Munas X KAHMI di Tengah Pusaran Pragmatisme Politik
  • Dipublikasikan pada: Nov 17, 2017 Dibaca: 278 kali.

Anggota KAHMI yang berada di lingkungan partai dan lembaga politik lainnya, tidak lagi menjadi menjadi ideolog dan penentu arah, sebaliknya justru menjadi kepanjangan tangan partai dan lembaga politik di lingkungan domestik. Secara organisasi, KAHMI pun nyaris kehilangan daya di tengah dinamika kebangsaan dan keumatan, karena lebih banyak memainkan peran sebagai mustami’ (observer) dan penumpang.

Peran strategis KAHMI telah berpindah ke ormas-ormas lain yang banyak bertumbuh sejak era Reformasi dan menentukan tune demokrasi. Sebagian besar anggota KAHMI di berbagai partai dan institusi politik, selalu menggelorakan hasrat dan ‘pulang kandang’ – karena kalah berkompetisi di ‘luar kandang’ –  kemudian berpolitik di ajang domestik.

Hal itu nampak setiap kali akan berlangsung Musyawarah Nasional (Munas) KAHMI yang sesungguhnya merupakan ajang evaluasi dan pembaruan komitmen untuk tetap tegak di atas pondasi trilogi : keislaman, keindonesaan dan keilmuan (yang menyatu di dalam independensi). Ironisnya, dalam konteks ‘bertarung di dalam kandang’ sendiri, beberapa di antara mereka – kepanjangan tangan parpol dan invisible hand kekuatan politik di luar, membawa serta pragmatisme dan transactional politic.

Mampukah Munas X KAHMI (di Medan, 17-19 Nopember 2017) dapat menghambat arus bebal politik praktis semacam itu? Mampukah peserta Munas X KAHMI berteguh sikap dan integritas untuk mengembalikan peran strategis KAHMI ke depan?
Jawabnya adalah mampu! Sepanjang seluruh peserta Munas X KAHMI mempunyai integritas yang teguh, jeli dan kritis. Khasnya dalam memilih Presidium KAHMI yang telah diseleksi oleh Panitia Seleksi yang dibentuk Majelis Nasional KAHMI. Caranya? Tolak politik transaksional, khususnya money politic – politik uang — apapun bentuknya!
Jika praktik money politic – bahasa pasarnya: jual beli suara – terjadi dalam pemilihan Presidium Majelis Nasional di dalam MUNAS X KAHMI, hal itu sama maknanya dengan penghancuran benteng moral kaum muslim terdidik. Siapapun pelakunya, sedang menghancurkan institusi dan eksistensi KAHMI. Tindakan money politic, mengotori misi mulia pahlawan nasional – pendiri HMI, Prof. Drs. Lafran Pane.

Kita yakin, jika saja terjadi praktik buruk semacam itu di MUNAS X KAHMI, dan Pak Lafran Pane masih hidup, pasti beliau malu, dan akan melangkah ke Istana Negara, untuk mengembalikan gelar Pahlawan Nasional yang dianugerahkan kepadanya. Karena perbuatan money politic, sungguh nyata meluluh lantakkan tujuan pendirian HMI pada 5 Februari 1947.

Kemudian, seluruh peserta MUNAS X KAHMI, wajib menolak siapa saja kandidat Presidium Majelis Nasional KAHMI yang terindikasi akan bermasalah dengan persoalan hukum, terutama korupsi! Lalu, pilih kandidat yang fresh (muda dalam usia, visioner dan tegas cerdas berpolitik) dan masih fresh (humble dan tangkas dalam berpolitik) dalam formasi yang merepresentasikan daya modal insan KAHMI (yang sekaligus mencerminkan gender mainstrem): negarawan – politisi, akademisi, ilmuwan, eksekutif profesional, entrepreneur, agamawan, budayawan, dan jurnalis).

Buang sejak awal siapa saja yang diproyeksi bakal menjadi noktah dan menyandera KAHMI ke depan. Selamat berjuang di Munas X KAHMI. Ikutilah jalan keselamatan !
(Penulis adalah Wartawan Senior, Alumni HMI, dan Budayawan)

loading...