Sudah ‘Makan’ 30 Jiwa

On Focus

Terkait Bakteri E Coli, Sumut Awasi Turis

Korban jiwa akibat wabah bakteri E Coli yang melanda Jerman dan negara-negara lain terus bertambah.Sejauh ini sudah 30 orang yang meninggal akibat bakteri pembunuh tersebut. Lalu, bagaimana dengan Indonesia, khususnya Sumatera Utara?


Nah, Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Sumut dr Candra Syafei SpOG, saat dikonfirmasi Sumut Pos, Senin (6/6) lalu, mengatakan telah mengantisipasi hal itu. Menurut Chandra salah satu upaya pencegahan yang dilakukan yakni melakukan koordinasi dengan pihak Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) laut dan udara dalam proses pemantauan turis Eropa yang masuk.

“Dalam hal ini petugas KKP melakukan pemeriksaan kepada wisatawan asing yang masuk ke Sumatera Utara, sehingga bagi wisman yang ditemukan mengalami gejala diare akan dilakukan perawatan terlebih dahulu untuk mensterilkan penularan bakteri,” ujarnya.

Untuk itu, Candra mengimbau agar masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan sebelum makan dan memasak makanan yang akan dikonsumsi.

Sementara ditempat terpisah pengamat kesehatan dr Umar Zein SpPD mengatakan,  bakteri E Coli normalnya ada dalam usus manusia. Dijelaskannya, gejala awalnya diare mengkontaminasi makanan atau tangan yang tidak dicuci, bisa juga melalui bungkus makanan seperti daun yang tercemar E Coli.

Bisa juga melalui kotoran pupuk/ternak yang tertular melalui makanan dan sampai ke usus. “Masa inkubasinya tiga sampai tujuh hari dengan gejala awal yang dialami penderita akni gangguan pencernaan seperti mencret, berlendir serta demam tinggi yang. Diare akut setidaknya dalam dua minggu dapat menyebabkan pendarahan dan berujung kepada kematian,” terang Umar.

Dari Jakarta, Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, memastikan di Indonesia belum ditemukan adanya bakteri  E Coli strain baru, dengan nama enterohaemorrhagic E Coli (EHEC) yang bisa menimbulkan penyakit berbahaya dan mematikan. Penderita  dapat berlanjut menjadi parah dalam kondisi yang disebut  haemolytic uraemic syndrome (HUS) seperti yang terjadi di Eropa.

“Kasus di Eropa ini jadi heboh, karena E-Coli strain barunya. Dan kebanyakan orang di Eropa terpapar bakteri  karena konsumsi sayuran yang tidak dicuci dengan bersih. Jadi mencegah E Coli ini sama dengan mencegah penyakit diare,” katanya.

Kemunculan bakteri E Coli disinyalir lantaran aneka sayuran impor asal Jerman, seperti timun dan tauge. Endang Rahayu Sedyaningsih sempat menjelaskan bakteri E Coli kebal terhadap obat antibiotik dan dapat menyebabkan kematian karena memicu pendarahan yang parah.

Menurut dari data Kementerian Kesehatan, wabah penyakit  ini sebenarnya mulai terjadi di Jerman pada pertengahan Mei 2011. “Selain Jerman, ada 11 negara lain yang menemukan kasus yang sama  yaitu Austria, Republik Ceko, Denmark, Prancis, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swedia, Swiss, Inggris, Amerika Serikat dan lain-lain,” tambah Prof dr Tjandra Yoga Aditama, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI.

Korban jiwa terbaru adalah seorang pria berumur 57 tahun di Frankfurt, Jerman. Bulan lalu pria itu bepergian dengan istrinya ke Kota Hamburg, Jerman Utara, yang menjadi pusat wabah bakteri mematikan E Coli.

Seperti disiarkan AFP, Jumat (10/6), kematian seorang pria berusia 68 tahun dan seorang wanita berumur 20 tahun juga dilaporkan di negara bagian Lower Saxony, Jerman. Berarti hingga kini setidaknya 30 orang tewas termasuk seorang wanita di Swedia yang baru saja kembali dari Jerman.  Lebih dari 2.800 orang di setidaknya 14 negara jatuh sakit akibat EHEC tersebut.

Sementara itu, dokter ahli penyakit dalam di Jakarta, dr Imranito SpPD mengatakan penyebaran E-coli bisa melalui tiga jalan, yakni antarorang, makanan-minuman, serta binatang.

“Pertama, antara orang ke orang, kemudian dari makanan-minuman yang tidak dimasak dengan sempurna, dan bisa pula lewat binatang yang telah terinfeksi lalu menyebarkannya ke makanan dan dikonsumsi manusia, misalnya lalat,” kata internis yang berpraktik di OMNI Medial Center dan Medika Permata Hijau Jakarta ini, Selasa (7/6).

“Semua makanan yang tidak dimasak dengan sempurna atau dicuci dengan air yang tercemar E Coli, mungkin saja karena sudah tercemar dengan tinja yang memang banyak E Coli juga menjadi sumber penyebaran,” imbuhnya. (uma/bbs)

——————–

Tentang E coli

Escherichia coli atau biasa disingkat E Coli adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif. Pada umumnya, bakteri yang ditemukan oleh Theodor Escherich ini dapat ditemukan dalam usus besar manusia. Kebanyakan E Coli tidak berbahaya, tetapi beberapa, seperti E Coli tipe O157:H7, dapat mengakibatkan keracunan makanan yang serius pada manusia.

Jalur Penyebaran :
1. Antara orang ke orang
2. Dari makanan-minuman yang tidak dimasak dengan sempurna
3. Lewat binatang yang telah terinfeksi lalu menyebarkannya ke makanan dan dikonsumsi manusia, misalnya lalat.

Gejala Infeksi
1. diare
2. Kram perut
3. Diare berdarah         (haemorrhagic colitis)
2. mual
3. demam
4. muntah

Gejala Infeksi Serius
1. gagal ginjal akut
2. kerusakan sel darah merah
3. gangguan syaraf
4. stroke
5.koma
*tingkat kematian sebesar 3-5 persen.

Pencegahan
Berperilaku hidup bersih dan sehat. Misalnya, dengan mencuci tangan pakai sabun setelah buang air besar (BAB) dan sebelum makan.
*Anjuran World Health Organization (WHO)
1. jaga kebersihan
2. pisahkan bahan mentah dengan makanan matang
3. masak makanan sampai matang
4. jaga makanan pada suhu aman
5. gunakan air bersih untuk mencuci bahan pangan

SUMBER: BERBAGAI SUMBER

 

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *