Pulang dari Sulawesi, Suliono Berubah
  • Dipublikasikan pada: Feb 12, 2018 Dibaca: 277 kali.

Kerabat menenangkan Mistaji (kiri), ayah Suliono, di rumahnya dii Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. JAWA POS RADAR BANYUWANGI


SUMUTPOS.CO – Suliono sebenarnya berasal dari keluarga sederhana yang toleran. Di Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, tempat lahir Suliono, ada masjid, pura, dan gereja yang lokasinya berdekatan. Lingkungan di sana sangat menghormati perbedaan.

Orang tua Suliono, Mistaji, 57, dan Edi Susiyah, 53, menceritakan bahwa anaknya mulai berubah setelah merantau ke Sulawesi mengikuti kakaknya. Dia adalah anak ketiga di antara empat bersaudara. Kakak pertamanya, Totok Atmojo, 30, kini tinggal di Papua. Kakak keduanya, Moh. Sarkoni, 29, merantau ke Sulawesi. Sedangkan adiknya sedang nyantri di salah satu pesantren di Kecamatan Genteng, Banyuwangi.

Didampingi Forpimka Pesanggaran yang kemarin datang ke rumahnya yang sederhana, Mistaji menceritakan bahwa Suliono sebenarnya adalah anak pendiam. Tidak pernah neko-neko. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMPN 1 Pesanggaran, Suliono sempat nyantri di Pondok Pesantren Ibnu Sina. Pesantren itu binaan Ketua PC NU Banyuwangi KH Masykur Ali. ”Di Pak Masykur hanya enam bulan,” ujar Mistaji.

Setelah dari Pesantren Ibnu Sina, Suliono pindah ke rumah kakaknya, Sarkoni, di Sulawesi. Tepatnya di Desa Lantula Jaya, Kecamatan Witaponda, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Namun, di lingkungan Sarkoni yang merupakan basis NU, Suliono tidak kerasan. Dia merasa tidak cocok dengan tradisi NU yang dijalankan warga di sekitar rumah Sarkoni. ”Dia (Suliono, Red) lalu pindah ke Palu. Pengaruhnya ya di Sulawesi itu,” kata Mistaji.

loading...