DINSOSNAKER SERBA SALAH
Gepeng dan Anak Jalanan Kembali Marak
  • Dipublikasikan pada: Jan 11, 2017 Dibaca: 277 kali.

TRIADI WIBOWO/SUMUT POS–Seorang anak yang masih di bawah umur menghibur pengendara mobil di perempatan jalan Jamin Ginting Padang Bulan Medan, Kamis (28/5). Maraknya pengamen jalanan meresahkan sebagian pengendara saat berhenti di persimpangan.


SUMUTPOS.CO   -Fenomena gelangan dan pengemis (gepeng) serta Anak Jalanan kembali merak di Kota Medan. Kondisi ini membuat Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Medan mengaku serba salah.

PENERTIBAN gepeng dan anak jalanan yang dilakukan Dinsosnaker Kota Medan, beberapa waktu lalu, tampaknya tidak menghasilkan apa-apa. Sebab gepeng dan anak jalanan masih beraksi di beberapa ruas jalan Kota Medan.

Menurut pantauan Sumut Pos, Selasa (10/1) siang, gepeng dan anak jalanan masih beraksi di Persimpangan Jalan Brigjen Katamso dengan Jalan Juanda, Simpang Jalan Pelangi, Jalan Abdullah Lubis dan Jalan Ring Road/Ngumban Surbakti. Mereka melakukan aktivitas seperti mengamen, serta meminta-minta disetiap simpang lampu merah.

Maraknya aksi gepeng dan anak jalanan tersebut membuat kinerja Dinsosnaker Kota Medan menjadi sorotan. Sebab, gepeng dan anak jalanan itu tetap beraksi, meski sempat ditertibkan, beberapa waktu lalu.

Kadinsosnaker Kota Medan, Syaf Armansyah Lubis ketika dikonfirmasi, mengaku bahwa gepeng dan anak jalanan kembali beraksi. Dia menyebutkan, gepeng dan anak jalanan tersebut beraksi di persimpangan jalan, seperti persimpangan Jalan Juanda dengan Jalan Brigjen Katamso, Simpang Setia Budi dengan Ringroad dan lokasi lainnya.

“Setelah kami amati, gepeng dan anak jalanan itu kembali beraktivitas di persimpangan-persimpangan jalan, mulai hari ini (Selasa,red). Padahal baru kita tertibkan, beberapa hari lalu,” ujar Syarif Armansyah Lubis kepada Sumut Pos.

Namun pria yang akrab dipanggil dengan Bob tersebut membantah bahwa kembalinya gepeng dan anak jalanan tersebut, akibat pengawasan Dinsosnaker Kota Medan yang lemah. “Bukan karena pengawasan kita yang lemah, tapi kita memang serba salah,” ungkapnya.

Dijelaskan, pihaknya sekarang pada posisi dilematis untuk melakukan penertiban lagi. Sebab khawatir akan kembali disalahkan bila menangkap para anjal dan gepeng. “Kalau nanti kami tertibkan, dibilang kami salah tangkap. Kemudian kami juga dibilang melakukan intimidasi terhadap anjal dan gepeng. Jadi kami bingung sekarang ini, serba salah,” paparnya.

Bob mencontohkan penertiban yang mereka lakukan pada pekan lalu. Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Dinsosnaker memangkas botak enam orang penjual kerupuk jangek yang masih pelajar. “Kami memang salah, tapi kami tidak pernah melakukan intimidasi kepada mereka. Kami beri pembinaan dan berupaya menghubungi orangtua mereka,” paparnya.

Pria yang pernah menjabat sebagai Kadishub Kota Medan tersebut menambahkan, akibat tindakan tersebut dirinya ditegur keras Wali Kota Medan Dzulmi Eldin. “Ya, pak wali sudah menegur saya. Menghubungi saya langsung paskapenertiban pekan lalu itu,” ungkapnya.

Dengan kejadian itu, dia mengaku trauma dengan penertiban yang dilakukan terhadap gepeng dan anak jalanan. Pasalnya paskapenertiban Rumah Singgah Dinsosnaker di Jalan Kenanga Raya, pihaknya diserang oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab.

“Anggota kebanyakan sudah trauma. Karena kerap terjadi penyerangan setelah kami lakukan penangkapan di rumah singgah. Kami duga kuat orang-orang yang ditanggap itu yang lakukan penyerangan,” ujarnya. (prn/dek)

loading...