Khadafi Seperti Hitler

BeritaFoto Internasional

Harta Kekayaannya Dibekukan Dunia

TRIPOLI-Duta Besar Libya untuk PBB Abdurrahman Shalgam, satu teman lama Kolonel Khadafi, mencela pemimpin Libya itu. Dia mendesak dunia menghukumnya.

Shalgam, seorang sekutu Khadafi sejak keduanya masih pemuda radikal pada akhir tahun 1950-an, mempersamakan tindakan Khadafi dengan orang-orang Hitler dan Pol Pot dan Hitler. Shalgam, yang selama ini setia kepada Khadafi, kini mendukung para pengunjuk rasa di Tripoli.

Dalam sebuah pidato emosional di Dewan Keamanan PBB di New York, Shalgam berkata, “Muammar Khadafi telah mengatakan kepada rakyat Libya saya memerintah kamu atau saya bunuh kamu.”

Dia menyampaikan kepada 15 anggota Dewan Keamanan PBB, yang sedang mempertimbangkan sebuah rencana Inggris dan Prancis bagi sanksi terhadap rezim Khadafi. “Kami butuh resolusi berani dari Anda,” katanya.
Di luar ruang sidang, ia kembali memberikan pidato dimana ia memohon agar dunia luar melakukan sesuatu dalam waktu hitungan jam, bukan lagi hari untuk menghentikan pertumpahan darah di Libya.

Shalgam mengatakan, Khadafi kini telah kehilangan dukungan dari 90 persen diplomat dan memperkirakan bahwa revolusi akan berlanjut di tengah-timur. “Perbudakan dan pemerintahan oleh orang sudah selesai,” katanya.
“Dunia Arab akan berubah sama sekali jika Khadafi melarikan diri. Seluruh dunia Arab akan bergerak cepat menuju kebebasan, dan bukan oleh paran jenderal. Sekarang orang-orang Arab akan melakukannya (sendiri). Seluruh dunia Arab sedang mendukung Libya. Semua mereka yang berada di jalanan mendukung Libya, semuanya. Dalam waktu satu tahun, Anda akan melihat dunia Arab yang lain,” kata Shalgam sebagaimana dikutip Telegraph.

Shalgam membela dukungannya bagi Khadafy selama beberapa dekade dan keputusannya untuk tetap menyokong rezim itu pada hari-hari awal ketika tindakan brutal terhadap para demonstran berlangsung.

“Saya tidak bisa membayangkan pada awalnya pertumpahan darah para korban,” tegasnya.
Dia ingat persahabatan dengan Khadafy bermula atas kekaguman bersama terhadap Gamal Abdel Nasser, presiden Mesir mulai 1956, ketika mereka tumbuh di Libya Selatan. “Saya salah satu teman baik terdekatnya, yang bekerja dengan dia sejak awal revolusi,” katanya. “Sayangnya, kami mulai revolusi dengan kebebasan, pada akhirnya Anda (Khadafy) membunuh rakyat kami,” katanya.

Sementara para pemimpin dunia akhirnya mengambil langkah agar kekerasan berakhir dengan cara memblokir dan membekukan harta kekayaan Khadafy di berbagai negara.

Presiden AS Barack Obama telah menandatangani perintah eksekutif untuk memblokir kekayaan properti dan transaksi milik Kolonel Khadafy dan keluarganya, Jumat (25/2) waktu setempat.

“Sanksi ini ditujukan kepada pemerintah Khadafy, dan melindungi aset milik masyarakat Libia,” kata Obama.
Barack Obama juga mengajak tiga pemimpin negara Eropa untuk mendiskusikan penyelesaian krisis dan pemberian sanksi terhadap pemerintah Libya. Ketiga pemimpin itu adalah Perdana Menteri Inggris David Cameron, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dan Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi. Sebelumnya, beberapa negara telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Libya sebagai bentuk protes atas langkah Libya dalam menangani aksi itu. Selain AS, Pemerintah Swiss telah membekukan aset milik Khadafy dan kroninya.

Pemerintah Inggris menyatakan telah membekukan seluruh harta milik pemimpin Libya, Moammar Khadafy, di Inggris sebagai satu upaya internasional untuk menekan diktator itu dari kekuasaannya.

Rezim Libya diduga memiliki harta cair sejumlah 32 miliar dollar AS yang kebanyakan terletak di London, Inggris. Sejumlah harta Khadafy yang diduga termasuk tabungan bank berisi miliaran dollar AS, kekayaan komersil dan tempat tinggal mewah di London seharga 16 juta dollar AS diperkirakan disita pada beberapa hari ke depan.

Presiden Libya Muammar Khadafi tetap tak bergeming. Dia mendatangi pendukungnya di lapangan yang terletak di pusat kota Tripoli, Libya. Qadafi menyerukan kepada pendukungnya untuk terus mempertahankan Libya.
Dalam sebuah tayangan televisi pemerintah setempat, Khadafi tampak berulang-ulang mengepalkan tangannya dan mengangkatnya ke atas serta mengucapkan, bahwa rakyat Libya mencintainya.

“Kita akan lawan dan kalahkan mereka (demonstran),” kata Khadafi berapi-api seperti dilansir AFP, Jumat (25/2).
“Hidup tanpa bermartabat itu tiada artinya, demikian juga hidup tanpa bendera hijau juga tiada artinya,” teriak Khadafi menyemangati pendukungnya. “Bernyanyi, menari, dan bersiaplah,” imbuh Khadafi.

Kacau Balau

Libya memiliki karakteristik pemerintahan yang berbeda dengan Tunisia dan Mesir. Jika akhirnya rezim Kadhafi lengser, transisi politik seperti apa yang mungkin terjadi? Seperti dilansir BBC, Libya adalah negara yang tidak mempraktikkan sistem pemerintahan normal layaknya bangsa-bangsa di dunia lainnya. Kolonel Muammar Kadhafi menciptakan sistem pemerintahan yang tidak memberikan ruang sedikit pun terhadap potensi perlawanan di sekitar kekuasaan, keluarga dan lingkaran kekuasaan terdekatnya. Sebagian di antara mereka ditunjuk dari kalangan sukunya sendiri, Qadhadhfa.

Tidak seperti Tunisia atau Mesir, berbagai kekuatan yang bisa menjembatani terjadinya transisi pemerintahan secara damai seperti partai politik, serikat pekerja, kelompok oposisi, dan organisasi masyarakat madani tidak ada di Libya.
Bahkan, Libya dikenal dengan negara yang hampir semua institusi tidak berfungsi. Sebab, semua kekuasaan terpusat secara penuh pada sang brotherly leader.

Kultur personal itulah yang bisa menjelaskan mengapa Kadhafi menyatakan akan bertahan pada kekuasaannya hingga “titik darah penghabisan”. Meski posisinya semakin terdesak, ketika kelompok oposisi bergerak mendekat, dia tetap menguasai Tripoli, basis kekuasaan tradisionalnya.

Nanti, kalaupun Kadhafi masih bisa menguasai penuh Tripoli, kemampuannya untuk memerintah hampir tidak ada lagi. Sikap represifnya terhadap demonstran beberapa hari terakhir sudah menghancurkan semua kredibilitas yang dia dan rezimnya telah bangun selama 40 tahun. Langkah represinya itu tidak akan cukup untuk membuatnya tetap pada posisinya.

Semua kondisi sulit tersebut akan mengakibatkan kekacauan di Libya. Tidak adanya kekuatan politik atau tokoh yang bisa mengambil alih kekuasaan bakal menciptakan kekosongan kekuasaan.

Akibatnya, pemain-pemain baru akan muncul. Khususnya para kepala suku yang akan tampil ke permukaan atau setidaknya mengambil alih kontrol atas wilayahnya sendiri.

Mengingat sejarah panjang perseteruan antarsuku di Libya, transisi kekuasaan itu diperkirakan tidak akan berjalan dengan mulus. Ditambah lagi dengan telah beredarnya senjata di kalangan demonstran, situasi penuh kekerasan menjadi hal yang paling mungkin terjadi.

Sebagian rakyat Libya khawatir, negara tersebut akan mewarisi situasi anarki dan chaos. Atau, skenario terburuk adalah perang sipil.

Ditambah lagi faktor tentara Libya yang tidak profesional, terpecah, dan sengaja diperlemah oleh Kadhafi selama bertahun-tahun untuk menghindari kemungkinan terjadinya kudeta. Namun, beberapa pekan terakhir, muncul sinyal-sinyal bahwa militer akan menarik dukungannya kepada rezim Libya.

Sejumlah elemen di internal militer telah membelot bersama demonstran. Keputusan yang sama diikuti oleh sejumlah figur senior pemerintah dan diplomat. Harapan terbaik rakyat Libya ada di tangan figur-figur tersebut. Jika mereka bisa bersatu dengan tokoh berbagai suku yang ada, transisi politik pasca Kadhafi akan berjalan lebih bersahaja. (cak/c10/dos/net/jpnn)

loading...
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *