Jumlah Pengangguran Bertambah
  • Dipublikasikan pada: Nov 8, 2017 Dibaca: 284 kali.

Para pencari kerja antre untuk mencari informasi berbagai lowongan pekerjaan yang ditawarkan pada Job Fair dan Career Expo 2017 Sekolah Vokasi UGM, di Grha Sabha Pramana UGM, Jogjakarta, Selasa (7/11). Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,04 juta orang dengan tingkat 5,50 persen pada Agustus 2017. Angka pengangguran tertinggi ada di Maluku sebesar 9,29 persen, dan paling sedikit terdapat di Bali sebesar 1,48 persen. foto : Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja


JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penganggur di Indonesia pada Agustus 2017 menjadi 7,04 juta orang.

Angka itu naik sepuluh ribu orang jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu.

Hal itu tak lepas dari peningkatan jumlah angkatan kerja yang tidak disertai lapangan pekerjaan yang memadai.

Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan, jumlah penganggur pada Agustus 2016 mencapai 7,03 juta orang.

Pada Februari 2017, ada 7,01 juta penganggur. Namun, dilihat dari tingkat pengangguran terbuka (TPT), pada Agustus ini terjadi penurunan 0,11 poin (percentage point) menjadi 5,50 persen.

TPT pada Agustus 2016 sebesar 5,61 persen. Sementara itu, TPT pada Februari 2017 sebesar 5,33 persen.

Jumlah angkatan kerja yang masuk mencapai tiga juta orang per tahun.

’’Jadi, komposisi pekerja dan penganggurannya akan terus naik seiring jumlah penduduk. Tapi, yang penting persentase TPT-nya turun,’’ paparnya, Senin (6/11).

Suhariyanto mengungkapkan, jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Agustus 2017 sebanyak 128,06 juta orang.

Jumlah itu naik 2,62 juta bila dibandingkan dengan realisasi Agustus 2016 yang sebanyak 125,44 juta orang.

Untuk Februari 2017, terdapat 131,55 juta orang yang masuk angkatan kerja.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Sosial BPS M. Sairi Hasbullah menuturkan, kenaikan jumlah penganggur disebabkan beberapa faktor.

Pertama, suplai tenaga kerja dari yang baru lulus. Kedua, daya serap di sektor konstruksi yang stagnan.

’’Sebetulnya daya serap industri manufaktur dan perdagangan meningkat. Tapi, ada semacam perlambatan daya serap di sektor konstruksi yang stagnan,’’ tutur Sairi.

Menurut Sairi, ada beberapa pembangunan infrastruktur yang sudah rampung sehingga pekerjaan mereka telah tuntas.

Karena ada jeda waktu dengan proyek pembangunan infrastruktur selanjutnya, untuk sementara mereka tidak bekerja. Namun, mereka tetap mencari pekerjaan.

Faktor lain adalah terkait dengan peralihan penurunan tenaga kerja di sektor pertanian.

’’Sebagian besar mungkin masih mencari pekerjaan yang pas sehingga untuk sementara menganggur,’’ ujarnya. (jpnn/ram)
 

loading...