Tol Medan-Tebingtinggi Akan Terkoneksi Hingga ke Parapat
  • Dipublikasikan pada: Oct 9, 2017 Dibaca: 288 kali.

Foto: SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
Pengendara melintas di jalur pembangunan jalan tol Medan-Tebing Tinggi, di Deli Serdang, Selasa (13/6). Jalan tol ini akan resmi beroperasi September 2017 mendatang.


JAKARTA, SUMUTPOS.CO, – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, ruas tol Medan-Kualanamu-Tebingtinggi (61,72 km) dan Palembang- Indralaya sepanjang (22 km) siap diresmikan. Selesainya pembangunan kedua ruas tol ini menambah panjang jalan tol di Indonesia yang ditargetkan bertambah 1.800 km dalam periode 2015-2019.

Kehadiran tol itu akan meningkatkan konektivitas sehingga memperlancar distribusi dan menurunkan biaya logistik barang dan jasa. Tol itu semakin memperkuat struktur kawasan perkotaan metropolitan Medan-Binjai- Deli Serdang-Karo sebagai metropolitan terbesar ketiga di Indonesia.

Tol itu juga sekaligus menghubungkan
pusat-pusat pertumbuhan ekonomi nasional di bagian barat. Seperti kawasan industri Medan, Bandara Kualanamu, Pelabuhan Kuala Tanjung, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkae, serta akses menuju Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba, karena akan terkoneksi dengan Tol Tebing Tinggi-Pematangsiantar-Parapat.

Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR Endra S Atmawidjaja mengatakan, untuk ruas Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi peresmiannya tinggal menunggu jadwal Presiden saja. Semua sudah siap seratus persen termasuk rambu, marka jalan, dan infrastruktur pendukung jalan tol juga telah dipasang sempurna. “Rencananya tanggal 10 (Oktober). Tunggu waktu dari Presiden,” ujar Endra kepada Jawa Pos (grup Sumut Pos), kemarin.

Jalan tol tersebut terbagi menjadi tujuh seksi. Seksi 1-6 sepanjang 52,85 km terbentang dari Tanjung Morawa hingga Sei Rampah. Sementara Seksi 7 Sei Rampah-Tebing Tinggi ditargetkan rampung pada April 2018 karena masih terkendala pengadaan lahan yang melewati kawasan permukiman.

Pembangunan dilakukan melalui skema
kerja sama pemerintah dengan Badan Usaha Jalan Tol ( BUJT) yakni PT Jasamarga Kualanamu Tol (JMKT). Pemerintah memberikan dukungan berupa konstruksi Seksi 1 Simpang Tanjungmorawa-Simpang Perbarakan (7,5 Km) dan Seksi 2 Simpang Perbarakan-Kualanamu (7,05 Km) dengan
anggaran sebesar Rp1,4 triliun.

Jalan tol kedua yakni Palembang-Indralaya sepanjang 22 kilometer akan selesai dalam waktu dekat dan siap diresmikan. Tol ini akan mendukung konektivitas Asian Games 2018. “Palembang-Indralaya juga sudah sesuai jadwal pembangunannya. Terutama untuk menyambut dan mendukung pelaksanaan Asian Games XVIII yang dilaksanakan di Jakarta dan Palembang tahun depan,” kata Basuki.

Tol Palindra terdiri dari tiga seksi, yakni seksi I ruas Palembang – Pemulutan, seksi II
Pemulutan – Kota Terpadu Mandiri (KTM)
dan seksi III KTM – Simpang Indralaya.

Pembangunannya dimulai sejak 2015 oleh
PT Hutama Karya (Persero) dengan nilai
kontrak sebesar Rp2,63 triliun.

Jalan Tol Palindra merupakan bagian dari
Tol Trans Sumatera dari Lampung hingga
Aceh yang berada di sisi timur Pulau Sumatera sepanjang 2.800 Km. Tol Trans Sumatera memiliki tiga sirip untuk menghubungkan pusat kegiatan di sisi Barat dan Timur Pulau Sumatera. Yakni Palembang – Bengkulu (salah satunya adalah ruas Tol Palindra), Pekanbaru – Padang dan Medan – Parapat – Sibolga.

Pembangunan Tol Palindra menggunakan teknik konstruksi khusus karena lahan pembangunannya didominasi oleh daerah rawa bergambut. Yakni dengan teknologi Vacuum Consolidation Method (VCM) untuk mengurangi kadar air dan kadar udara dalam tanah.

Inovasi teknologi ini lebih cepat 4 bulan
dibandingkan dengan metode konvensional, yaitu sistem drainase vertikal yang dapat memakan waktu satu tahun. Tidak heran, penggunaan teknologi itu pun diapresiasi presiden Joko Widodo. ’’Ini pekerjaan besar dari Lampung sampai ke Aceh, tapi kalau kita lihat bergeraknya cepat sekali,’’ ujar Jokowi saat mengecek progres tol di Riau Juli lalu.

Kecepatan pembangunan diperlukan karena tol tersebut sudah ditunggu-tunggu masyarakat Sumatera untuk memudahkan akses transportasi. Sehingga, masyarakat jadi tidak lagi bergantung kepada jalur lintas sumatera yang di sejumlah titik acapkali rusak. (and/byu/jpg)

loading...