Tak Transparan

Ayam Kinantan

Uang Tiket dan Sponsor tak Jelas

MEDAN-Pengurus PSMS hingga kini masih menyimpan dalam-dalam hasil pemasukan dari penjualan tiket satu musim lalu. Nilai kontrak dari sponsor yang masuk di putaran kedua juga tak disebutkan oleh pengurus dan manajemen.


Kondisi ini tentu saja menimbulkan tanda tanya. Dugaan demi dugaan pun bermunculan. Khusus untuk pemasukan tiket, hingga saat ini tidak ada transparansi dari pengurus. Padahal Panitia Pelaksana (Panpel) PSMS mengaku akan memberitahukannya ke publik. Saat itu Julius Raja mewakili panpel mengaku akan segera mengumpulkannya. Namun hingga saat ini hal itu tak terwujud. Alasannya adalah uang hasil tiket tersebut masih dihitung.

Menurut kali-kali matematika sederhana, pemasukan dari tiket selama satu musim mencapai Rp1milyar. Hitungan sederhananya adalah harga tiket Rp15 ribu yang paling murah dan Rp10 ribu untuk fans. Setiap pertandingan PSMS musim lalu, rata-rata 10 ribu penonton hadir ke Stadion Teladan. Rp10 ribu dikalikan 10 ribu sama dengan Rp100 juta. Itu satu pertandingan. Dan ingat ada juga harga tiket yang mencapai Rp50 ribu dan Rp25 ribu.

Kalau rata-rata Rp100 juta saja pendapatan tiket satu pertandingan, maka Panpel harusnya menanggok penghasilan satu musim dari 12 partai kandang senilai Rp1,2 milyar. Namun jumlah aslinya tak pernah diberitahukan secara transparan kepada publik. Padahal sebagai klub menuju profesional untung rugi selama satu musim mesti dipaparkan ke publik. Termasuk nilai pendapatan dari kerjasama sponsor, juga harus dipublikasikan.

“Kalau mau jadi klub berprestasi, profesional, harusnya hal-hal seperti itu diumumkan. Jadi publik tak menduga-duga ada tidak unsur korup di kepengurusan PSMS. Kalau diumumkan kan jadi jelas semua. Ini kesannya ditutup-tutupi, jadi semua berpikir negatif terhadap kepengurusan PSMS selama ini,” beber Nata Simangunsong Ketua Suporter Medan Cinta Kinantan (SmeCK ) Hooligan kemarin.

Di samping itu, kepengurusan PSMS pada setengah musim 2009/2010 lalu hingga musim 2010/2011 juga belum melaporkan pertanggungjawaban pemakaian APBD Kota Medan. Padahal ada pengakuan dari salah satu sumber terpercaya koran ini, pihak Kejatisu sudah mulai menyelidiki indikasi kecurangan pemakaian APBD tersebut.
“Lebih baik begitu. Kalau pengurus masih tak transparan, pihak Kejatisu atau Kejari Medan harusnya bertindak untuk mengusut. Harus ada juga audit atas penghasilan musim lalu, termasuk pemakaian APBD tersebut,” pungkas Nata. (ful)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *