Munas X KAHMI di Tengah Pusaran Pragmatisme Politik
  • Dipublikasikan pada: Nov 17, 2017 Dibaca: 309 kali.

N Syamsuddin C Haesy


Oleh: N Syamsuddin C Haesy
Korps Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) yang sudah menapaki usia lebih dari separuh abad (51 tahun) adalah wadah berhimpun alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berkomitmen mewujudkan Insan Cita sebagai  prinsip dasar dalam tujuan HMI.

MAKNANYA, KAHMI merupakan wadah untuk menghimpun kaum intelektual (insan akademis), kreatif (pencipta), yang ikhlas mengabdi bagi agama – nusa – bangsa (pengabdi) – keindonesiaan dan keislaman, wadah intelektual Muslim (bernafaskan Islam), insan yang bertanggungjawab kebangsaan (mewujudkan negara adil makmur yang diridhoi Allah SWT).

Selama 51 tahun berkiprah, KAHMI peran memainkan peran strategis dalam dinamika politik kebangsaan dan politik kenegaraan, sebagai sumber kader bagi penyelenggaraan negara (baik di eksekutif, legislatif, yudikatif), tak terkecuali di kalangan pendidikan tinggi dan eksekutif profesional (Badan Usaha Milik Negara dan swasta), serta kalangan profesi lainnya di berbagai lapangan kehidupan (sosial, ekonomi, dan budaya).

Pada masanya, komunitas alumni HMI yang (secara otomatis) merupakan anggota KAHMI, dikenal sebagai kader tangguh yang egaliter, visioner, dan mumpuni dalam mewujudkan tanggungjawab profesionalnya masing-masing. Apa yang pernah diangankan oleh pahlawan nasional Lafran Pane (pendiri HMI) dan kawan-kawan, nyaris mewujud sempurna dalam praktik kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Sejumlah alumni, penggerak KAHMI menunjukkan pesona persona luar biasa sebagai kader profesional bersikap modern dan mampu menjadi energi besar, bahkan hampir di seluruh partai politik. Harmoni keislaman dan keindonesiaan, serta independensi yang ditanamkan sejak masa menjadi anggota HMI, memungkinkan KAHMI menjadi sumberdaya sekaligus penggerak (energizer) perubahan. Khasnya dalam konteks proses perubahan politik dan penyelenggaraan negara.

Belakangan peran itu melemah. Meski tak semuanya kehilangan idelisme untuk berkomitmen pada prinsip dasar Insan Cita, banyak alumni HMI – termasuk pengurus KAHMI yang tak berdaya menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar, bahkan menjadi bagian pelaku kemunkaran itu sendiri. Peran besar sebagai bagian dari pemberi solusi atas berbagai persoalan bangsa, pun surut, karena tak sedikit anggota (dan bahkan pengurus KAHMI) yang menjadi bagian dari masalah bangsa itu sendiri.

Zaman bergerak dan berubah. Di lingkungan KAHMI pun terjadi perubahan degradatif yang menyesakkan nafas. Anggota KAHMI yang semula merupakan energizer dan kader berkualitas prima (dalam konteks leadership) dan ‘pertarung tangguh’ di ‘luar kandang,’ – terutama di lingkungan partai-partai politik – nyaris kehilangan daya. Di seluruh partai politik, anggota KAHMI tak memainkan peran besar sebagai pemimpin yang menentukan integritas dan arah partai sebagaimana dikehendaki rakyat. Meski secara kuantitatif berjumlah besar, keberadaan mereka laksana buih diayun gelombang.

Ketika gelombang besar pragmatisme politik dan politik transaksional (lewat money politic yang bebal dan membebalkan) partai politik mendegradasi kepemimpinan dalam pemerintahan dan penyelenggaraan negara, KAHMI dan begitu banyak anggotanya tak berkutik.  Terutama, karena mereka tak lagi memainkan peran strategis sebagai penentu, khasnya di lingkungan partai dan lembaga politik lainnya.

Akibatnya, KAHMI laksana paguyuban para legiun aktivis yang lebih sibuk sebagai event organizer dengan agenda rutin: dies natalis, buka puasa bersama, halal bil halal, bakti sosial, diskusi – seminar – simposium – lokakarya, dan fund rising. KAHMI abai memainkan peran sebagai institusi yang pantas dan patut melakukan assesment atas kader pemimpin partai, penyelenggara negara dan pemerintahan.

loading...