1.000 Kamar Hotel di Sumut Disiapkan untuk Karantina Pasien Covid-19

Metropolis

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Peningkatan jumlah kasus Covid-19 di Sumut cukup signifikan, apalagi sejak diberlakukannya new normal. Bahkan, kapasitas ruang isolasi yang disediakan rumah sakit rujukan Covid-19, nyaris penuh. Karenanya, Pemprovsu melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggandeng Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumut untuk menyiapkan 1.000 kamar hotel bagi pasien Covid-19.

Suasana Sosialisasi Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan dan Kelestarian Lingkungan pada Kegiatan Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran (MICE) di Hotel Grand Mercure Medan, Kamis (24/9).
Suasana Sosialisasi Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan dan Kelestarian Lingkungan pada Kegiatan Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran (MICE) di Hotel Grand Mercure Medan, Kamis (24/9).

“Saya baru saja selesai mengikuti rapat dengan PHRI, jadi akan ada 1.000 kamar hotel di Sumatera Utara yang disiapkan untuk menampung pasien Covid-19,” kata Kadisbudpar Sumut, Ria Novida Telaumbanua saat membuka kegiatan Mini Exhibition dan Sosialisasi Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan dan Kelestarian Lingkungan pada Kegiatan Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran (MICE) di Hotel Grand Mercure Medan, Kamis (24/9). Kegiatan yang diikuti para pelaku industri pariwisata ini digelar selama tiga hari sejak Kamis (24/9), hingga Sabtu (26/9), di Medan dan Danau Toba.


Menurut Ria, saat ini di Kepulauan Nias sejumlah hotel sudah digunakan untuk pasien Covid-19. Karena ruang isolasi yang disediakan rumah sakit tidak mampu menampung jumlah pasien Covid-19 yang terus melonjak di Nias.

Menyikapi jumlah kasus Covid-19 yang terus melonjak, Ria mengingatkan masyarakat, khususnya pelaku usaha pariwisata untuk tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. “Selama ini masyarakat banyak yang sepele dengan protokol kesehatan yang memang terkesan sepele. Seperti memakai masker, cuci tangan pakai sabun, dan menjaga jarak. Namun, hal-hal sepele inilah yang bisa menjaga kita dari virus berbahaya ini,” katanya.

Ria pun menyambut baik sosialisasi sosialisasi dan panduan CHSE dari Kemenparekraf ini. Karena dalam panduan ini diatur secara detil pelaksanaan kegiatan wisata pertemuan, insentif, konvensi dan pameran (MICE).

Diakuinya, pandemi Covid-19 sejak awal 2020 lalu di Indonesia ini mengakibatkan dunia usaha di bidang pariwisata dan kegiatan (event) mengalami keterpurukan. Karenanya para pelaku industri pariwisata jangan hanya berpangku tangan dengan kondisi saat ini. “Kita harus berpikir keras. Kita harus tetap berjalan sebisa yang kita mampu lakukan,” katanya.

Dia pun menyebutkan, meskipun belum dibuka secara resmi, namun masyarakat saat ini sudah cukup banyak mendatangi destinasi wisata di sejumlah daerah di Sumut. Karenanya, dengan adanya panduan CHSE dari Kemenparekraf ini diharapkan dapat kembali menggairahkan dunia pariwisata Sumut dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Tidak gampang memang menerapkan protokol kesehatan di lokasi wisata. Namun kita sebagai pemerintah dan pelaku dunia usaha bidang wisata, harus terus komitmen mensosialisasikan dan menegakkan protokol kesehatan,” paparnya.

Dia menegaskan, pemerintah khususnya Pemprovsu di masa pandemi ini terus peduli dan berpikir dalam mengatasi sejumlah bidang yang mengalami keterpurukan di masa pandemi. Salah satu di bidang usaha wisata MICE.

Sementara Koordinator Pengembangan dan Komunikasi Industri Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Budi Supriyanto mengatakan, panduan CHSE dalam kegiatan wisata MICE ini merupakan panduan yang sudah mengacu pada standar Kemenkes dan WHO. Budi pun mengakui, sejak Juni 2020, jumlah kunjungan wisatawan di Indonesia khususnya di Bali dan Jakarta sudah mengalami peningkatan. Karenanya dibutuhkan panduan ini dalam mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19 di sektor wisata MICE.

Pelaksanaan kegiatan Mini Exhibition dan Sosialisasi ini sendiri menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Mulai dari registrasi, para peserta diwajibkan melakukan sherology test untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Selama acara berlangsung, para peserta diwajibkan mengenakan masker, mencuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer dan menjaga jarak.(adz)

loading...