Dapat Ilmu dari Dosen, Dekat dengan Mahasiswa

Metropolis

Zulham, Loper Koran USU Sejak 1981

Kekurangan yang ada bukan alasan untuk tidak mensyukuri hidup ini. Karena dipercaya atau tidak, kebutuhan hidup tidak hanya materi belaka. Paling tidak itu yang dirasakan peloper koran Zulham (45).


INDRA JULI, Medan

Suara menggelegar memecah kesunyian Rabu (9/3) sore itu di salah satu kampus di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Bukan suara dosen yang memberi materi kepada mahasiswanya karena suara itu terdengar di salah satu kantin di Fakultas Sastra. Suara yang sudah akrab di lingkungan kampus sejak 1981.

Ya, pemilik suara tersebut adalah Zulham yang akrab dipanggil Bang Zul yang setia menghantarkan koran ke kampus-kampus yang ada di USU. Pria yang kerap mengenakan topi, berkacamata tebal dan celana panjang yang dibungkus di kaos kaki layaknya tentara Jepang, dengan kemeja yang seperti tengah menelan tubuh kecilnya sekaligus menutupi tangan sebelah kiri yang terjuntai cacat.

“Untuk apa malu karena aku bukan cacat dari lahir. Aku cacat karena ulah sendiri kok. Waktu usia 13 tahun aku jatuh makanya tangan seperti ini,” tegas Bang Zul kepada Sumut Pos di sela-sela perbincangan dengan salah seorang mahasiswa.

Demikianlah warga Jalan AM Said Gang Kacung Medan ini melakoni pekerjaan sebagai loper koran sejak 1981 lalu dengan bangga. Sekalipun di awal pekerjaan itu dilakukan dengan berjalan kaki. Dimulai dari tempat tinggalnya di Kampung Durian ke Kampung Madras hingga ke beberapa sisi Kota Medan. Hingga dirinya bisa memiliki sepeda untuk membantu pekerjaannya. Yang semula dari satu rumah ke rumah lainnya kini berpindah ke lingkungan kampus USU. Perjalanan yang membuat dirinya banyak kenal dengan berbagai lapis masyarakat. Dari masyarakat tradisional, modern, hingga kalangan pendidikan. Pertemuan yang memberi banyak masukan dalam memahami situasi yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Beberapa tokoh yang disebut menjadi tempatnya bertanya seperti Dekan Fakultas Hukum USU Runtung Sitepu, Ketua Jurusan MKM USU Prof M Yamin, dan beberapa staf pengajar di kampus yang menjadi barometer Sumut itu. Usai menggelar pekerjaannya, Bang Zul punya kebiasaan nongkrong di salah satu kantin sembari menikmati segelas minuman panas dan beberapa potong kue. Sapaan yang diberikan selalu dibalas dengan suaranya yang menggelegar. Begitu juga saat dirinya terlibat dalam pembicaraan dengan beberapa mahasiswa.

Seperti siang itu Bang Zul terlibat dalam pembicaraan tarombo atau silsilah dalam masyarakat Batak. Sekalipun tidak datang dari kelompok yang sama, dirinya ternyata mampu memberikan tanggapan. “Ya namanya juga banyak bergaul dengan orang Batak. Sedikit banyak saya kan bertanya juga makanya bisa tahu silsilah-silsilah untuk beberapa marga,” jelas Bang Zul.

Bertemu dengan banyak orang itulah yang memberi kenikmatan tersendiri baginya dalam melakoni pekerjaan. Kekuatan saat menyusuri jalan Kota Medan yang padat dimana bahaya setiap saat mengancam. Untuk kembali ke rumah dan menyelesaikan laporan hari itu.

“Dari pekerjaan ini saya bisa kenal banyak orang dan diantara orang banyak tadi bisa menjadi tempat saya bertanya. Hanya itu kenikmatan bagi saya,” aku Bang Zul.
Lamanya waktu melakoni pekerjaan membuat dirinya begitu kenal dengan beberapa kampus yang ada. Seperti di Fakultas Sastra itu. Selesai meneggak teh susu yang dipesannya, Bang Zul tak lupa singgah ke salah satu ruangan di dekanat dan bertegur sapa dengan beberapa pegawai. Sementara di depan pintu kantor dekanat itu tercagak sepeda ontel, teman setianya sebagai peloper koran. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *