Di Somaliland, Uang Tunai Makin Ditinggalkan
  • Dipublikasikan pada: Sep 19, 2017 Dibaca: 279 kali.

Foto: MATTHEW VICKERY
Somaliland memang tidak memimpin dunia dalam banyak hal, kecuali mungkin dalam transaksi nontunai.


SUMUTPOS.CO – Somaliland, sebuah republik independen di Afrika Timur, mengalami tingkat buta huruf tinggi dan ekonomi yang hancur oleh perang saudara. Tapi negara itu mungkin akan menjadi masyarakat tanpa uang tunai pertama di dunia.

Beberapa orang mengerumuni sebuah kios kaki lima di Hergeisa, Republik Somaliland. Mereka berteriak-teriak dan berdebat tentang kualitas khat – tanaman narkotik ringan yang disamakan dengan kopi dan kokain – yang dijajakan oleh si pedagang.

Para pelanggan datang dan pergi dengan cepat, mengambil berbuntal-buntal dedaunan hijau khat yang mereka nilai berkualitas cukup baik, sebelum mengetikkan nomor-nomor di ponsel mereka dan berlalu.

Tidak ada uang tunai yang dibayarkan, dan tidak ada kartu kredit. Namun para pelanggan tidak mendapatkan khat mereka secara cuma-cuma; mereka membayar via transfer, dengan bermodalkan hanya sebuah telepon genggam dan sejumlah nomor.

Somaliland memang tidak memimpin dunia dalam banyak hal, kecuali mungkin dalam transaksi nontunai.

Foto: AFP/SIMON MAINA
Satu dolar AS setara dengan 9.000 shilling Somaliland – nilai mata uang ini begitu rendah, para pelanggan berkeliling pasar dengan tumpukan uang kertas dalam tas mereka.


Negara independen itu, yang pecah dari Somalia pada 1991 tapi tetap tidak diakui komunitas internasional, sedang dalam proses untuk menjadi masyarakat nontunai pertama di dunia.

Dari kios gubuk di pinggir jalan sampai supermarket di ibu kota Hargeisa, pembayaran mobile segera menjadi standar di negara itu.

“Kebanyakan orang membayar dengan ponselnya sekarang,” kata Omar, sambil memproses suatu transaksi di ponselnya. “Ini jauh lebih mudah.”
Meski negara-negara maju dan berkembang juga tengah mewujudkan pembayaran nontunai dengan ponsel atau kartu, Somaliland punya motivasi yang unik.

Pergeseran dari uang tunai ini sebagian disebabkan oleh devaluasi shilling Somaliland. Mata uang republik yang memisahkan dirinya sendiri itu sekarang diperdagangkan dengan nilai 9.000 shilling untuk 1 USD.

Beberapa tahun yang lalu nilainya hanya setengah dari itu.

Somaliland memisahkan diri dari Somalia di tahun 1991 pada awal perang sipil yang mematikan – konflik dalam berbagai bentuk terus berlanjut sampai hari ini.

Shilling juga mengalami awal yang bergejolak. Ketika diperkenalkan pada tahun 1994, mata uang ini banyak digunakan untuk membiayai senjata dan perang melawan kelompok bersenjata di kawasan, sebelum dicetak sesuai permintaan oleh para pejabat negara demi tujuan politik.

Ini menyebabkan devaluasi mata uang yang konstan sepanjang tahun.

Dengan denominasi 500 dan 1.000 menjadi yang paling umum, sekadar membayar beberapa barang belanjaan bisa memerlukan segumpal uang kertas; sementara transaksi bernilai sedang memerlukan sebuah tas yang penuh dengan mata uang tersebut.

Sedangkan bagi para penukar uang yang mencari nafkah dengan menukar dolar AS dan euro dengan shilling di jalanan, gerobak kerap digunakan untuk memindahkan tumpukan uang dari satu jalan ke jalan berikutnya.

Tanpa bank yang diakui secara internasional, sistem perbankan formal, atau ATM, dua perusahaan swasta – Zaad yang diluncurkan pada 2009 dan yang lebih baru, e-Dahab – mengisi kekosongan dengan menciptakan ekonomi perbankan mobile.

Uang disetorkan melalui perusahaan dan disimpan dalam telepon, memungkinkan jual-beli barang dengan menggunakan nomor khusus yang dipersonalisasi.

“Untuk membeli satu benda ini dengan shilling, Anda membutuhkan satu atau dua juta!” kata Ibrahim Abdulrahman, seorang asisten berusia 18 tahun di sebuah toko perhiasan, sambil menunjuk deretan kalung emas kecil. Ia menertawakan gagasan tentang seseorang yang mencoba membeli barang dengan mata uang lokal.

“Satu orang tidak bisa membawa uang sebanyak itu – terlalu banyak. Anda butuh tas untuk membawanya,” ia melanjutkan. “Kami tak pernah menerima shilling Somaliland sekarang, hanya dolar dan mobile.”
Dari toko di Hargeisa ke pedagang kaki lima di jalanan pedesaan, uang tunai semakin dikesampingkan karena semakin banyak orang mengadopsi pendekatan nontunai.

Di negara dengan tingkat buta huruf tinggi, kesederhanaan dan fungsionalitas membantu teknologi berkembang.

Proses pembayaran hanya melibatkan pengetikan beberapa nomor diikuti kode unik untuk pedagang.

Kode-kode semacam itu ada dimana-mana, ditulis alakadarnya dengan stensil di fasad gubuk timah atau kios pasar atau, di tempat yang lebih mahal, dicetak, dilaminasi, dan ditempatkan dengan rapi di dinding interior.

Sistem ini tidak memerlukan akses internet sehingga ponsel dengan fungsi paling dasar sekalipun dapat digunakan. Pengguna memindahkan uang dari akun bank ponsel mereka ke akun lain dengan cara yang sama untuk mengisi pulsa.

“Ini keuntungan hari ini,” kata Eman Anis, seorang pedagang kaki lima berusia 50 tahun di pasar emas Hargeisa yang ramai, sambil menunjukkan penjualan lebih dari $ 2.000 (sekitar Rp27 juta) di ponselnya. Ia bercerita bahwa pembayaran melalui ponsel telah meroket, dari 5% pada dua tahun lalu menjadi lebih dari 40% sekarang.

“Pokoknya lebih mudah pakai ponsel. Nilai tukar memang jadi masalah, tapi sekarang kita bisa melakukan semuanya lewat Zaad,” kata Anis, merujuk perusahaan transaksi ponsel paling populer.

“Sekarang bahkan para pengemis pakai Zaad.”
Meski perempuan itu hanya bercanda, apa yang dikatakannya ada benarnya. Sistem pembayaran ini tak hanya membuat hidup jadi lebih mudah bagi para konsumen dan pedagang; ia juga menyokong kehidupan beberapa orang termiskin.

Foto: MATTHEW VICKERY
Di Somaliland, pedagang dan pembeli bertransaksi secara digital dengan menggunakan program ponsel sederhana yang tidak membutuhkan akses internet.


Ketika ratusan ribu orang kehilangan mata pencaharian mereka sebagai petani dan peternak akibat kekeringan mematikan yang melanda Somaliland sepanjang tahun lalu, teknologi pembayaran mobile memungkinkan warga Somaliland di daerah perkotaan untuk segera mengirim uang ke keluarga mereka yang miskin dan kelaparan di desa.

“Karena kekeringan, kami tidak punya apa-apa untuk dijual dan tidak ada uang, namun anggota keluarga mengirimkan uang untuk membantu,” kata Mahmoud Abdulsalam, seorang gembala unta yang menjadi pengungsi karena kekeringan tersebut.

“Bahkan di pedesaan kita menggunakan uang ponsel.”
Dengan laporan bahwa penggunaan sistem pembayaran mobile meningkat dari sekitar 10 sampai 20% pada tahun lalu menjadi hampir 50% tahun ini, teknologinya lantas menjadi cara yang lebih digemari untuk bertransaksi di Somaliland, sebuah negara ekonomi kecil yang komoditas ekspor terbesarnya adalah unta.

Di Somaliland, beberapa pengusaha bahkan mulai menggaji pegawai mereka melalui mobile.

Penelitian sepanjang 2016 menemukan bahwa 88% orang Somalia berusia di atas 16 tahun memiliki sedikitnya 1 kartu SIM; 81% warga yang tinggal di daerah perkotaan, dan 62% yang tinggal di daerah pedesaan menggunakan jasa keuangan mobile.

Dengan tersedianya banyak ponsel murah di benua Afrika, negara-negara lainnya seperti Ghana, Tanzania, dan Uganda pun mengalami revolusi yang serupa. Versi Kenya dari Zaad, M-Pesa, diyakini digunakan oleh sekitar setengah populasi negara tersebut.

Namun tidak semua orang senang dengan pergeseran dari uang tunai yang berjalan begitu cepat ini.

Ada gosip tentang korupsi dan kekhawatiran dari beberapa orang atas peraturan yang longgar, seiring dua perusahaan swasta yang telah menguasai sektor mobile banking terus mempunyai pengaruh tanpa pengawasan terhadap ekonomi yang sudah rapuh – ekonomi yang sangat bergantung pada ekspor ternak di tempat kekeringan biasa terjadi dan menyebabkan kematian massal hewan ternak.

Sementara layanan pembayaran mobile di negara lain menggunakan mata uang lokal, dua perusahaan terbesar di Somaliland hanya menerima transaksi dengan dolar AS.

Hal ini meningkatkan ketergantungan pada dolar di wilayah tersebut.

Penukar uang seperti Mustafa Hassan mengatakan bahwa sistem pembayaran mobile tak hanya membunuh bisnis mereka, tapi juga merupakan sistem yang korup, menyebabkan inflasi, dan menciptakan ekonomi ilegalnya sendiri.

“Kami berharap pemerintah dapat mengatur atau menghentikan ini (pembayaran mobile), karena ada banyak masalah dengan uang ponsel ini. Sistem ini (hanya) dikendalikan oleh dua perusahaan, dan mereka seakan-akan hanya mencetak uang,” kata Hassan, yang didukung para penukar uang lainnya.

“Ini menyebabkan inflasi. Semua orang yang harusnya menyimpan uang di saku mereka kini menggunakan ponsel, bahkan untuk hal-hal kecil seperti naik bus dan semua transaksi ini tidak dalam mata uang lokal, tapi dolar.”
Meski demikian, Hassan masih menggunakan sistem pembayaran mobile dengan rasa enggan.

Foto: MATTHEW VICKERY
Di Somaliland, mata uang lokal semakin tidak populer – orang beralih ke pembayaran digital dengan mata uang dolar.


Para pelanggan mengirimkan dolar langsung ke ponselnya, yang kemudian ia tukar dengan uang kertas shilling.

“Ini membuat segalanya mudah, orang bisa mengirimkan saya uang dengan cepat dan mudah,” ia mengakui.

“Masyarakat tanpa uang tunai bisa terwujud di sini – dan sedang dalam proses menuju itu. Apa artinya bagi penukar uang seperti saya, saya tidak tahu.”
Sementara para warga Somaliland terus menerima teknologi pembayaran elektronik dan dorongannya pada ekonomi, para penukar uang seperti Hassan setidaknya bisa terhibur karena masih ada beberapa orang yang tidak percaya dengan transaksi ponsel.

“Itu seperti menyimpan bank di dalam saku, bisa saja dicuri. Saya selalu menggunakan uang tunai untuk segala transaksi,” kata Abdullah, seorang pria tua yang hadir sebagai anomali di kios khat karena ia membayar dengan uang tunai.

“Saya tidak tahu apakah saya akan beralih ke mobile,” ujarnya. “Itu seperti bertanya kapan saya akan mati, siapa yang tahu!” (Matthew Vicker, BBC Future)

loading...