Serangan Polda Riau Dipimpin Pak Ngah
  • Dipublikasikan pada: May 18, 2018 Dibaca: 292 kali.

Polda Riau diserang terduga teroris pagi ini, Rabu (16/5/2018). Mereka melukai polisi dengan samurai. Empat terduga teroris ditembak mati.


PEKANBARU, SUMUTPOS.CO – Empat terduga teroris yang menyerang Mapolda Riau, Rabu (16/5/2018) pagi kemarin, tewas dilumpuhkan petugas. Satu di antara mereka, disebut sebagai pimpinan penyerangan, sekaligus pemimpin suatu kelompok suatu jaringan radikal.

Pria yang dimaksud adalah Mur Salim alias Pak Ngah (48) warga Kota Dumai. Sementara tiga lainnya adalah Adi Sugiyanto (26) warga Jalan Raya Dumai Sei Pakning, Suwardi (29) warga Kel. Gaung, Sungai Sembilan; serta Pogang (45), warga Kel. Bukit Timah.

“Pak Ngah disebutkan sebagai pimpinan,” ungkap Kabid Humas Polda Riau, AKBP Sunarto, Kamis (17/5/2018) petang.

Namun saat ditanyakan Pak Ngah pimpinan dari kelompok mana, Narto masih enggan untuk mengungkapkannya secara pasti. “Pimpinan kelompok mana masih pendalaman anggota, tapi ini terdeteksi dari kelompok pemanah,” katanya.

Sementara itu, pascapenyerangan yang terjadi di Mapolda Riau, tim gabungan langsung melakukan penggeledahan di beberapa lokasi di Kota Dumai, yang diduga sebagai kediaman dari para terduga teroris yang tewas.

Dalam penggeledahan itu, personel dibagi dalam tiga tim. Tim pertama, melakukan penggeledahan di rumah Mur Salim atau Pak Ngah.

“Tim kedua melakukan penggeledahan di rumah Suwardi yang tewas kemarin dan tim ketiga melakukan penggalian di jaringan Mur Salim atau Pak Ngah,” bebernya.

Hasilnya, delapan orang pun diamankan. Di antaranya yakni Harmidi (HAR) yang merupakan kakak Suwardi dan ibunya Nilam (NI). Lalu, Aan Santoso (AS), Dede Supriadi (DS), Syafrizal alias Ijal (SY/IJ).

Kemudian Sri Wahyuni (SW) yang merupakan ibu dari Adi Sufyan dan dua adiknya, Hardiyanto (HD) serta Yuyut Eko Prasetyo (YEP).

“Delapan orang hasil pengembangan dari penyerangan di Mapolda Riau saat ini sedang dalam pendalaman di Polres Dumai,” kata mantan Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) tersebut.

Delapan terduga teroris yang berhasil diamankan ini beberapa di antaranya diketahui memiliki hubungan darah dengan Suwardi dan Adi Sufyan, dua pelaku penyerangan di markas Kepolisian itu. “Perkumpulan yang mereka lakukan terbiasa dengan panah dan ada beberapa yang satu keluarga,” terangnya.

Dari hasil penggeledahan diamankan beberapa barang bukti. Diantaranya senapan angin, buku-buku tentang jihad, buku yang berbahasa Arab, busur dan anak panah dan sasaran target panah yang terbuat dari kayu. (ica/jpc)

loading...