Antara Hobi dan Keprihatinan

Mengabadikan Momen di Tengah Eksotisme Bangunan Tua

Sebagai ibu kota provinsi, Kota Medan memiliki perjalanan sejarah yang sangat menarik. Begitu juga beberapa bangunan tua yang terdapat di pusat kota kerap menjadi objek di bidang fotografi.

Indra Juli, Medan

Seperti yang terlihat di Jalan Hindu Medan, Minggu (3/4). Tampak beberapa kelompok remaja begitu serius dengan peralatan fotonya. Membidik seorang wanita yang berperan sebagai model di masing-masing kelompok. Mencoba mengabadikan momen-momen terbaik di tengah eksotisme dari keberadaan bangunan-bangunan tua tadi.

Satu kelompok yang lebih rame memilih lokasi di bawah bangunan tua yang bersebelahan dengan warung kopi Jalan Hindu yang juga pelatihan senam yoga. Di bawah bimbingan Firman (35), Yogi, Doni, Erfan, dan Dicky membidikkan kameranya kepada sang model.

Setelah itu mereka memperhatikan hasil bidikannya. Untuk hasil yang kurang baik segera dibuang dan dilanjutkan dengan hasil yang lebih baik lagi.

“Penyesuaian pencahayaan akan sangat menentukan hasil jepretan,” pesan Firman yang disambut Yogi dkk.
Sedikit masukan dari sang mentor pun membuat mereka kembali sibuk dengan kameranya. Sedikit mengutak-atik untuk mendapatkan settingan yang pas sebelum membidik kembali sang model yang sudah siap dengan fosenya. “Akhirnya bisa juga,” ucap Doni atas karyanya.

Doni yang juga pelajar di satu SMA swasta di Medan mengaku menyukai fotografi. Dengan kamera Canon 550 D, Doni bersama ketiga temannya kerap menggelar foto sesion di berbagai belahan Kota Medan. Sebagai objek mereka pun mengajak Nia (16) untuk menjadi modelnya. Namun sebagai seorang pemula mereka pun meminta Firman untuk menjadi mentor pada sesi foto sore itu.

Ya, kelompok ini merupakan pelatihan sebagai fotografer. Meskipun tidak berdiri secara formal mereka memiliki jadwal yang tetap. Begitu pun untuk objek foto yang disesuaikan dengan jadwal. “Hitung-hitung refreshing sambil belajar, Bang,” ucap Nia yang mengaku bercita-cita menjadi model ini.

Sementara tidak jauh dari Firman dkk, kelompok lain terlihat lebih rileks. Hanya dua fotografer; Roni (20) dan Erwin (19). Sebagai model ada Rini (17). Kepada Sumut Pos ketiganya mengaku hanya ingin menambah dokumentasi mereka mengenai bangunan tua di Kota Medan. Begitu juga dengan kelompok di persimpangan Jalan Hindu yang tidak jauh berbeda dari Roni dan Erwin.

“Tidak lah, kita tidak serius seperti fotografer. Sekedar foto-foto saja untuk dokumentasi. Kalau ada yang bagus di upload di facebook,” tutur Erwin.

Pemandangan tadi pun menjadi perhatian masyarakat yang lewat. Bahkan beberapa terlihat sengaja memarkirkan kendaraannya untuk melihat kegiatan para remaja tadi. Meskipun setelah mengetahui warga tadi hanya tersenyum dan berlalu. “Oh saya pikir tadi entah apa. Tapi memang sering sih pemandangan seperti ini. Apalagi ada gedung-gedung tua kan. Sayang saja pemerintah kurang memperhatikan,” ketus seorang warga, Siregar (43).

Ya tak diragukan lagi bagaimana keberadaan bangunan tua di Jalan Hindu Medan sangat memprihatinkan. Sekalipun beberapa masih dipakai sebagai kantor tapi lihatlah kondisinya, hancur, kumuh dan berkesan kumal tak terurus. Sebagian lagi sudah berpindah ke tangan penduduk umum dan bangunan aslinya sudah dirombak total.

Dan sekali, lagi lihatlah dengan baik! Jadi bingung juga, apakah ini bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pendahulunya? Entahlah. Yang jelas saat ini kota Medanku sedang berbenah menjadi kota yang metropolis, namun sayangnya mengorbankan asset bersejarah terutama bangunan tuanya, seolah semua memang harus tergilas oleh modernisasi. Uang sudah banyak merubah sifat dan hati manusia, barangkali rasanya. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *