih ada sejumlah tekanan eksternal yang bisa membuat pemerintah kembali menyesuaikan harga yang diatur. Setelah Trump (presiden USA terpilih) dilantik, kita mengkhawatirkan adanya tekanan inflasi yang diakibatkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang bisa menyulut inflasi,” sebutnya.

Lebih lanjut Gunawan mengatakan, sisi eksternal lain yang cukup mengkhawatirkan adalah menurunnya output minyak sejumlah negara yang tergabung dalam OPEC yang bisa saja menyulut kenaikan harga BBM di tanah air. Sebab, tidak pernah tahu dengan apa yang akan diambil pemerintah untuk menyesuaikan harga BBM pada Maret mendatang.

“Dengan tren kenaikan harga minyak saat ini, bukan tidak mungkin harga BBM khususnya premium cukup berpeluang untuk dinaikkan nantinya. Jelas ini sangat mengkhawatirkan kita semua. Pengendalian inflasi di Sumut maupun nasional akan lebih berat dibandingkan dengan tahun yang lalu,” cetus Gunawan.

Dia menambahkan, dirinya pesimis bahwa inflasi mampu dikendalikan menyesuaikan target pemerintah 4,5% plus minus 1% di tahun ini. “Semua pihak harus berusaha keras agar inflasi ini bisa dikendalikan di tahun ini. Karena tingginya inflasi nantinya akan membuat masyarakat mengalami penurunan daya beli dan akan membuat kita kesulitan dalam menurunkan angka kemiskinan,” tandasnya. (ris/ram)

loading...