Stephen Hawking Meninggal Dunia
  • Dipublikasikan pada: Mar 15, 2018 Dibaca: 278 kali.

Foto: Istimewa
FISIKAWAN KONDANG: Ahli fisika teoretis, Stephen Hawking, menghembuskan napas terakhirnya dalam usia 76, di kediamannya di Cambridge, Rabu (14/3) dini hari. Penulis buku A Brief History of Time kondang karena dianggap telah menyempurnakan teori lubang hitam atau black hole di alam semesta. Kecepatan cahaya pun tak mampu menghadapi tarikan lubang hitam. Ia juga terkenal dengan Theory of Everything menyatakan, mengetahui akhir alam semesta berarti memahami pikiran Tuhan. Ia juga menganggap kehidupan di planet lain bukanlah konsep asing. Menurutnya, menganggap adanya kehidupan cerdas di luar Bumi merupakan hal rasional.


SUMUTPOS.CO –  Seorang ahli fisika teoretis, Stephen Hawking mengembuskan napas terakhirnya di kediamannya di Cambridge dini hari (14/3). Pihak keluarga masih meminta waktu privasi atas kepergian Hawking. Ketiga anaknya, Lucy, Robert, dan Tim merasa terpukul atas kepergian ayah mereka.

Mereka mengatakan, ayahnya adalah ilmuan hebat dan lelaki luar biasa yang bekerja keras selama bertahun-tahun. Keberanian dan ketekunan serta selera humornya telah menginspirasi orang-orang di seluruh dunia.

Kemudian mereka menambahkan, ayahnya pernah berkata bahwa alam semesta tidak akan ada jika tidak ada rumah untuk orang yang dicintai. “Kami akan merindukannya selamanya.”
University of Cambridge akan membuka sebuah buku bentuk belasungkawa di Gonville dan Caius College bagi mereka yang ingin memberikan penghormatan selama hidupnya. Seperti dilansir ABC News, Rabu (14/3).

Profesor Hawking telah berusaha menguraikan beberapa pertanyaan paling rumit semasa ia bekerja di bawah bayang-bayang mati muda. Pada 1963, ia didiagnosis menderita penyakit motor neuron dan diprediksi hidup selama dua tahun.

Hawking kemudian menjadi seorang peneliti di University of Cambridge dan rekan Profesor di Gonville dan Caius College. Ia menjadi Profesor Lucasian di universitas tersebut sejak 1979 hingga 2009. Posisi sebelumnya dipegang Isaac Newton pada 1663.

Dirinya dijuluki fisikawan teoritis paling brilian setelah Albert Einstein. Karyanya berasal dari asal-usul alam semesta itu sendiri, melalui prospek perjalanan waktu melalui lubang hitam misterius.

Namun, kekuatan kecerdasannya tidak seimbang dengan kesehatan tubuhnya. Hawking terkena penyakit saraf motorik sejak usia 21 tahun.

Dari sekian banyak pandangan Stephen Hawking, salah satu yang menjadi perhatian banyak orang adalah soal alien. Fisikawan dan ahli kosmologi itu sempat mengungkapkan asumsinya soal kehidupan ekstraterestrial yang menurutnya memang ada.

“Menurut otak matematisku, angka menunjukan bahwa keberadaan alien sangatlah rasional. Tantangan terbesar adalah memperkirakan seperti apakah alien itu,” kata Stephen Hawking pada 2010, sebagaimana dilansir The Times.

Pria asal Inggris itu yakin bahwa alien tidak hanya ada di planet-planet, tapi juga di tempat lain. Contohnya, di bintang atau mengapung di angkasa luas.

Tidak hanya itu, Stephen Hawking juga berasumsi bahwa beberapa spesies alien memiliki peradaban yang maju dan dapat mengancam bumi. Menurutnya, hubungan dengan spesies seperti itu dapat membahayakan seluruh umat manusia.

“Jika alien mengunjungi kita, hasilnya akan sama seperti ketika Columbus mendarat di Amerika, yang tidak berakhir baik bagi penduduk asli Amerika,” jelasnya.

Duka setelah muncul kabar meninggalnya fisikawan dunia Stephen Hawking juga dirasakan peneliti LIPI. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI yang juga peneliti fisika Laksana Tri Handoko mengatakan, kabar meninggalnya Hawking jelas menjadi kehilangan bagi komunitas ilmuan.

’’Termasuk komunitas ilmuan kita di LIPI,’’ katanya usai peluncuran Indonesia Science Expo (ISE) 2018 di kantor LIPI kemarin (14/3).

Handoko menjelaskan Hawking adalah sosok yang unik. ’’Kalau orang hebat banyak,’’ katanya.

Tetapi jika orang hebat sekaligus penyandang disabilitas yang agak parah menurutnya jarang terjadi. Secara keilmuan Handoko tidak meragukan kapasitas seorang Hawking.

Meskipun mendalami fisika, Handoko mengatakan riset yang dia tekuni topiknya tidak terjalu jauh dengan topik riset Hawking. Meskipun begitu juga tidak berarti sama persis.

Dia mencontohkan risetnya yang hampir sama dengan bidang Hawking adalah soal kosmologi secara umum. Menurut Handoko masalah komologi sampai sekarang menjadi topik riset yang hot.

’’Karena banyak misteri yang belum terpecahkan,’’ jelasnya.

Peneliti Pusat Penelitian Informatika LIPI Suharyo Sumowidagdo menceritakan, tahun pertama kuliah fisika di Universitas Indonesia, dirinya langsung kepincut dengan buku karya Stephen Hawking yang berjudul A Brief History Of Time.

Pada saat itu, Haryo mengatakan, baru pertama keluarga buku tersebut dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia dengan judul Riwayat Sang Kala.

’’Buku itu salah satu inspirasi saya. Buku yang mengenalkan dengan fisika dan membuat semakin cinta fisika,’’ katanya.

Pada masa itu, Haryo mengatakan, akses informasi tidak seberagam sekarang. Sehingga buku karya Stephen Hawking tersebut menjadi salah satu sumber belajarnya.(ded/ce1/jpc/wan/ala)

loading...