SECUIL KISAH PESERTA OPERASI KATARAK GRATIS KE-6 MARTABE (7)
Demam Sembuh Usai Makan Ikan Mas Panggang, tapi Kok Matanya Putih-putih?
  • Dipublikasikan pada: Oct 30, 2017 Dibaca: 370 kali.

Foto: Dame/SUMUTPOS.CO
Rinaldi Siregar acungkan jempol bersama Ratna Novianti, Superintendent Sponsorship & Event Management Tambang Emas Martabe, usai mengikuti operasi katarak gratis yang digelar Tambang Emas Martabe bekerjasama dengan ANV dan Kodam I BB di RS Tentara Psp, Kamis 25 Oktober 2017.


Di tengah masyarakat kita ada kepercayaan, jika ibu hamil ngidam sesuatu tetapi tidak dipenuhi, kelak akan memengaruhi kondisi si anak. Mitos ini juga dipercayai orangtua Rinaldi Siregar. Konon, ibu bocah 8 tahun ini pernah mengidam ikan mas panggang saat hamil, tapi tak terpenuhi. ‘Efeknya’, fisik si anak begitu lemah hingga akhirnya demam tinggi di usia 3 tahun. Begitu dikasih ikan mas panggang, demamnya hilang. Cuma ayahnya bingung, kok muncul putih-putih di mata anaknya…?
——————————————————-
Dame Ambarita, Padangsidimpuan
——————————————————-
Bocah itu duduk di kursi depan, menunggu seorang pejabat yang berjanji mau datang menyapa para pasien, di hari kelima operasi katarak gratis ‘Buka Mata Lihat Indahnya Dunia” yang digelar Tambang Emas Martabe bekerjasama dengan A New Vision dan Kodam I Bukit Barisan, di Rumah Sakit TNI AD Losung Batu Padangsidimpuan, Kamis (26/10/2017).

Sebenarnya Rinaldi Siregar sudah boleh pulang ke rumahnya di Tano Bato, Padang Lawas, Sumut, pascaoperasi hari Selasa. Tapi sebagai peserta operasi yang tergolong masih sangat muda, ia diplot untuk menyalam si pejabat tadi… yang ternyata batal datang. Hiks…

Saat diajak ngobrol, ia menatap tanpa ekspresi. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ayahnya, Ullus Siregar (28), yang akhirnya berbicara mewakili si anak.

“Saat ibunya Ilma boru Lubis hamil dia, ibunya markagiot (ngidam, Red) makan ikan mas panggang. Tapi tidak kesampaian. Saat Rinaldi lahir hingga usianya tiga tahun, tak ada dagingnya. Kurus dia dan tak bisa berjalan,” kata Ullus, yang sehari-hari mencari nafkah dengan menderes pohon karet milik orangtuanya.

Hingga suatu hari di usianya yang ketiga tahun, Rinaldi mengalami demam tinggi. Atas saran tetangga dan sanak saudara,  orangtuanya membawa anak kedua dari 4 bersaudara itu berobat ke dukun kampung.

Si dukun lantas berteori: anakmu demam karena ibunya ngidam sesuatu saat hamil, tapi tidak kesampaian!
Teori disambut. Ibu Rinaldi mengakui, dirinya memang pernah mengidam makan ikan mas panggang saat hamil. Tapi ikan yang diidamkan tak kunjung datang.

Tentu saja si dukun berkata, demamnya bisa sembuh jika si Rinaldi cilik diberi makan ikan panggang.

Okelah. Demi si buah hati, sang ibu dengan penuh cinta menyiapkan ikan mas panggang. “Kami beli satu ekor beratnya 1 kg. Semua dimakan Rinaldi sendirian,” kenang Ullus.

Foto: Dame/SUMUTPOS.CO
Rinaldi Siregar bersama ayahnya Ullus Siregar, menunggu kedatangan seorang pejabat usai mengikuti operasi katarak gratis yang digelar Tambang Emas Martabe bekerjasama dengan ANV dan Kodam I BB di RS Tentara Psp, Kamis 25 Oktober 2017.


Usai menghabiskan satu ekor ikan mas panggang sebagai lauk makan selama beberapa hari, uniknya Rinaldi benaran sembuh dari demam. Bahkan tenaganya juga terlihat bertambah. “Fisiknya lebih berisi. Dan ia juga bisa berjalan,” ucap si ayah.

Cuma, ada tapinya… setelah demam berlalu dan si anak terlihat lebih sehat, beberapa hari kemudian terlihat ada bintik putih di mata Rinaldi. Ia sulit melihat jelas. Padahal sebelum makan ikan mas, penglihatannya menurut si ayah, baik-baik saja.

“Kami bawa dia ke puskesmas, juga ke rumah sakit umum Madina, dan ke RS di Padangsidimpuan. Semua mengatakan, bintik putih itu katarak. Tapi mereka bilang Rinaldi belum bisa dioperasi karena masih kecil,” ungkapnya.

Waktu terus berlalu tanpa pengobatan apapun, hingga Rinaldi memasuki usia sekolah. Meski kedua bola matanya kabur melihat, Rinaldi ngotot masuk sekolah dasar. Beruntung ayahnya mendukung, sehingga siap mengantar Rinaldi setiap pagi ke sekolah.

“Kalau pulangnya, ia dijaga dan didampingi kakaknya,” kata Ullus.

Sayangnya, meski sudah duduk di kelas dua SD di Tabo Bato, Rinaldi belum bisa membaca. Katarak di matanya menyulitkan dirinya mengikuti pelajaran di sekolah. Begitupun, ia sudah bisa berhitung hingga angka 10.

Karena itulah, ayahnya tanpa ragu-ragu langsung mendaftarkan anaknya ikut operasi katarak gratis yang digelar Tambang Emas Martabe, usai mendapat informasi dari bapak-bapak Babinsa yang turun ke desa-desa.

“Baru tahun ini dapat info. Operasi tahun-tahun sebelumnya kami tidak pernah tau. Rinaldi pun langsung mau ikut saat dibilang mau operasi matanya,” kata sang ayah, sembari menatap anaknya dengan lembut.

Saat mau dioperasi, Rinaldi sempat menangis. Ia ketakutan melihat pasien-pasien lain tertatih-tatih keluar dari ruang operasi di atas kursi roda, bahkan ada yang duduk di atas kursi roda, dengan bola mata ditutupi plastik biru.

Ia menolak masuk ruang operasi.

“Setelah kujanjikan akan dibelikan sepeda, barulah dia mau masuk,” senyum bapaknya.

Betul lo Pak, sepedanya dibelikan setelah pulang ke kampung. Jangan janji manis karena mau operasi saja. Nggak baik untuk kepercayaan si anak.

“Pastilah… akan saya belikan,” janji bapaknya, yang mengaku hatinya dipenuhi semangat baru setelah katarak di mata anaknya sukses dioperasi.

Ia berjanji, akan berupaya sekuat mungkin menyekolahkan si anak, apapun bidang minatnya.

Sipplah…  (*)

loading...