DEBAT KANDIDAT PILGUBSU TAHAP II
Paslon Dianggap Kurang Paham Sejarah
  • Dipublikasikan pada: May 14, 2018 Dibaca: 293 kali.

Foto: Sutan Siregar/Sumut Pos
Pasangan Eramas dan Djoss sebelum debat kandidat Pilgubsu, Sabtu (12/5) lalu.


MEDAN, SUMUTPOS.CO  – Debat kandidat putaran kedua pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut 2018 sukses digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut, di Hotel Adi Mulia Medan, Sabtu (15/5) malam. Suasana debat terbuka itu dinilai lebih atraktif dan dinamis dibanding putaran debat pertama pada dua pekan yang lalu.

Meski begitu, menurut pandangan salah satu tim perumus, kedua paslon justru dianggap belum paham akan sejarah warisan Sumut. “Pertanyaan pertama soal warisan sejarah itu dari saya. Kedua calon saya lihat masih kurang pemahamannya tentang warisan sejarah. Karena pertanyaan saya tadi, pertanyaan yang disusun tim panelis, apa yang akan dilakukan oleh kedua paslon dalam mengelola dan memanfaatkan warisan sejarah dan kebudayaan,” kata Phil Ichwan Azhari, salah satu perumus kepada wartawan usai acara debat.

Ia menilai pernyataannya belum dijawab dengan baik dan belum sesuai mengenai pembuktian, khususnya mengenai pembuktian yang akan dilakukan kedua paslon. Bahkan akademisi Universitas Negeri Medan ini menyebut, banyak warisan sejarah di Sumut, salah satunya letusan Gunung Toba 70 ribu tahun lalu.

“Itu warisan sejarah, bukan warisan sejarah politik, bukan sejarah manusia semata. Itu potensi yang saya kira kalau mereka bisa mengambil itu, letusan Gunung Toba 70.000 tahun lalu itu aset luar biasa di Sumut. Sayangnya jawaban mereka masih normatif,” ujarnya.

Selain situs Portibi, Ichwan mengatakan ada situs yang tidak kalah penting yakni situs di Barus dan Situs Kota Cina.

“Tiga situs itu kalau dikelola dengan baik bisa menjadi aset penting yang bisa mendatangkan jutaan orang ke Sumut. Malaysia cerdik di situ, mereka mengambil gondang kita untuk mengembangkan kebudayaannya. Kemudian rumah adat, tenun, songket, itu yang saya maksud tadi, bagaimana mereka mengelolanya. Sayangnya jawaban mereka masih normatif,” kata dia.

loading...