Rupiah Babak Belur
  • Dipublikasikan pada: May 12, 2018 Dibaca: 276 kali.

Rupiah melemah terhadap Dolar Amerika.


JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, Rupiah pada perdagangan hari ini berada di kurs tengah Rp14.074 atau terdepresiasi 38 poin dari perdagangan sebelumnya Rp14.036. Rupiah diperdagangkan di kisaran Rp14.144 (kurs jual) dan Rp14.004 (kurs beli).

Kondisi ini terus terjadi awal Maret 2018. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan sebetulnya kondisi melemahnya Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat normal saja. Sebab, seluruh transaksi valas di negara lain juga mengalami hal yang sama.

Apabila kondisi ini terus terjadi berlarut-larut, kata Darmin, Bank Indonesia tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan kurs terus melemah atau menaikkan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate.

“Tekanan itu membuat kita sebenarnya tinggal memilih biarkan kursnya melemah atau suku bunganya dinaikkan,” ujar Menko Darmin ditemui di Rokan Hilir, Riau, Rabu (9/5).

Dia melanjutkan Bank Indonesia juga sudah mengantisipasi mengenai rencana kenaikan suku bunga. Namun, hal itu baru akan diputuskan saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan setiap tanggal 16 atau 17. Sehingga, Bank Indonesia belum dapat menaikkan suku bunganya.

Kendati begitu, Darmin menekankan meski BI belum menaikkan suku bunga acuannya dan nilai rupiah telah menembus batas psikologis pasar yang sudah mencapai Rp14.000 per USD, kondisi ekonomi dalam negeri tidak masalah.

“Walaupun begitu jangan kemudian dibawa-bawa kalau Rupiah Rp 14.000 masalah. Enggak masalah,” tuturnya.

Bank Indonesia menegaskan tengah menyiapkan langkah-langkah terukur guna meredam berlanjutnya depresiasi nilai tukar rupiah.

“Di tengah meningkatnya tantangan global saat ini, Bank Indonesia tengah dan akan mengambil langkah-langkah yang tegas untuk memastikan terciptanya stabilitas perekonomian,” Kata Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, lewat keterangan resminya, Jumat (11/5).

Tantangan global terutama siklus peningkatan suku bunga di Amerika Serikat, meningkatnya harga minyak dunia, serta menguatnya risiko geopolitik sebagai akibat meningkatnya tensi sengketa dagang AS-Tiongkok. Selain itu, pembatalan kesepakatan nuklir AS-Iran, turut mendorong menguatnya dollar AS terhadap seluruh mata uang dunia, termasuk rupiah.

loading...