Negara Butuh Naga
  • Dipublikasikan pada: Sep 13, 2017 Dibaca: 276 kali.


Oleh: AZRUL ANANDA

Berkali-kali saya tekankan, enaknya di dunia media ini, kita bisa bertemu dan belajar dari berbagai macam orang. Baru-baru ini, saya bertemu dua pebisnis dengan kelebihan ’’sixth sense’’, namun dari dua spektrum usia yang berbeda.

***
Kerja di media itu seperti belajar tanpa henti, setiap hari. Kalau kita punya kemampuan untuk menampung segala data yang masuk, kita bisa mengerti begitu banyak hal.

Kalau tidak mampu, ya tumpah-tumpah, muntah-muntah, kepala pecah, dan lain sebagainya. Wkwkwkwk…
Kita belajar mengapresiasi orang dari kalangan mana pun. Bisa mendapatkan ide dan inspirasi dari siapa pun. Sesekali, kita bertemu dengan manusia-manusia ajaib yang punya dorongan dan kemampuan untuk mengubah keadaan.

Orang-orang ini punya ciri-ciri yang sama: Superantusias. Kalau gerak supercepat. Kalau jalan supercepat. Wkwkwkwk…
Baru-baru ini, saya bertemu dengan dua di antaranya.

Yang satu sudah sangat terkenal, sangat senior, sudah banyak mewujudkan impian dan ambisi. Namun, sekarang seperti punya mimpi baru lagi, dan dengan penuh energi –seperti energi anak muda– mencurahkan segalanya untuk sebuah project baru.

Di tengah-tengah situasi ekonomi yang sedang banyak dikeluhkan ini, dia melakukan sesuatu yang masuk kategori ’’Blockbuster’’. Bahkan superblockbuster.

Banyak orang yang tidak percaya. Bahkan di tingkat menteri pun bicara kepada dia kalau mereka tidak percaya.

Tapi, orang-orang seperti ini, kalau dianggap seperti itu, biasanya justru lebih semangat lagi. Dan dia dengan begitu semangat menjelaskan mengapa apa yang dia lakukan ini harus dilakukan.

Kalau tidak begini, maka negara kita ya akan begini-begini saja. Bukan hanya negara, pebisnisnya pun akan begitu-begitu saja.

Saat makan siang, dia mengatakan mengapa dulu negara kita pernah melejit dalam banyak hal. Tapi sekarang seperti biasa-biasa saja, tidak ada hal-hal yang membuat orang kagum dan terkesima.

Dia bilang, karena dulu ’’naga-naga’’-nya masih aktif bergerak langsung. Saling mendorong, saling bergerak, dan itu memicu banyak kemajuan.

Sebagai salah satu ’’naga’’, dia merasa punya tanggung jawab untuk kembali turun.

’’Untuk melakukan hal-hal seperti ini, profesional tidak akan bisa. Mereka tidak akan berani berbuat atau mengambil risiko. Naganya harus turun.’’ Begitu kurang lebih ucapannya.

Perbincangan berlanjut, menyampaikan contoh-contoh lain yang serupa di berbagai bidang bisnis. Bagaimana kalau ’’naga’’ atau ’’suhu’’ atau ’’orang gila’’-nya tidak berbuat, maka segalanya jadi ’’biasa-biasa saja’’.

Seorang rekan lantas menyebut istilah yang tepat untuk ’’orang-orang gila’’ itu. Bahwa mereka punya ’’sixth sense’’. Tidak murni berdasar perhitungan, melainkan intuisi yang kuat.

Cerita di atas dari contoh ’’naga senior’’. Tidak lama saya bertemu dengan satu lagi orang yang tipe ajaib itu. Usianya masih awal 30-an, generasi di bawah saya, dan sekarang sudah sangat berperan mengubah kehidupan kita sehari-hari. Dan dia masih punya mimpi nantinya akan melakukan apa lagi.

loading...