Hadapi dengan Mental Baja, Cuy!

Xpresi

Waktu rasanya cepat sekali berlalu. Baru beberapa bulan yang lalu kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai, sekarang sudah menjalani Ujian Nasional.

Jika semula terjadi kontroversi Ujian Nasional dimana-mana, hmm.. mungkin sudah nggak lagi. Tapi lupakan aja dech, protes sekeras apapun,  UN tetap akan dilaksanain.


E ntah siapa yang berkepala batu, pelaksana ujiannya yang tetap ngotot melaksanakan atau siswanya yang lebih me
milih heboh daripada melakukan persiapan? Mungkin kedua-keduanya berkepala besi kali ya. Upss..

Jelasnya, biarlah anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Biarlah orang-orang berkoar, UN tetap dilaksanakan atau stop UN,  namun persiapan menghadapi UN tetap harus dilakukan.

Misal nih, ikut bimbel, try out ambil bagian terus, bahan-bahan pelajaran UN yang sudah terkumpul selesai dibaca-baca semua, frekuensi belajar telah digenjot pula. Singkat cerita, semua persiapan telah dijalani, lalu apalagi?
Mental. Ya, menghadapi even besar penuh tekanan seperti UN harus siap mental. Elemen yang satu ini tidak boleh disepelekan, karena begitu banyak kasus dimana para jawara di sekolah masing-masing ternyata tidak lulus ujian hanya karena terjadi shock berat ketika ujian berlangsung. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk melatih mental, khusus dalam  menghadapi UN.

Makanya, seringkali UN serasa hantu yang siap menjegal masa depan mereka memang kesannya seram. Tapi itulah kenyataan kalo menurut Xpresi, sebaiknya UN tetap dilaksanakan tapi hanya sebagai standarisasi tanpa embel-embel batas nilai tapi kredebilitasnya dapat dipertanggungjawabkan bukan seperti saat ini standart tinggi tapi kredibilitasnya dipertanyakan.

Karena UN bukan hanya murid yang stress guru-guru pun jadi stress memikirkan bila banyak murid tidak lulus berarti sekolah itu mutunya jelek memang bukan sikap resmi dari diknas tapi paradigma itulah yang tumbuh dalam masyarakat yang akan memasukan putrinya ke SLTA maupun SLTP. Padahal fungsi utama pendidikan itu adalah “memanusiakan” manusia dimana fungsi edukasi dilaksanaka penanaman norma dan nilai serta menyiapkan mereka untuk tantangan millennium ke depan bukanya malah membebani mereka dengan sesosok monster mengerikan bernama UN.

Tapi, untuk keluar dari persoalan ini adalah rajin belajar dan bermental baja penuh percaya diri untuk bisa lulus UN. Jangan pernah gugup karena bisa merusakan konsentrasi kamu untuk mengisi ujian UN tersebut. Oke cuy, selamat berjuang di UN ya…

Yuk kita tanya sobat Xpresi (sobeX) tentang pelaksanaan UN ini, apakah mereka masih kontroversi. Nah, berdasarkan polling yang disebar Tim Xpresi Sumut Pos kepada 200 pelajar di Kota Medan, ternyata 66 persen dari mereka tidak setuju dilaksanakan UN, sisanya 34 persen justru setuju.

Bagi yang tidak setuju karena adalasannya, UN terlalu memberatkan mereka sehingga membuat jadi stess (73 persen), dan UN seperti momok menakutkan karena punya standar nilai kelulusan (14 persen) dan UN bikin mereka fustasi (13 persen).

Lalu, harapan sobeX kepada pemerintah agar standar nilai kelulusan UN disesuaikan di tiap daerah (33 persen), dan UN harus diturunkan standar nilai kelulusannya (67 persen).

Seperti kata Utami, siswi SMA Negeri 3 Medan ini menginginkan agar UN ditinjau kembali. “Aku pengen UN agar d itinjau kembali karena bikin siswa stres dengan standar nilai kelulusannya. Harusnya, standar nilai kelulusannya disesuaikan dengan daerah masing-masing. Tapi kalau mau jujur, aku ingin UN dihapus dan diganti dengan yang lebih bijaksana lagi,” kata dia. (ila)

loading...

1 thought on “Hadapi dengan Mental Baja, Cuy!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *