Masa Depan tanpa Nasi
  • Dipublikasikan pada: Mar 15, 2017 Dibaca: 220 kali.


Negara kita tidak bisa maju karena makan nasi?

***
Ibu saya benar-benar sedang jadi pusat perhatian keluarga. Dalam beberapa waktu terakhir, semua benar-benar fokus memikirkan dan beraksi supaya beliau hidup lebih sehat.

Semua makanan yang goreng-goreng dan berlemak dijauhkan.

Semua makanan yang terlalu manis-manis dieliminasi.

Kalau pergi makan sekeluarga di luar, cari yang menunya ”sehat”.

Kalau ternyata ibu bandel dan belanja makanan-makanan lagi, maka akan ada yang beraksi dan mengosongkan isi kulkas.

Selama berminggu-minggu ini ibu juga dilarang makan nasi putih.

Syukur alhamdulillah, ibu memang makin sehat. Berat badannya sudah turun sampai 10 kilogram. Tes darahnya juga luar biasa.

Banyak teman saya kini juga semakin mengadopsi gaya hidup makan sehat. Katering khusus. Masak khusus. Menghindari restoran-restoran dengan makanan berlemak.

Menghindari nasi putih. Menggantinya dengan nasi merah, atau pasta, atau yang lain, pokoknya bukan nasi putih.

Saya pun belakangan makin rajin ”makan sehat”. Selain katering, makanan yang disiapkan juga lebih ”bersih”. Dan sangat, sangat minim makan nasi putih.

Walau kadang-kadang masih tidak tahan untuk makan nasi goreng, pada dasarnya dalam seminggu belum tentu dua kali makan pakai nasi.

Kadang juga susah kalau harus traveling ke luar kota atau pulau. Rutinitas makan sehat bisa terganggu karena menu yang tersedia tidak mengizinkan.

Tapi serunya, ke mana pun pergi dan bertemu dengan orang-orang, banyak yang mengaku sedang mengadopsi hidup lebih sehat.

Caranya: Tidak lagi makan nasi.

Weleh, weleh, weleh…
Semua yang mengaku hidup sehat kok mengakunya tidak makan nasi, ya? Bahkan ke mana-mana, selalu banyak yang merekomendasikan untuk tidak makan nasi. Atau mengurangi makan nasi.

Tidak ada orang sehat yang merekomendasikan untuk semakin banyak dan semakin sering makan nasi.