MEMBANDINGKAN PROYEK PASCATAMBANG TIGA TAMBANG EMAS (2/Habis)
Newmont, Tokatindung, dan Martabe Sama-sama Komit Mandirikan Warga
  • Dipublikasikan pada: Aug 30, 2017 Dibaca: 316 kali.

Foto: Corcomm Martabe for Sumut Pos
Jurnalis dan Corcomm Tambang Emas Martabe foto bersama di pintu masuk menuju Tambang Emas Toka Tindung PT Meares Soputan Mining di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.


Rencana penutupan tambang tak hanya bicara soal mengembalikan alam ke fungsi semula, tetapi juga bicara tentang kesejahteraan masyarakat lingkar tambang. Akan bagaiman kondisi masyarakat setempat pascapenutupan tambang?
———————————–
Dame Ambarita, Minahasa
———————————–
PT Newmont Minahasa Raya di Desa Ratatotok dan Desa Buyat, Mihanasa, Sulawei Utara telah ditutup tahun 2004 lalu. Sejak awal beroperasi, perusahaan menyadari mereka tidak bisa selamanya berkarya di Ratatotok dan Buyat, Sulawesi Utara. Karena itu, mereka menciptakan kemandirian dengan melakukan persiapan jauh-jauh hari.

“Saat masih beroperasi, Newmont telah melatih SDM warga lingkar tambang menjadi tenaga mandiri, dengan memberi beragam pelatihan,” kata Environ Manager PT PTNMR, Jerry Kojansow, yang menyambut kunjungan empat jurnalis Sumut  yang datang melakukan studi banding atas undangan Tambang Emas Martabe, pertengahan minggu lalu.

Ia menjelaskan, kondisi Ratatotok dan sekitarnya saat ini, sangat berbeda sebelum Newmont beroperasi. “Sejak tambang beroperasi, semua berkembang pesat,” kata Jerry.

Saat PTNMR mengawali kegiatannya tahun 1996 lalu, Desa Ratatotok Kabupaten Minahasa Tenggara hanya memiliki 2 desa. Lima tahun kemudian, Rakatotok berkembang menjadi 15 desa, menyusul pemekaran Kecamatan Ratatotok.

Sebagai daerah pertambangan tentu menjadi magnet bagi orang-orang di segala penjuru untuk datang mengadu nasib yang kemudian menetap, menikah dan beranak pinak. Tak mengherankan jika daerah tersebut didiami beragam suku seperti Gorontalo, Sangir, Minahasa, Bugis, Jawa, dan Bolaang Mongondow. Jumlah penduduk meningkat mencapai 11.487 (data 2011).

Meningkatnya jumlah penduduk menciptakan beragam masalah sosial dan ekonomi.  Untuk mengatasi sekaligus mempersiapkan warga lebih mandiri, PTNMR pun menyiapkan berbagai program pembangunan berkelanjutan. Antara lain membangun gedung sekolah, pemberian beasiswa dari tingkat SD hingga perguruan tinggi, bahkan tenaga pendidik. PTNMR juga berperan dalam meningkatkan minat baca dengan membangun perpustakaan.

“Dulu masyarakat di sini paling tinggi mengenyam pendidikan sampai SMP, kini sudah ada yang menjadi sarjana. Dan kami juga membiayai putra-putri di sini yang ingin menjadi perawat dan bidan,” kata Jerry.

Untuk program kesehatan, PTNMR membangun puskesmas, pustu, dan posyandu. Selain itu secara intensif memberikan pengobatan gratis, pelatihan bidan kampung, pengadaan alat kesehatan dan mobil ambulans, juga peningkatan kapasitas dokter .

Foto: Net
RSUP Ratatotok–Buyat, satu–satunya RSUP Tipe C di Minahasa Tenggara, berdiri diatas lahan 3 hektar dengan dana pembangunan Rp66 miliar sumbangan PTNMR.


Selanjutnya program pengembangan ekonomi. Masyarakat Buyat dan Ratatotok sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan. PTNMR memberikan bantuan dana kepada para nelayan untuk budidaya rumput laut, bantuan mesin ketinting untuk usaha penangkapan ikan, budidaya kerapu, pengasapan ikan, usaha virgin coconut oil, hingga kucuran kredit mikro bergulir. Petani pun demikian. PTNMR memberikan bantuan traktor tangan, peralatan penggiling jagung, di samping pengembangan kapasitas untuk usaha industri rumah gula aren, dan pembuatan abon ikan.

Dengan intervensi PTNMR, ekonomi dan status social masyarakat di wilayah lingkar tambang meningkat drastis. Hal ini dibuktikan dengan hasil survey dari sejumlah lembaga termasuk Tim Peneliti Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi.

“Survey tersebut mencatat bahwa pada Tahun 1994 pengeluaran konsumsi per keluarga setiap tahun rata-rata hanya Rp 2.050.175 dengan pendapatan Rp 1,4 juta. Setelah ada Newmont meningkat menjadi Rp 7,2 juta—7,4 juta pada Tahun 2002 dengan pendapatan Rp 8,5 juta,” kata Jerry.

Seiring dengan peningkatan kesejahteraan, pengeluaran masyarakat per keluarga pada Tahun 2011 melonjak signifikan tercatat Rp 15,4 juta dengan pendapatan Rp 21.5 juta. Demikian dengan rumah permanen dari hanya 2,2 persen pada Tahun 1994 menjadi 35—57 persen Tahun 2002, lalu meningkat 69 persen pada Tahun 2011.

Foto: Dame Ambarita/SUMUTPOS.CO
Salah satu SPDN yang dibangun PTNMR untuk memenuhi kebutuhan BBM para nelayan di Desa Ratatotok dan Desa Buyat, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara.


Program lainnya yang dilaksanakan PTNMR adalah perbaikan dan pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, perumahan di Pantai Buyat, kantor desa dan balai pertemuan di tiap desa, kantor camat, RSUD, lapangan sepak bola, kantor Koramil dan Polsek Ratatotok. Kemudian pembangunan pasar, terminal, talud sungai, gorong-gorong dan saluran air, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Pelabuhan perikanan, serta SPDN untuk melayani kebutuhan bahan bakar minyak bagi para nelayan. Selain itu pembangunan instalasi dan pemipaan air bersih untuk Ratatotok dan Buyat.

Sejak penutupan tambang, PTNMR telah menyerahkan tanggungjawab keberlanjutan program pengembangan ekonomi kemasyarakatan kepada yayasan yang dibentuknya. Adalah Yayasan Minahasa Raya, Yayasan Ratatotok Buyat, dan Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Sulawesi Utara. Diharapkan melalui pembinaan yayasan tersebut masyarakat sudah bisa mandiri sebagai bentuk kesiapan dalam menghadapi pasca tambang.

loading...