KH Hasyim Muzadi Minta Dikubur Dekat Penghafal Quran
  • Dipublikasikan pada: Mar 17, 2017 Dibaca: 276 kali.

FOTO: MIFTAHULHAYAT/JAWA POS
Wakil Presiden Jusuf Kalla (kiri) saat menghadiri pemakaman KH Hasyim Muzadi di Kompleks Pondok Pesantren Al Hikam, Beji, Depok, Jawa Barat, Kamis (16/3). Mantan Ketua Umum PBNU yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden tersebut wafat pada Kamis (16/3) pagi, setelah sempat dirawat di ruang ICU Rumah sakit Lavalette, Malang.


DEPOK, SUMUTPOS.CO – Ribuan pelayat mengantar jenazah KH Achmad Hasyim Muzadi ke pusara di kompleks Pesantren Al Hikam, Depok, Kamis (16/3) petang. Mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama dua periode itu wafat pada usia 72 tahun karena sakit di RS Lavalette, Malang pagi sekitar pukul 06.15.

Setahun sebelum meninggal KH Hasyim memang berwasiat agar dimakamkan di Pesantren Al Hikam Jalan H Amat, Kukusan, Depok, Jawa Barat. Meskipun dia juga punya pesantren Al Hikam di Malang, Jatim. Bahkan, dia pun telah memilih lokasi di sebelah timur gedung Pesantren Mahasiswa Al Hikam dan Sekolah Tinggi “Kulliyatul Qur’an”. Para santri yang menghafalkan Al Qur’an menempati gedung bercat putih itu.

”Karena ingin dekat dengan santrinya itu. Harapannya karena disini ada yang hafid (hafal) 30 juz (Al Quran) beliau ingin terus mendengarkan. Pesannya itu saya kira,” ujar Abdul Hakim Hidayat, putra pertama KH Hasyim, yang ditemui disela-sela pemakaman.

Hakim menuturkan selama menjalani perawatan di Malang, KH Hasyim juga meminta para santri untuk terus membaca Al Qur’an. Sedikitnya ada 24 santri yang rutin khataman Al Quran. Enam di antara para santri itu juga ikut serta dalam satu pesawat Hercules yang membawa jenazah Hasyim dari Bandara Abdurahman Saleh, Malang ke Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta. ”Selama perjalanan terus membacakan Al Quran di dalam pesawat,” ujar Hakim yang turut dalam pesawat tersebut.

Menurut Hilmy M. Nur, santri KH Hasyim, yang juga ikut dalam pesawat suasana begitu syahdu dan khidmat. Dia pun merinding lantaran sepanjang penerbangan itu tidak henti-hentinya para santri membaca Al Quran. ”Sekiar dua jam mengaji tiada henti,” kata pria yang juga humas Masjid Al Akbar Surabaya itu saat ditemui di lokasi pemakaman.

Lebih lanjut, Hakim menuturkan, KH Hasyim memang sudah sakit sejak lama. Yang dia sebutkan pada 2004, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu diketahui menderita hepatitis. ”Nah itu mungkin berkelanjutan,” imbuh Hakim.

Peti jenazah KH Hasyim tiba di rumah duka sekitar pukul 16.20 diiringi dengan doa dan tangis haru. Jenazah yang telah dimasukan keranda langsung dibawa ke masjid Al Hikam untuk disalatkan. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Imam besar majid Istiqlal Nasarudin Umar dan ribuan jamaah lain mensalati yang diimami oleh Said Aqil Husain Al Munawar.

Almarhum KH Hasyim dimakamkan dengan upacara militer. JK menjadi inspektur upacara dan menyampaikan bela sungkawa mewakili pemerintah. KH Sholahuddin Wahid mewakili kelurga KH Hasyim menyampaikan terima kasih dan permintaan maaf. ”Beliau ini punya prinsip. Tapi bisa mengkomunikasikan dengan baik sehingga semua bisa menerima. Juga jelaskan yang rumit dengan cara sederhana,” ujar adik Gusdur yang akrab disapa Gus Sholah itu.

Pemakaman itu baru selesai sekitar pukul 17.30, dan para pelayat masih terus berdatangan ke pusara KH Hasyim untuk mendoakan dari dekat.

JK menuturkan salah satu kelebihan KH Hasyim semasa hidup adalah mau turun langsung dan mau berkunjung. Tidak hanya menunggu untuk didatangani. ”Banyak ulama khos tapi tinggal di pesantren atau menunggu. Beliau ini sebaliknya, kalau ada apa-apa beliau datangi,” kata dia di kantor Wakil Presiden siang kemarin.

Dia pernah punya kenangan khusus dengan KH Hasyim untuk memulihkan pariwisata pasca bom Bali. Di sebuah restoran saat makan siang, JK mengundang KH Hasyim dan Syafii Maarif untuk membicarakan hari libur agar masyarakat bisa berwisata. ”Bagaimana Bali itu dikembangkan lagi dengan cara ada long weekend days, merubah libur,” ujar dia. KH Hasyim pun tidak berkeberatan.

Dari pembicaraan itu terbitlan surat keputusan bersama pada 2002 itu mengatur libur nasional yang jatuh di luar hari Senin dan Jumat, liburnya di pindahkan ke Senin dan Jumat. Kecuali hari besar berhubungan ibadah, seperti Hari Idul Fitri, Idul Adha, Natal, Proklamasi Kemerdekaan RI, dan Nyepi.

loading...