SECUIL KISAH PESERTA OPERASI KATARAK GRATIS KE-6 MARTABE (5)
Usia 15 Tahun Masih di Bangku Kelas 6 SLB Gara-gara Katarak
  • Dipublikasikan pada: Oct 26, 2017 Dibaca: 310 kali.

Foto: Dame/SUMUTPOS.CO
Juhari Harahap bersama ibunya Riswati, menunggu giliran diperiksa ulang pascaoperasi, saat operasi katarak gratis yang digelar Tambang Emas Martabe bekerjasama dengan ANV dan Kodam I BB di RS Tentara Psp, 25 Oktober 2017.


Seharusnya, tahun ini Juhari Harahap duduk di kelas 1 atau 2 SMA. Teman-teman sebayanya yang berusia sama-sama 15 tahun, sudah berseragam putih abu-abu. Namun katarak di matanya yang mengganggu sejak ia kelas 3 SD, membuatnya tahun ini masih berseragam putih merah.

——————————————————
Dame Ambarita, Padangsidimpuan
——————————————————
Juhari duduk menyandar ke bahu ibunya, di sela-sela pemeriksaan post operation (pemeriksaan usai operasi) di RS Tentara Padangsidimpuan, Rabu (25/10/2017). Ia mengaku sedikit pusing menunggu giliran pemeriksaan ulang. Dan ingin segera pulang ke rumahnya di Palopat Maria Hutaimbaru, Tapsel, yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit.

“Secara umur, seharusnya ia sudah duduk di kelas 1 atau 2 SMA. Tapi karena pengglihatannya terganggu katarak, saat ini ia masih duduk di bangku kelas 6 setara SD, di Sekolah Luar Biasa Padangsidimpuan,” beber ibunya, Riswati Dalimunthe (42), di sela-sela operasi katarak gratis ‘Buka Mata Lihat Indahnya Dunia” yang digelar Tambang Emas Martabe bekerjasama dengan A New Vision dan Kodam I Bukit Barisan, di Rumah Sakit TNI AD Losung Batu Padangsidimpuan mulai 22 hingga 27 Oktober 2017 besok.

Awal Juhari kena katarak ditengarai sejak kepalanya pernah terbentur tanpa sengaja, saat ia duduk di kelas 3 SD. Sejak itu, ia sering mengeluh sakit kepala dan pandangan kabur.

Oleh tetangga, Riswati disarankan meneteskan getah daun katarak ke mata anaknya.

“Eh.. sejak ditetes daun itu, pelan-pelan malah muncul lapisan putih menutupi iris kedua belah matanya. Alhasil, dua-duanya tidak bisa lagi melihat dengan normal,” kata ibunya.

Meski demikian, minat belajar anaknya tidak surut. Hanya saja ia tidak bisa lagi mengikuti kemajuan pendidikan teman-teman sekelasnya hingga beberapa kali tinggal kelas.

Oleh orangtuanya, ia pun dipindahkan dari SD biasa ke SLB. “Untungnya, SLB tidak terlalu jauh dari runah. Jadi ia tetap bisa berangkat sendiri ke dan pulang sekolah, tanpa harus tergantung pada tuntunan orang lain,” ungkap ibunya.

Juhari sendiri saat diajak ngobrol lebih banyak diam. Hanya jawaban-jawaban pendek yang bersedia ia utarakan.

Meski pandangannya rabun, anak ketiga dari enam bersaudara ini tetap aktif. Ia suka main catur. Juga suka menyanyi dan baca puisi. Bakat terpendamnya di bidang puisi bahkan pernah membawanya mengikuti perlombaan baca puisi antarsiswa SLB di Medan. Belum beruntung jadi juara, karena ada siswa dari SLB lainnya yang mungkin lebih berbakat lagi.

Foto: Dame/SUMUTPOS.CO
Juhari Harahap bersama ibunya Riswati, menunggu giliran diperiksa ulang pascaoperasi, saat operasi katarak gratis yang digelar Tambang Emas Martabe bekerjasama dengan ANV dan Kodam I BB di RS Tentara Psp, 25 Oktober 2017.


“Sebenarnya ia tidak biasanya sependiam ini. Kalau sehari-hari, ia bergaul cukup percaya diri, mau dengan anak kecil, teman sebaya, maupun orangtua, tidak ada masalah,” kata ibunya lagi.

Di sekolah, Juhari masih bisa memaksakan matanya membaca tulisan dalam buku, tetapi sulit membaca di papan tulis. Ia juga mampu menghafal dengan baik. Suka pelajaran Matematika dan Kesenian, khususnya menyanyi.

“Suka lagu Batak!” ungkapnya pendek.

Ditanya contoh lagunya, ia kembali diam.

Tapi ia bersedia menjawab siapa penyanyi favoritnya: Band Armada.

Meski menderita rabun, Juhari cukup aktif di sekolah. Sering terpilih menjadi pemimpin upacara bendera. Juga aktif di kegiatan pramuka.

Di rumah, ia juga aktif membantu orangtua. seperti mengangkat air dari sungai untuk keperluan rumah tangga, dan sebagainya.

Hanya saja, ia makin sering mengeluhkan sakit kepala yang dialaminya.

Orangtuanya belum mampu membawa anaknya operasi mata. “Saya ‘kan hanya petani sawah, bapaknya pun hanya buruh bongkar muat salak. Ya gimanalah,” kata ibunya pelan.

Karena itulah, Riswati merasa sangat senang saat mendengar ada operasi katarak gratis yang digelar Tambang Emas Martabe di RS Tentara Padangsidimpuan. Juhari pun saat diberitahu, sangat bersemangat untuk ikut operasi. Ia sama sekali tidak takut.

“Nanti ‘kan dibius, baru matanya dikorek,” sebutnya.

Jadilah ia dioperasi. Tapi saat keesokan harinya dop penutup matanya dibuka, ternyata pandangannya masih samar. Ia pun mesti diperiksa ulang lebih intensif dibanding pasien lain yang pandangannya sudah terang.

Apa kata dokter?
“Kata dokter, satu matanya rabun katarak, satu lagi syarafnya rusak dan sinar matanya terjepit. Makanya ada kemungkinan dioperasi ulang. Tergantung hasil pemeriksaan kedua inilah,” kata Riswati.

Kontan, Juhari membuka mulut. “Aku tak mau lagi operasi. Sakit!”
Ibunya mengelus kepala anaknya. “Kan mau sembuh,” bujuknya.

Juhari hanya merengut.

Kalau nanti sudah sembuh, apa yang ingin kamu lakukan Juhari?
“Mau sekolah hingga kuliah,” kali ini ia menjawab mantap.

Emang cita-citamu mau jadi apa?
“Penyanyi,” jawabnya tegas.

“Abis kuliah, tetap mau jadi penyanyi?”
Dan Juhari mengangguk tak tergoyahkan
Semoga cita-citamu tercapai, ya Nak! (*)

loading...