MENELUSURI JEJAK LAKSAMANA CHENG HO DI NANJING (8)
Tembok Tebal Bikin Penduduk Tenang
  • Dipublikasikan pada: Jun 8, 2017 Dibaca: 276 kali.

Foto: Boy Slamet/Jawa Pos
Tembok Kota Nanjing dibangun pada Kaisar Pertama Dinasti Ming , Zhu Yuangzhan. Tembok berdiri sepanjang 21 KM. Tampak pengunjung masuk gerbang Tembok Kota Nanjing, 3 Juni 2017.


Tembok menjadi pertahanan andalan bagi Tiongkok. Bagi hampir semua dinasti yang baru sukses mengambil alih kekuasaan, tembok tinggi dan lebar menjadi prioritas untuk dibangun. Begitu juga Dinasti Ming.

Setelah berhasil merebut ibu kota Nanjing dari tangan Dinasti Yuan, kaisar pertama dinasti Ming, Zhu Yuanzhang, langsung membangun tembok di sebelah timur dan selatan. Tujuannya, menahan serangan musuh dari arah tersebut.

Sebelum ada tembok tebal itu, pertahanan alami Kota Nanjing mengandalkan Gunung Purple, Danau Xuanwu, dan Sungai Qinhuai. Nah, tembok dibangun untuk menggantikan peran ketiganya. Karena itu, Kaisar Zhu membangun tembok membentang di antara tiga tempat tersebut.

“Kaisar Zhu langsung membangun tembok dalam dan tembok luar,”  kata Zheng Zhi Hai, sekretaris komunitas peneliti Cheng Ho di Nanjing. Saking tebalnya, setiap bagian tembok memang terdiri atas dua lapis. Luar dan dalam. Total, lebarnya 7 meter dengan tinggi 12 meter.

Ya, meski ibu kota kekaisaran di Nanjing sudah berhasil direbut, tidak berarti musuh hilang. Masih banyak pengikut Dinasti Yuan yang menguasai wilayah di luar ibu kota. Termasuk Kunyang, kota kelahiran Cheng Ho, tempat sang ayah Ma Hazhi menjadi salah satu pejabatnya. Belum lagi, banyaknya suku liar yang setiap saat bisa menyerbu Nanjing.

Karena itu, sambil membersihkan sisa-sisa musuh yang tersebar di berbagai wilayah, Kaisar Zhu membangun tembok besar. Panjangnya 35 km dengan 13 gerbang. Tembok itu berdiri sendiri di Nanjing. Tidak menyambung dengan tembok raksasa yang telah dibangun dinasti-dinasti sebelumnya.

”Dari catatan yang ada, total pekerjanya mencapai 200 ribu orang,” kata Zheng Zhi Hai. Untuk pembiayaannya, lanjut dia, Kaisar Zhu Yuanzhang ”menodong” kaum Mandarin. Yakni, kaum elite yang menguasai finansial Nanjing. Mereka kebanyakan tinggal di tepian Sungai Yangtze.

Dibutuhkan lebih dari 300 juta batu bata untuk membangun tembok tersebut. Tiap batu bata mempunyai ukiran kaligrafi sendiri-sendiri. Total, ada 70 jenis karakter huruf yang ada dalam batu bata tersebut. ”Semacam tanda tangan dari siapa yang menyumbangkannya,” kata keturunan ke-19 dari kakak Cheng Ho tersebut.

Pada masa Perang Dunia II, saat Jepang menyerbu Tiongkok, beberapa bagian tembok luar hancur. Namun, setelah perang berakhir, bukannya merenovasi atau membangun kembali, pemerintah Tiongkok memutuskan untuk merawat yang masih tersisa dan kemudian mengembangkannya menjadi destinasi wisata.

loading...