Yang Muda Yang Usaha

Inspirasi

Muhammad Ramadhani

Usia muda bukan alasan bagi seseorang untuk tampil kepermukaan. Pun, untuk tampil, seorang anak muda tak harus menipu diri dengan masuk ke dunia yang belum tentu dia rasakan. Jadi diri sendiri adalah langkah tepat bagi mereka yang ingin maju. Dengan kata lain, selagi muda, kenapa harus takut menjual dunia itu?


Begitulah Muhammad Ramadhani (26). Anak muda Tebingtinggi ini berhasil muncul ke permukaan dengan menggunakan dunia mudanya yang identik dengan gaya. Ya, dari hobi dengan anak-anak gaul, dirinya kini berhasil memiliki usaha yang mampu membuat dia mandiri. Sebuah distro Post Holic yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman Kota Tebing Tinggi adalah jawabannya. Berangkat pada 2005, Ramadhani yang memulai dengan menjual baju kecil-kecilan, sekarang sukses dengan memiliki toko sendiri.

Dulunya, setelah menamatkan SMA, pemuda yang sering tampil dengan style anak-anak gaul ini memulai dengan menjual kaos kepada teman-teman ngumpulnya. Nah, seiring waktu timbul pemikiran Ramadhani, kenapa Kota Tebing Tinggi tidak mempunyai tempat atau distro untuk menampilkan baju-baju khusus untuk anak muda? Berdasarkan pertanyaan itulah, dia terus mencari jalan untuk mewujudkan kegelisahan itu. Karena perjuangan keras dan tak henti-hentinya berusaha, Ramadhani nekad menyewa sebuah tempat jualan yang ukuran 2×3 meter. Namun, usahanya itu tak langsung berhasil. Pasalnya, beberapa waktu kemudian, tokonya malah kena gusur. “Dulunya susah kita, jualan baju kaos cuma 10 potong. Namun, karena saya masih muda dan terus mengikuti gaya, saya bertekad untuk memiliki distro. Alhamdulillah sekarang cita-cita saya kesampaian,” ujar Ramdhani di Distro Post Holic miliknya, belum lama ini.

Setelah tergusur, Ramadhani tak patah arang. Dirinya terus mencari tempat yang cocok untuk usahanya tersebut. Dan terjawab, kawasan di Jalan Sudirman seakan berjodoh dengannya. Menariknya, ruang baru itu lebih luas, jika sebelumnya sempit-sempitan di ruang 2×3, kini dia lumayan leluasa mendapatkan ruang 3×6. Maka, tak perlu waktu lama, asesoris anak muda khusus laki-laki mulai darai ikat pinggang, jam tangan, serta gelang tangan langsung tertata rapi. Tidak itu saja, baju ala jungkis (pas badan), celana Jeans, sepatu, topi, sendal, tas, celana ponggol, dan barang lainnya yang sesuai tren. “Barang yang kami datangkan khusus dari kota Bandung, model dan trendnya berubah-ubah setiap bulan, mengikuti selera anak muda,” bilang Ramadhani.

Menariknya, sebagai anak muda yang tentunya tahu isi kantong anak muda, Ramadhani pun tak mau menawarkan harga yang begitu tinggi. Harga yang dipatoknya cukup bervariasi, mulai harga Rp25.000 sampai harga Rp200.000. Meski begitu, omset Ramadhani tetap saja besar. Setidaknya, per bulannya mencapai puluhan juta. “Kelebihan distro karena barangnya eksklusif, tak ada di jual di swalayan atau toko biasa lainnya,” jelas Ramadhani.

Soal nama distronya, Ramadhani sengaja memilih Post Holic. Maksudnya dari nama itu adalah markas pecandu gaya trend dan style anak-anak muda Kota Tebing Tinggi. Nah, selain tempat belanja, ternyata Post Holic juga menjadi tempat nongkrong. Buktikan, tiap malam Minggu dan malam Kamis pasti banyak anak muda Tebing Tinggi yang berada di sana. “Kita upayakan Distro kita tidak ketinggalan tren pakaian anak muda,”ungkapnya.

Selain barang yang bagus dan variatif, kelebihan usaha Ramadhani ini juga terletak pada desain distronya. Ramadhani sengaja memilih cat yang berwarna cerah dan lantai keramik bernuansa anak muda, seperti keramik berwarna bidak catur yaitu hitam dan putih. “Ujung-ujungnya, tidak anak muda saja yang belanja, bapak yang berjiwa muda tak mau ketinggalan juga,” kekeh Ramadhani. (mag-3)

Pemilik Lowrider Pertama di Tebing Tinggi

Muhammad Ramadhani memang sedikit unik. Pasalnya, setelah menggunakan kegemarannya nongkrong menjadi bisnis, dia juga memiliki pilihan yang sedikit berbeda soal benda yang dimilikinya.
Buktinya, Ramadhani adalah orang pertama sekaligus satu-satunya yang memiliki sepeda lowrider (sepeda ceper).
Menilik sejarah, sepeda Low Rider pertama kali di perkenalkan pada tahun 1960-an. Sepeda ini pertama kali di perkenalkan oleh The “custom” king George Barris.

Sebelum menemukan sepeda lowrider,  si George Barris ini pekerjaanya adalah menceperkan mobil.
Memang saat itu virus mobil ceper sedang mewabah di kalangan anak muda Amerika. Tetapi trend itu hanya bisa dirasakan oleh anak muda dari keluarga kaya saja.

Melihat situasi seperti itu si King mendapatkan ide dengan mencoba membangun sebuah sepeda yang mengacu pada kesan lowrider. Untuk eksperimen pertama kali si King menerapkan pada sepedanya. Mulailah si King ini memperkenalkan kreasinya. Dari situ bisa ditebak, banyak anak-anak dari keluarga yang kurang mampu beralih berkreasi membuat sepeda lowrider.

Kembali ke Ramadhani, untuk sepeda cepernya, dia harus memanggil seorang kawan dari Bandung. Sepeda yang dirakit sendiri oleh temannya itu menghabiskan dana Rp2 juta. “Nantinya saya ingin membangun perkumpulan pencinta lowrider Kota Tebing Tinggi. Dan, saya siap menjadi ketuanya,” tekad Ramadhani. (mag-3)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *