Istana Khadafi Dibakar

Perangi Rakyatnya, Siapkan Senjata Kimia dan Biologi

BENGHAZI-Pengunjuk rasa di Benghazi, kota terbesar kedua di Libya, melampiaskan kemarahan mereka atas kekejaman sang pemimpin, Muammar Kadhafi. Puluhan demonstran menghancurkan dan membakar istana keluarga Kadhafi yang berlokasi di Benghazi kemarin (25/2).

Cable News Network (CNN) memberitakan bahwa demonstran menumpahkan kemarahan mereka pada bangunan yang ada di kota dekat Laut Mediterania tersebut. Kini istana tersebut menjadi peninggalan dari rezim yang paling dibenci. Di masa lalu, istana itu dianggap sebagai “tempat paling menakutkan” di Benghazi.

Setelah demonstran bersama oposisi dan tentara yang membangkang berhasil mengambil-alih kendali atas kota tersebut, massa pun menjadikannya sebagai target. Seluruh bangunan itu luluh lantak. Kaca dan jendelanya hancur berantakan. Istana tersebut dulu sering digunakan keluarga Kadhafi jika berkunjung ke Benghazi.

Dalam videonya, koresponden CNN menunjukkan ruang konferensi yang sering digunakan Kadhafi dan keluarganya melakukan pertemuan. Kondisinya kini hancur seperti baru dihantam bom. Ketika diambil gambarnya dari luar, terlihat asap hitam mengepul dari istana Kadhafi tersebut. Dulu gedung itu juga digunakan sebagai pusat komando militer di wilayah timur Libyan
Selain membakar istana Kadhafi, warga Benghazi kemarin juga mengekspresikan kegembiraan mereka. Sebab, kota itu telah terbebas dari kekuasaan rezim yang telah berkuasa 41 tahun di Libya.

Kehidupan warga di kota berpenduduk 700 ribu itu mulai kembali normal setelah pasukan yang loyal kepada Kadhafi lari. Bahkan, sudah terbentuk koalisi yang memimpin sementara kota itu. “Saat ini tentara (anti-Kadhafi) ada di belakang administrasi Benghazi untuk memulihkan hukum dan ketertiban,” kata anggota koalisi Omar Mohammed kepada Reuters.

Tentara dan polisi di sejumlah kota di timur juga telah meninggalkan barak untuk bergabung dengan demonstran anti-Kadhafi dan oposisi. Stasiun televisi Al-Jazeera melaporkan bahwa situasi itu antara lain terlihat di Kota Adjabiya.

Fokus demonstran kini tertuju pada Tripoli, kota terbesar sekaligus ibu kota Libya. Warga Benghazi pun menjadikan kemarin sebagai hari solidaritas bagi Tripoli. “Ada demonstrasi besar di luar balai kota (untuk mendukung bebasnya Tripoli dari Kadhafi),” kata Najla el Mangoush, juru bicara koalisi.

Ribuan pemuda di Benghazi ingin mengadakan pawai ke Tripoli untuk menunjukkan kepada Kadhafi bahwa wilayah timur berada di balik aspirasi faksi-faksi anti-pemerintah di barat. Mereka juga yakin masa depan Libya bersatu setelah Kadhafi jatuh.

Sayang, situasi di Tripoli belum seperti kota-kota di timur. Kadhafi dan pasukannya masih berkuasa. Sedikitnya, lima tewas di Tripoli kemarin dalam bentrok antara demonstran anti-Kadhafi dan pasukan keamanan. Tentara menembaki pengunjuk rasa di kawasan Janzour, sebelah barat Tripoli.

Saksi mata mengungkapkan bahwa oposisi juga meneriakkan slogan-slogan anti-Kadhafi di kawasan Fashlum, timur Tripoli. Dua tewas setelah ditembak tentara. Tentara Kadhafi juga menembaki warga yang selesai salat Jumat. Itu dilakukan untuk mencegah unjuk rasa baru. Bentrok juga terjadi di Ghut Asaal, barat Tripoli.

Polisi dan tentara berjaga-jaga di luar halaman sejumlah masjid. Di luar Masjid Jamal Abdelnasser, pusat Kota Tripoli, video amatir yang ditayangkan Al Jazeera memperlihatkan bahwa demonstran anti-Kadhafi menyuarakan syahadat.

Bentrok di antara dua kubu juga sesekali terjadi di Misrata, kota terbesar ketiga di Libya yang berjarak 150 km sebelah timur Tripoli. Tetapi, secara umum kota itu telah dikuasai oposisi. Warga memenuhi jalan untuk memakamkan 30 orang yang tewas sebelumnya.

Sekitar 500 pasukan Brigade Hamza yang loyal kepada Kadhafi masih bersembunyi dekat pangkalan udara di pinggiran kota. Para demonstran memasang banyak kontainer dan kantong-kantong pasir untuk membendung pergerakan mereka.

Siapkan Pemusnah Massal

Sadar posisinya kian terdesak, Kadhafi dikabarkan tengah mempersiapkan senjata kimia dan biologi. Peringatan akan bahaya pembunuh massal dan kegilaan Khadafi itu dikeluarkan mantan Menteri Hukum Libya, Mustafa Abdul Galil. “Kadhafi punya senjata biologi dan kimia. Ia tak segan menggunakannya terhadap rakyat sipil, terutama di Ibukota. Kami ingin komunitas internasional dan PBB mencegah Kadhafi menjalankan rencananya di Tripoli,” ujar Galil yang sudah mundur dari jabatannya tiga hari lalu.
Menurut Galil, seseorang yang terdesak bisa melakukan apa saja yang dianggapnya jalan keluar masuk akal.

Informasi rencana gila ini kian terasa dengan upaya Kadhafi memblokir Libya dari dunia internasional. Sejumlah media di Timur Tengah melaporkan, Tripoli sepenuhnya terblokir sejak Jumat (25/2).

Sebagaimana diketahui, Khadafi membuka gudang senjatanya untuk inspeksi internasional dan diketahui memiliki timbunan gas mustar sebanyak 9,5 metrik ton. Gas ini merupakan bahan baku penting membuat senjata kimia dan biologi. Kabarnya, Libya telah menghancurkan 50 persen dari cadangan senjata kimianya. Pada 2003 setelah Saddam Hussein tumbang di Irak, Libya juga setuju melucuti program senjata nuklir dan kimia. Sebagai gantinya, mantan Presiden AS George Bush mencabut sanksi dan menjalin hubungan diplomatik.
Pada 2004, Libya menghancurkan 3.300 bom udara yang hendak diisi gas mustar dan bahan kimia lainnya. Namun, hubungan Washington dan Tripoli merenggang, sehingga rencana memusnahkan cadangan senjata-senjata dan fasilitas produksi bahan kimia untuk senjata ditunda.

Pada akhir 2010, berdasarkan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) di Belanda, Libya telah menghancurkan 23 metrik ton gas mustar. Sisa sebesar 9,5 metrik ton dijadwalkan untuk dihancurkan hingga akhir tahun ini. Mengingat kondisi dalam negeri saat ini, ada kemungkinan rencana itu dibatalkan.


Aksi menuntut mundurnya Kadhafi terus menuai dukungan. Kadhaf al-Dam, pembantu dekat dan juga sepupu Kadhafi, kemarin giliran mengundurkan diri. Sikap yang sama diambil Dubes Libya untuk Prancis Mohamed Salaheddine Zarem dan Dubes Libya untuk UNESCO Abdoulsalam El Qallali. Mereka melengkapi daftar para diplomat yang mundur untuk memprotes kekejaman Kadhafi.

Sementara itu, dukungan internasional terhadap demonstran di Libya juga terus mengalir. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menegaskan bahwa Kadhafi “harus pergi”. Pernyataan itu disampaikan Sarkozy di Ankara, Turki, setelah bertemu Presiden Abdullah Gul. “Kekerasan sistematis (Kadhafi) terhadap rakyat Libya tidak bisa diterima dan akan menjadi subjek investigasi maupun sanksi,” katanya.

Presiden Rusia Dmitry Medvedev juga mengutuk penggunaan kekuatan militer terhadap rakyat sipil Libya oleh Kadhafi. Dia pun memperingatkan bahwa Kadhafi dan para pejabatnya bisa dituntut di bawah hukum internasional jika tak menghentikan kekerasan  terhadap rakyatnya.
Prancis menaksir sekitar 2 ribu demonstran Libya telah tewas dalam aksi brutal tentara Kadhafi. Italia sebelumnya mengestimasikan korban tewas akibat kerusuhan di Libya mencapai sekitar 1.000 orang.

Menyusul kekejaman tersebut, Uni Eropa kemarin sepakat untuk menerapkan embargoi senjata kepada Libya. Selain itu, Uni Eropa membekukan seluruh asset yang terkait dengan Kadhafi.
Sebelumnya, Swiss juga membekukan rekening atau aset milik keluarga Kadhafi di negara tersebut. Inggris juga melakukan hal yang sama. Pemerintah Inggris akan membekukan dan menyita 10 juta pound atau USD 16,1 juta (sekitar Rp 150 miliar) aset milik keluarga Kadhafi di negara tersebut. Aset itu terdiri dari rumah mewah di London. Selain itu, Kadhafi dilaporkan memiliki rekening bank dan beberapa properti komersial di Inggris.

“Prioritas kami adalah membawa pulang warga negara Inggris di Libya. Tetapi, kami siap menarik dan menyita asset milik Kadhafi,” kata sumber di pemerintah Inggris seperti dikutip koran Telegraph kemarin.
——
WNI Dievakuasi Lewat Tunisia

Pemerintah RI memastikan akan melakukan gelombang pertama evakuasi WNI dari Libya, Jumat (25/2) sore waktu setempat atau tadi malam sekitar pukul 22.00 WIB, melalui pesawat Tunis Air ke Tunisia. Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Michael Tene, dalam jumpa pers di Ruang Palapa, Kantor Kemlu, Jakarta, Jumat siang.

“Pagi ini juga (Jumat, 25/2), kita baru saja berkomunikasi dengan Duta Besar RI di Libya, dan dipastikan bahwa hingga saat ini warga negara kita masih dalam keadaan aman. Tidak ada laporan adanya korban dari dampak kerusuhan atau konflik yang terjadi,” ungkapnya di hadapan wartawan.

Dijelaskan Tene lebih jauh, dari data yang tercatat di KBRI Tunisia di Tripoli, jumlah WNI yang terdata di negeri itu adalah sebanyak 875 orang. Dari jumlah tersebut, sebagian besar atau lebih dari 500 orang tercatat bekerja di sektor formal, berikut ada lebih dari 100 orang mahasiswa, serta sisanya bekerja di sektor informal. Akan halnya kemungkinan adanya banyak WNI lain yang tak tercatat, Tene menyebut bahwa pihak KBRI di Tripoli khususnya terus berusaha melacak, sambil berharap diberitahukan jika memang ada informasi akurat dari mana pun.

Sementara, dalam rencana evakuasi pertama yang dikoordinasikan lewat Satgas Evakuasi WNI yang diketuai Hassan Wirajuda itu, papar Tene lagi, sebagian besar akan berisikan karyawan PT Wika (Wijaya Karya) yang berjumlah 201 orang. Sisanya katanya lagi, adalah WNI lainnya yang diprioritaskan (tanpa memastikan jumlahnya, Red). Yang jelas, ungkap Tene pula, pesawat evakuasi kali ini (Tunis Air) berkapasitas antara 250-260 seat.(cnn/afp/ap/rtr/jpnn)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *