Sucikan Diri di Pantai Cermin

Sumatera Utara

Melihat Persiapan Hari Raya Nyepi Umat Hindu Bali di Desa Pegajahan

Menjelang Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1933, 5 Maret mendatang, umat Hindu di Desa Pegajahan Kecamatan Pegajahan mengelar ritual mensucikan diri. Bagaimana kegiatan ritual umat Hindu keturunan warga Pulau Dewata (Pulau Bali) berlangsung di Kabupaten Sergai?

Batara Sidik, Pegajahan

Sejak terbitnya Kepres Nomor 3 tahun 1983 yang menetapkannya Nyepi sebagai hari libur nasional, umat Hindu se Indonesia lebih leluasa mengelar ritual. Demikian juga dengan umat Hindu di Desa Pegajahan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) yang melangsungkan ritual Melasti. Kegiatan mensucikan diri di Pantai Cermin sudah berlangsung sejak 11 tahun silam.

Ritual Melasti dilangsungkan di Pantai Pondok Permai, Kecamatan Pantai Cermin Serdang Bedagai, Minggu (27/2) silam.Awalnya ritual Melasti yang merupakan acara untuk Buana Agung (alam semesta, termasuk menyucikan alat-alat upacara dan pratima).

Sekretaris Suka Duka Dirgayasa Medan Dewa Putu Siantara menambahkan, dipilihannya pantai sebagai tempat untuk memohon air suci dari lautan.

I Gusti Ngurah Pastika Ketua Suka Duka Dirgayasa Medann
menyebutkan, pelaksanaan Melasti dihadiri umat Hindu Bali berbagi daerah seperti Medan, Perbaugan, Pematang Siantar, Aekanopan dan Langkat. Dengan dilangsungkanya kegiatan Melasti mengharapkan dapat menciptakan kehidupan harmonis, damai dan sejahtera.

Sekretaris Suka Duka Dirgayasa Medan Dewa Putu Siantara menambahkan, upacara dilakukan di pantai sebagai tempat untuk memohon air suci dari lautan. Dalam kegiatan itu, baik laki-laki dan perempuan mengenakan pakaian berwarna serba putih. setangkai bunga di selipkan pada telinga menandakan mempersembahkan diri kepada sang Buana Agung.

Selain bunga diselipkan diantara telinga dan kepala. Butiran beras direkatkan kening untuk menyucikan pikiran. Butiran beras ada yang dikunya untuk menyucikan ucapan.

Hampir semua kegiatan upacara itu diiringin musik gamelan, gendang, kreong, gong, kempol dan gender. puncak acara ritual itu memberikan persembahan semacam sesajian ke laut.

Selain kegiatan Melasti, ritual selanjutnya adalah Tawur Kesanga yang baru dilaksanakan pada 4 Maret mendatang. Tujuan ritual itu menjaga keseimbangan atau keharmonisan serta pensucian kekuatan unsur alam semesta (kekuatan bhuta kala). Dalam pelaksanan Tawur kegiatan ritualnya “Panca Sata” mempersembahkan lima ekor ayam dengan warna bulu yang berbeda terdiri dari warna ayam putih, putih siungan, merah, hitam dan brundun.
Puncak acara dilangsungkan 5 Maret mendatang. Pelaksanan Nyepi dilakukan ritual Catur Brata penyepian yang meliputi Amati Geni (tidak menyalakan api, melakukan Upawasa atau berpuasa), Amati Karya (tidak berkerja  atau tidak melakukan aktifitas fisik), Amati Lelungan (tidak berpergian atau meninggalkan rumah) dan Amati Lelangunan (tidak berpoya-poya atau tidak mengelar hiburan).

Ritual ini dilakukan setelah umat keturunan Hindu Bali membersihakan Penataran Dharmaraksaka untuk Hindu Darma, yang ada di Desa Pegajahan.

Pura yang didirikan sekitar tahun 1989 itu, memiliki luas hampir 800 meter. Memiliki arsitektur Bali. Bangunan pura terbuat dari bebatuan alam. Pura yang diprakarsai purnariawan TNI itu, memiliki tiga rungan meliputi NIsta, Madya dan Utama. Pemisahan ini bertujuan agar ruangan Utama difokuskan untuk kegiatan acara sembahyang diyakini Umat Hindu harus suci dan bersih.

Sedangkan keberadan ruangan Nista dipakai sebagai tempat pembatasan orang yang berhalangan misalnya wanita yang sedang masa haid. Mereka tidak diperbolehkan memasuki ruang Utama. Sedangkan keberadan ruang Nista beraad di depan komplek pura. Dan ruang Madya  dipergunakan untuk kegiatan bermain anak-anak.

Sementara itu, warga Bali di sana mempertahankan nilai-nilai tradisional yang dibawa oleh generasi pertama mereka. Warga keturunan Bali hadir di daerah itu sejak 1963. Awalnya ada 55 kepala keluarga (KK) yang kemudian sampai di Desa Pergajahan Kecamatan Pegajahan Kabupaten Sergai dari tanah asalnya di Bali.

I Made Sudante (77), warga Pegajahan menyatakan mereka bertransmigrasi pada masa Soekarno ketika itu meletus gunung Agung, ketika itu terjadi bencana kelaparan.

“Saat iini jumlah kami sudah sedikit tidak seperti waktu pertama melakukan transmigrasi, namun budaya hindu masih kami jaga termasuk pura di Pergajahan,” bilang Sudante. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *