Saturday Indie Acoustic, Musik Mereka Bercerita

Art & Leisure

MEDAN-Tujuh kelompok band indie Kota Medan bercerita tentang perjuangan atas karya musiknya. Mereka tampil penuh semangat  di Saturday Indie Acoustik yang digelar Pergerakan Musik Indie Medan (PMIM) di Kantin Fakultas Sastra (KFS) Universitas Sumatera Utara (USU), Sabtu (26/3).

Seperti tema yang diusung, musik yang disajikan tidak seperti biasanya. Tidak ada nada-nada pop menjemukan yang berkedok rock apalagi lirik-lirik cinta yang banyak ditemui pada roman picisan. Yang ada hanya nada keceriaan dari semangat perjuangan.


Diawali penampilan El Condor yang terdiri dari Oktavianus Matondang, Sulaiman Sianturi, Romwel Samosir, dan Oslin membawakan lagu daerah Batak-Bunga ni Holong dari Amigos dalam irama-irama latin dilanjutkan hits Masih Sama milik KLA Project, dan ditutup The Biges.

Penampilan pembuka yang cukup memukau tadi pun berlanjut dengan Depresi Demon. Band yang digawangi Aga (gitar), Dani (bass), dan Rajab (drum) ini kembali memperlihatkan eksistensinya dalam mengusung genre Grunge, aliran yang dipopulerkan oleh band asal Aberdeen Woshington Amerika, Nirvana. Tampak dari dua lagu ciptaannya Valian dan Morning Dace.

Warna lain diusung oleh band Do Not Entre yang mengadopsi irama rock alternatif  pada lagu ciptaannya. Better Naked Before pun tak mau kalah dengan Old School Melodic pada lagu ciptaannya seperti, Bersahabat, Unofficial Love Song, dan Pergi Kau. Karya ciptaan Joseng (drum), Sandro (vokal,bass), marco (gitar).
“Melodi sekarang ini sudah terkontaminasi zaman. Yang coba kita angkat yaitu melodi yang original sebagaimana seharusnya dibawakan,” ucap Joseng, mahasiswa Sastra Cina Fakultas Sastra angkatan 2008 ini.
Not Smprewell yang digawangi Irfandi (vokal), Fandi Putra Nasution (gitar), dan Feri Fadli Nasution (bass) menghadirkan nuansa berbeda dengan aliran old school punk. Satu lagu ciptaannya, ‘5 tahun’ diikuti dengan tiga lagu dari Rancid, band asal Inggris.

Masih ada dua band indie yaitu Day of Emergency dan Anak Coin yang mengusung nuansa berbeda. Mereka memperlihatkan keberagaman warna musik di Kota Medan.  Potensi yang terus berjuang untuk bangkit, melawan dominasi industri pasar di belantika musik tanah air.
Kegiatan yang digelar di KFS USU ini pun dikemas menarik. Dengan sistem reserved yang diterapkan menghadirkan nuansa café-café terkenal. Mengangkat harkat indie yang selama ini identik dengan image brutal. “Kota Medan pernah diakui di belantika musik tanah air namun belakangan hal itu tidak terlihat. Ini yang coba kita (PMIM, Red) angkat demi kebangkitan musik tanah air,” ucap Ketua Pelaksana yang juga Ketua PMIM Ottorio Christian Marsaringar Pangihutan Siregar. (jul)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *