Luapan Aek Batang Toru Genangi Satu-satunya Jalan Desa
  • Dipublikasikan pada: Jan 9, 2017 Dibaca: 221 kali.

Foto: M Roy Siregar/New Tapanuli/SMG Jalan ke Desa Sibulan-bulan putus akibat terendam banjir dari luapan Aek Batang Toru. Kendaraan tak bisa lewat dari jalan tersebut yang membuat warga kesulitan memasarkan hasil pertaniannya.

Foto: M Roy Siregar/New Tapanuli/SMG
Jalan ke Desa Sibulan-bulan putus akibat terendam banjir dari luapan Aek Batang Toru. Kendaraan tak bisa lewat dari jalan tersebut yang membuat warga kesulitan memasarkan hasil pertaniannya.


TAPUT, SUMUTPOS.CO  – Akses satu-satunya dari Desa Sibulan-bulan, Kecamatan Purbatua ke Dusun Sipetang, Desa Simangumban Jae, Kecamatan Simangumban, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), putus total akibat banjir bandang sungai (Aek) Batang Toru, beberapa hari terakhir.

“Hujan yang begitu deras yang terjadi beberapa hari ini membuat Aek Batang Toru meluap dan menggenangi jalan. Kendaraan tidak bisa lewat. Padahal ini adalah satu-satunya jalan ke Dusun Sipetang,” ujar A Nababan, Minggu (8/1).

Dia mengatakan, banjir mulai terjadi Kamis (2/1). Namun, saat itu air surut sebentar dan tiba-tiba hujan turun lagi dan sangat deras yang membuat sungai meluap lagi.

“Kendaraan roda empat sama sekali tak bisa lewat. Sudah sampai 4 hari. Sebab, ketinggian air mencapai 1 meter,” ujarnya.

Air akibat banjir tersebut, semua warga terpaksa berjalan kaki setiap hari. A Nababan mengatakan, bila tak ada upaya perbaikan di pinggir sungai, akses penghubung dua desa tersebut  dikhawatirkan  akan benar-benar putus total.

“Tak hanya itu, dengan putus totalnya jalan, secara otomatis hubungan antara warga di kedua desa itu pun juga akan putus karena itu adalah akses satu-satunya selama ini,” ujarnya.

Bahkan, areal persawahan warga juga terancam diterjang banjir, karena sesekali ketinggian air sudah mencapai 2 meter.

“Sebaiknya harus dibangun pembatas di pinggir sungai dengan segera. Kalau tidak, lahan persawahan kami juga akan hancur terendam banjir,” ujar A Nababan lagi.

Dikatakan, warga kedua desa tersebut mengusahai ratusan hektare sawah yang merupakan mata pencaharian utama warga di sana.

“Jangan sampai semua areal persawahan hancur. Saat ini saja, kami sudah kesulitan memasarkan hasil tanaman kami karena banjir ini,” keluhnya. (roy/ara)