SEMUANYA MENJADI RUMIT GARA-GARA EKONOMI SULIT
Kemesraan Berubah Kebencian
  • Dipublikasikan pada: Dec 9, 2017 Dibaca: 276 kali.


SUMUTPOS.CO – Kebahagiaan Tongat dan Butet membina mahligai rumah tangga tak berjalan mulus. Kesulitan ekonomi membuat mereka tidak lagi bisa memamerkan kemesraan.

Padahal, saat masih berpacaran, mereka sering mengumbar kemesraan di depan umum. Ikatan cinta itulah yang membuat mereka akhirnya memutuskan menikah.

Setelah berumah tangga, mereka masih bisa menikmati kebahagiaan. Apalagi, mereka juga dikaruniai anak laki-laki yang sangat lucu.

Namun, hidup tak selamanya enak. Badai kesulitan ekonomi melanda. Dari situlah percik-percik pertengkaran muncul. Sesuai pepatah, lelaki diuji dengan kekayaan, sedangkan wanita diuji dengan kemiskinan.

Butet yang biasanya hidup enak mulai merasa segalanya menjadi sulit. Dia tidak bisa lagi bersosialita ria dengan geng ibu-ibu muda yang biasa dia ikuti.

Singkat cerita, keduanya pun pisah ranjang. Tongat memilih pulang ke rumah orang tuanya. Setelah setengah tahun pisah ranjang, dia datang ke rumah Butet.

Dia berniat mengunjungi anaknya untuk menumpahkan rasa kangennya. Namun, ketika Tongat ingin menggendong, anaknya yang sudah berumur empat tahun itu menolak.

Bocah itu seakan dia lupa bahwa Tongat adalah bapak kandungnya.

Tongat yang memang temperamen akhirnya marah dan mengamuk. ”Aku ini yang bikin ibumu ngelahirin kamu,” ujar Tongat beberapa waktu lalu.

Dia yang kadung geram menendang dahi dan lengan anaknya. BUtet yang tak terima langsung melaporkan Tongat ke polisi hari itu juga. ”Aku yang melahirkan, aku juga yang merawatnya,” kata Butet.(jpnn)

loading...