Suara Itu…

Budaya Cerpen

Cerpen : Dessy Wahyuni

“Bang, Bang, bangun Bang. Tak bisa tidur, ni!” Aku mengeluh sembari mengguncang-guncang tubuh besar di sampingku ini. Sudah dua jam aku berusaha memicingkan mata. Bersusah-payah aku untuk bisa menyusup ke dunia mimpi yang saat ini tengah aku dambakan.


Tetapi segala daya upayaku hanyalah sia-sia. Setumpuk kepenatan yang telah kukumpulkan sejak pagi tadi tak berhasil aku singkirkan. Malah kini kian menggunung dan bahkan mengalahkan tingginya puncak Himalaya. Berbagai penenang yang telah kucekoki pada semua organ tubuhku tak ada yang manjur. Mereka meronta-ronta seakan protes padaku sebab telah diperlakukan semena-mena tanpa istirahat sedikit pun.

Ya, istirahat. Itulah yang dibutuhkan tubuhku kini. Setelah seharian beraktivitas. Mulai dari matahari yang masih dalam peraduannya, kemudian perlahan-lahan muncul dengan malu-malu, setelah itu dengan garangnya memelototi bumi, hingga kemudian letih —atau enggan kepada penguasa malam—kembali lagi ke peraduannya semula. Kali ini bulan memiliki wewenang untuk mengawasi aktivitas makhluk di bumi. Dan selama itu pula aku melakukan puluhan bahkan ratusan kegiatan yang mau tidak mau harus aku lakukan. Mulai dari bangun pagi, membuat sarapan untuk anak-anak dan suamiku, membenahi rumah, memikirkan makan siang kami, dan berbagai tetekbengek lainnya—yang kalau kuurut satu persatu akan membuat sebuah daftar yang sangat panjang dan menjenuhkan.

Aku benar-benar butuh istirahat. Butuh tidur. Tidur yang pulas. Tapi suara-suara itu terus menggangguku. Suara-suara itu berusaha mengendap-endap ke dalam telingaku, memasuki rongga otakku, dan berkeliling ke setiap gang dan bilik yang tersusun rapi di sana. Entah apa yang dicarinya. Kadang ia mengendap bagai pencuri yang menyelinap ke sana ke mari. Namun kadang berlari sekencang-kencangnya bak seorang sprinter­ yang berusaha menaklukkan lintasan 100 meternya. Alhasil, setiap ruang di otakku bagaikan kapal pecah kini. Cruel. Semrawut.
Karena kesal, aku pindah ke kamar anak gadisku. Kubentangkan selembar permadani dan kutata bantal yang sengaja kubawa dari kamar tidurku tadi. Aku merebahkan badan dan berusaha untuk rileks.
“Grookk… groookkk… groookkk!”

Sayup-sayup masih terdengar olehku suara-suara itu. Telah lewat tengah malam kini. Dan perlahan akhirnya aku berhasil menerobos dunia mimpi yang benar-benar kuimpikan ini. Kubawa serta pula gundukan keletihan yang berhasil kuciptakan seharian tadi  dan nantinya akan kutitipkan ia di sana.

***
Ngorok. Itulah yang dilakukan suamiku setiap malam. Dalam istilah kedokteran, pola dengkur atau ngorok ini disebut obstructive sleep apnea syndrome (OSAS) atau gangguan nafas obstruktif saat tidur. Dengkuran yang dihasilkan suamiku itu menandakan adanya penyumbatan di saluran pernafasannya saat sedang tidur. Suara dengkuran tersebut berasal dari usaha udara untuk melewati saluran yang menyempit itu.

Selama tidur, otot—termasuk otot pernafasan—menjadi lebih rileks dibandingkan dengan saat terjaga. Pada sebagian orang keadaan ini tidak jadi masalah. Namun pada beberapa orang, terutama yang berusia lanjut, otot yang rileks membuat saluran nafas menyempit dan mengakibatkan penyumbatan. Hal itu pulalah yang terjadi pada suamiku.
Kondisi ini makin diperparah lagi apabila bang Raja dalam posisi tidur telentang, sehingga lidah yang melemas terjatuh ke belakang. Maka terjadi penyumbatan seperti leher botol. Getaran akibat turbulensi udara pada bagian lunak faring karena tekanan negatif di jalan pernapasan saat tidur itu muncul sebagai dengkuran. Atau ngorok.
Sejak awal aku menikah dengan bang Raja, sebenarnya aku telah terbiasa dengan bunyi-bunyian yang dikeluarkannya ketika tidur. Telah 15 tahun usia pernikahan kami. Dan telah 15 tahun pula aku selalu dihadiahi berbagai macam bunyi tersebut setiap malamnya. Mulai dari yang bunyinya halus, agak keras, hingga yang memekakkan telinga.

Namun entah mengapa, beberapa bulan belakangan ini dengkuran bang Raja kurasa semakin keras dari biasanya. Apa karena usianya yang kini telah hampir setengah abad. Beberapa tahun lagi. Atau karena badannya yang menyubur dan rokoknya yang tiada henti. Perut six-pack kebanggannya beberapa belas tahun yang lalu telah pula sirna.

***
Pagi ini aku bangun kesiangan. Badanku terasa lemas. Mataku terasa sayu dan lingkaran hitam memeta mataku yang dulu selalu dipuji-puji bang Raja. Menurutnya, aku memiliki mata yang indah. Tapi pagi ini, keindahan itu telah sirna. Terdapat kantung yang menggelantung kini di bawah mata itu. Aku tak sanggup melakukan apa-apa sekarang. Aku hanya duduk, mencoba menopang badanku yang lesu lunglai.
Bang Raja terlihat begitu mengkhawatirkanku. Pagi ini, dia yang menggantikan tugasku membuatkan sarapan. Kudengar, dia tengah sibuk di dapur. Lima belas menit kemudian, bang Raja datang membawakan sepiring nasi goreng dan segelas susu untukku.

“Nasi goreng istimewa untuk istriku tercinta.” Bang Raja memberikan nasi gorengnya padaku sambil memperlihatkan senyumnya yang menurutku amat menggoda. Dia menemaniku menikmati nasi goreng buatannya sambil memijat-mijat lembut pundakku. Kemudian dia mencium kepalaku dengan penuh kasih sayang.
Sementara itu, anak-anak pamit kepada kami untuk berangkat ke sekolah. Riana, gadis kami yang berusia tiga belas tahun telah menduduki bangku SMP. Kini ia telah tumbuh menjadi gadis remaja. Aku tersenyum mengingatnya. Sedangkan Radika kini telah duduk di kelas tiga SD. Usianya delapan tahun. Mereka berangkat ke sekolah hanya dengan berjalan kaki, sebab letak sekolah mereka tidak jauh dari rumah. Bahkan suara riuh dari sekolah Radika terdengar di rumah kami.

“Aku antar kau ke dokter ya, Dik,” bang Raja membujukku.
“Tak usahlah, Bang. Kurasa aku hanya butuh istirahat.”
“Tapi aku tak tega melihat kondisimu begini. Barangkali sedikit vitamin dari dokter dapat membuat kau pulih kembali.”
“Kalau cuma vitamin, Abang belikan sajalah di apotek. Sekarang aku hanya butuh istirahat. Aku letih. Aku ingin tidur.”

“Ya sudahlah. Kalau memang itu yang kau mau, sekarang istirahatlah di kamar.” Bang Raja membimbingku ke kamar tidur. Kemudian dia menyelimutiku sambil mengecup lembut keningku.
Suamiku memang sangat menyayangiku. Dia lembut dan penuh perhatian. Aku pun sangat menyayanginya. Tiap hari kurasakan cintaku makin bertambah dalam padanya. Dia adalah pasangan hidupku yang mendekati nilai sempurna—karena nilai sempurna adalah milik Tuhan. Barangkali tidak akan ada wanita yang lebih bahagia daripada diriku.
Tapi, apabila malam menjelang, aku mulai tersiksa lagi dengan suara itu….

***
Malam itu, Radika, anak bungsuku kumat manjanya. Ia ngotot untuk tidur bersama kami. Ia merengek-rengek agar diizinkan untuk tidur di tengah-tengah aku dan suamiku. Bang Raja mendongengkan beberapa cerita untuknya, hingga ia pun terlelap. Dan tanpa disadari suamiku pun ikut terlelap. Aku hanya tersenyum menyaksikan mereka.
Lampu kamar masih menyala. Aku masih belum bisa tidur karena siangnya aku  kebanyakan istirahat. Agar bisa mengantuk, aku membaca beberapa buku. Memang telah menjadi kebiasaanku sejak gadis membaca sebelum tidur. Entah karena itu adalah waktu yang tenang untuk membaca, atau   karena memang saat itulah aku sempat membaca, sebab di siang hari begitu banyak aktivitas yang harus aku lakukan.

Perlahan-lahan, kantukku pun mulai menyerang. Aku bergerak, berdiri dari ranjang menuju saklar lampu. Kunyalakan lampu tidur dan memadamkan lampu kamar yang terang benderang. Kini keadaan kamar telah temaram. Kondisi yang pas untuk memejamkan mata.
Baru saja kucoba memejamkan mata, suara itu muncul kembali….
“Grookk… grookkk… grooooookkk!”

“Oh, Tuhan, tolong aku.” Dalam hati aku mendesah. Aku trauma mendengar suara itu. Tak dapat kubayangkan apa yang akan kualami lagi malam itu. Pada saat itulah rasa kesalku muncul pada suamiku. Dan peristiwa itulah yang telah membuat aku lupa bahwa aku mencintainya. Kejengkelan menggondok di dada. Aku sudah tidak tahan. Aku mencoba memutar otak, memikirkan hal apa yang harus aku lakukan agar terhindar dari suara itu. Dan aku pun mendapatkan ide….
“Ayah, Ayaaah… banguuuun. Banguuun, Yah. Ayaaah, Radika nggak bisa tidur nih!” Anakku tiba-tiba terbangun akibat suara itu. Tapi ayahnya hanya bergumam sambil membalikkan badan. Karena kesal, akhirnya Radika pindah ke kamarnya sendiri. Tak jadi nimbrung di kamar kami.

Aku sudah punya kiat sendiri untuk mengatasi suara ngorok bang Raja. Aku bangkit menuju meja rias. Kuambil kapas pembersih muka yang ada di sana. Kubelah menjadi dua dan kemudian kubulat-bulatkan. Bulatan-bulatan kapas tersebut kumasukkan ke dalam telinga kanan dan kiriku. Kini aku tak bisa mendengarkan apa-apa lagi. Hatiku teramat lega. Aku bisa istirahat dengan tenang. Aku tidur sangat nyenyak.

Tengah malam aku terbangun. Kurasakan cairan yang sangat dingin mengalir di rongga telingaku. Cairan tersebut terus mengalir menjelajahi rongga telingaku dengan perlahan. Aku dapat merasakan sensasi dingin di tiap alirannya. Namun tiba-tiba cairan tersebut berhenti mengalir. Berhenti persis di gendang telingaku. Dinginnya cairan masih dapat kurasakan.

Beberapa detik kemudian, sensasi dingin mulai lenyap, dan kini digantikan dengan rasa hangat yang menjalar hingga ke ubun-ubunku. Aliran cairan berhenti total sekarang, dan aku dapat merasakan cairan yang mulai memadat. Perlahan-lahan. Aku dapat merasakan di tiap inci gerakan memadat itu. Aku mencoba menikmati tiap sensasi yang kurasakan. Hingga akhirnya aku pun terlelap. Karena lelah. Atau karena aku merasa sunyi dan sepi.
Paginya aku terbangun. Aku heran, baru kali itu aku tidak mendengar jam wekerku berbunyi. Apa karena aku terlalu lelah? Tapi, aku tidak mendengar apa-apa. Tak satu suara pun dapat aku dengarkan. Aku seakan-akan berada di dalam gua yang sunyi dan senyap. Kulihat bang Raja masih lelap. Tapi tak dapat kudengar dengkurannya. Dan aku teringat kapas yang telah kusumbatkan di telingaku sebelumnya. Aku menjadi lega.

Kucoba mengarahkan jemariku ke kedua telingaku. Kurogoh lubang telingaku untuk mencabut kapas yang terpasang. Namun tak kutemukan benda lembut itu di sana. Kucoba mencarinya lagi. Tetap tak dapat  kutemukan. Aku bergerak menuju cermin di kamar mandi. Kulihat refleksi diriku dalam cermin yang terpasang di dinding kamar mandi. Aku miring ke kanan, dan kuarahkan lubang telingaku ke sana. Dapat kulihat gambar telingaku, tapi aku tak mendapati lubang telingaku. Aku cemas. Kucoba memasukkan jemariku  ke sana, tapi tak bisa. Terhalang oleh suatu benda yang keras dan berwarna putih. Teramat keras.

Aku mulai panik. Kutarik benda yang teramat keras itu, tapi tak bisa. Sebab benda itu seolah menyatu dengan telingaku. Aku sangat tegang. Kuraba telinga kiriku. Hal yang sama kudapati. Kutekan-tekan benda yang menutupi  rongga telingaku itu. Tak ada reaksi. Aku mulai histeris. Kucoba pecahkan dinding yang tumbuh itu dengan mengetuk-ngetuk kedua telingaku. Hasilnya tetap sama. Dinding itu tetap bergeming. Aku bingung. Aku histeris. Aku panik. Aku tak dapat mendengarkan apa-apa. Aku tak bisa mendengar dengkuran suamiku. Aku terkurung dalam sepi.
“Tidaaaaaaaaaakkkkk……” ***

Dessy Wahyuni, adalah pegawai Balai Bahasa Riau. Selain menulis cerpen, juga menulis esai dan menerjemahkan karya sastra. Tinggal di Pekanbaru.

(riaupos)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *