Bolu Meranti, Awalnya untuk Sarapan

Metropolis

Mengunjungi Ikon Kuliner Kota Medan (4)

Tak lengkap rasanya bepergian ke satu kota tanpa membawa oleh-oleh atau cenderamata. Entah itu dalam bentuk souvenir ataupun makanan tertentu. Begitu juga Kota Medan sebagai salah satu tujuan wisata di Indonesia


INDRA JULI-MEDAN

Pantauan Sumut Pos di Jalan Kruink No.2K Medan sudah memperlihatkan keramaian. Padahal, waktu masih menunjukkan pukul 13.00 WIB. Antrian, bahkan terlihat sampai di luar bangunan berbentuk rumah toko (ruko) itu. Sementara setiap pengunjung yang keluar selalu membawa tentengan berupa kotak berisi roti dalam satu pelastik. Ada yang hanya membawa satu dan tak sedikit yang membawa lebih dari satu kotak.

Pengunjung pun tidak hanya dari Kota Medan, ada yang datang dari luar kota hingga dari negeri tetangga Malaysia. Sebut saja Linda (31), warga Jakarta yang membeli empat kotak Bolu Meranti sebagai oleh-oleh. “Saya tidak pernah lupa deh karena keluarga dan teman-teman di Jakarta selalu pesan Bolu Meranti. Memang rasanya beda dari bolu gulung kebanyakan,” terangnya.

Pengakuan Linda tidak lah berlebih, kue bolu yang dipajang di Jalan Meranti Medan ini telah menarik selera. Rasanya yang khas, lembut dengan mentega yang begitu kentara di lidah membuat bolu buatan Ai Ling (58) ini tak tergantikan oleh penganan sejenis. Beragam pilihan rasa yang khas pun membuat pembeli leluasa memilih sesuai selera.
Penikmat roti bisa membeli bolu meranti mulai Rp40.000 hingga Rp70.000 per potong (panjang 30 cm). Ada delapan rasa tersedia: cokelat, pandan, keju, moka, nanas, kacang, abon, dan blueberry. Pembeli bisa memilih bolu gulung dan bolu bundar dengan lubang di tengah. Tak heran bila toko itu seakan tak pernah sepi.

Seperti yang dituturkan Rika putri sulung dari Ai Ling usaha ini diawali di rumah Jalan Meranti pada 1990-an. Usaha yang dibilang tanpa sengaja karena awalnya Ai Ling hanya membuat roti untuk konsumsi keempat anaknya saat bersekolah. Kenikmatan resep Ai Ling sendiri tercium oleh ibu-ibu rekanan Ai Ling dalam arisan. Mulailah permintaan berdatangan. “Awalnya untuk sarapan kita ke sekolah. Trus teman-teman Mama di arisan mulai pesan via telpon. Karena semakin banyak pesanan yang datang, Mama pun memutuskan membuka toko di rumah,” tutur Rika.

Usaha Ai Ling makin berkembang. Pada 2004, toko berpindah ke Jalan Kruing karena toko di Jalan Meranti tidak lagi mampu menampung pembeli. Ai Ling memindahkan usahanya ke Jalan Kruing dan kini membuka cabang di Jalan SM Raja Medan tanpa melepas merek Meranti karena tuahnya terus mengalir hingga hari ini.(*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *