KORBAN KAPAL TENGGELAM DI DANAU TOBA
Pulang ke Siantar Temui Kekasih, Rencana Mau Nikah
  • Dipublikasikan pada: Jun 21, 2018 Dibaca: 12973 kali.

Foto: Repro
Reynold dan tunangannya Juliana, hilang dalam peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Senin (18/6). Juliana pulang ke Siantar dari Depok untuk menemui kekasihnya.


SINAKSAK, SUMUTPOS.CO – Beragam kisah sedih mewarnai tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun tujuan rute Simanindo-Tigaras di Danau Toba, Senin (18/6) sore lalu. Kecelakaan itu mengakibatkan rencana pernikahan antara Chrisman Reynold Simarmata dengan tunangannya Juliana, terancam batal.

Reynold, warga Jalan Puan Gunung Purba, Sinaksak, Kabupaten Simalungun  ini menjadi salah satu penumpang yang belum ditemukan hingga, Rabu (20/6). Pria kelahiran 19 Desember 27 tahun silam itu hilang bersama kekasihnya, Juliana Suraida, beserta ratusan orang lainnya yang menumpang kapal tersebut.

Sampai H+2 pencarian, petugas gabungan dari Tim Basarnas dan Kepolisian serta Dinas Perhubungan, belum menemukan keduanya. Sejak saat itu pula, Lasmaria boru Rumapea, ibunda dari Reynold, tak dapat membendung air matanya. Tangisannya semakin menjadi mengingat Reynold dan Juliana berencana akan melangsungkan pernikahan tahun depan.

“Amaaang… anakku tu Simanindo dohot si Juli,” teriak ibunda Reynold, saat mendapat kabar buruk itu.

Jon Clinton, adik Reynold menceritakan, pasangan Reynold-Juliana menjalani hubungan jarak jauh, meskipun rumah mereka hanya berjarak sekitar 500 meter di Siantar. Pasalnya, Reynold bekerja di PT STTC, Pematangsiantar sedangkan Juliana bekerja di salah satu bank di Kota Depok.

Libur Lebaran kemarin, Juliana pulang ke Pematangsiantar. Memanfaatkan libur kerja, keduanya berangkat ke Pulau Samosir untuk sekedar jalan-jalan membuang penat. Saat berangkat, abangnya mengenakan baju perpaduan warna biru dan abu-abu, jacket jeans, dan sepatu boot coklat. Mereka berangkat pada Senin pagi. Reynold mengendarai sepeda motor Yamaha Scorpio Z, membonceng Juliana menuju Kabupaten Toba Samosir.

Rupanya perjalanan itu menjadi perjalanan terakhir keduanya, karena kapal yang mereka tumpangi  tenggelam di perairan Danau Toba.

Kabar buruk itu diterima keluarga dari tetangga mereka yang juga ketua RT setempat. Anak dari ketua RT tersebut kebetulan berada di Samosir, dan berencana akan menyeberang dengan menaiki kapal ferry. Namun batal karena mendapat kabar adanya kapal motor yang tenggelam.

“Jadi dia mengabari bapaknya di sini. Dibilang biar dikasih tahu sama tetangga, mana tahu ada keluarga yang menyeberang naik kapal itu,” terangnya.

Mendapat kabar itu, Lasmaria langsung teringat dengan Reynold, anaknya. Usaha untuk menghubungi anak ke 2 dari 3 bersaudara itu pun dilakukan. Namun tak membuahkan hasil, membuat keluarga semakin khawatir.

Jerit tangis kontan memecah ruah di dalam rumah orang tua Reynold.

“Kau bilang janji datang hari Selasa. Kutunggu-tunggu tidak ada. Pulangkan si Juli itu,” tangis ibunda Reynold saat itu.

Jeritan itu karena pada Selasa, Reynold akan membawa Juliana ke kediaman mereka. Hal itu bertujuan untuk membahas rencana pernikahan mereka tahun depan. “Sudah 4 tahun mereka berpacaran,” kata adik Reynold.

Sampai akhirnya, J Simarmata –ayahanda Reynold– dan keluarga lainnya berangkat menuju Tigaras, Kabupaten Simalungun berharap mendapat kabar kepastian nasib anak dan calon menantunya. Pada kedatangan berikutnya, ayahanda Reynold membawa jas dan sepatu, untuk persiapan jika tubuh anaknya ditemukan.

“Memang bukan kita inginkan kejadian ini Bang. Tapi kalaupun abang meninggal, ya mudah-mudahan jasadnya ditemukan. Tadi pagi bapak sama abang kesana uda bawa jas sama sepatu abang,” pungkas Jon dengan tatapan kosong.

Sejak kejadian naas itu juga, rumah berlantai keramik itu dipadati sanak saudara dan tetangga yang silih berganti datang ke rumah untuk menemani keluarga korban yang khawatir dengan kabar Reynold. Mereka bergantian menghibur Lasmaria Boru Rumapea yang menangis.

Sampai saat ini, keluarga masih menunggu kabar dari Reynold dan Juliana. Ditemukan masih bernyawa ataupun tidak, keluarga sudah pasrah. Paling tidak, mereka berharap jenazah korban dapat ditemukan jika memang sudah meninggal. (gid/esa)

loading...