Eksistensi Anak Kerani

Inspirasi

Drs Muhammad Syahrir

Dia baru bisa membaca begitu menginjakkan kaki di kelas 3 SD. Berapa tahun berselang, ‘Anak Kebun’ inipun dinyatakan tidak lulus dari SMA N 8 Medan. Setelah setahun mengulang, dia langsung diterima di Universitas Sumatera Utara.


egitulah, menjadi pimpinan organisasi profesi daerah di usia yang masih muda menjadi bukti bagaimana kondisi yang serba kekurangan tidak menghentikan usaha Drs Muhammad Syahrir (45) untuk meraih sukses. Ya, siapa sangka pria yang akrab disapa Sarkum (Syahrir Kumis) ini berhasil meraih jabatan tertinggi pada organisasi profesi Persatuan Wartawan Indonesia Sumatera Utara (PWI Sumut) pada Musyawarah Besar (Mubes) PWI Sumut 2010 lalu. Usia muda dan kiprah di bidang jurnalistik yang masih minim ternyata mampu mengalahkan calon lain dengan pengalaman lebih matang.

“Kalau hanya mengikuti jalan yang sudah ada, kita tidak akan pernah sukses dan akan selalu di bawah. Perlu kreativitas yang disesuaikan dengan kemampuan didukung keyakinan. Pasti bisa sukses,” beber Sarkum yang ditemui di ruang kerjanya Gedung PWI Sumut, Kamis (23/6).

Dengan kondisi tadi, dirinya menggunakan strategi untuk memenangkan pemilihan lewat kekuatan jaringan yang dimiliki. Jaringan yang berhasil dibangun selama melakoni profesi sebagai jurnalis sejak 1990 lalu. Kesamaan pandangan untuk perbaikan harkat dan martabat insan jurnalis yang dipaparkan berhasil meraih suara terbanyak untuk menjadi ketua selama lima tahun ke depan. Jawaban untuk semua keraguan yang kerap ditujukan kepadanya. Lahir di lingkungan perkebunan sebagai anak seorang kerani, Syahrir kecil mengalami banyak keterbatasan. Seperti kesan kolonial yang membuat mereka termarjinalkan dalam pergaulan. Belum lagi harapan besar sang ayah yang harus dipikul sebagai putra bungsu dari sembilan bersaudara. Meskipun untuk beberapa hal, keterbatasan itu memberi hikmah tersendiri baginya.

Di usia lima tahun dirinya sudah memulai pendidikan di Sekolah Dasar (SD). Padahal saat itu pada umumnya pendidikan dimulai di usia tujuh tahun. Syahrir pun menjalani pergaulan yang dua tahun berada di atas. Namun harapan besar sang ayah kepadanya justru berdampak lambat pada pendidikannya. Bahkan, membaca baru bisa dilakukan di kelas tiga. “Karena didikan keras ayah dulu saya jadi trauma. Makanya, sampai kelas tiga saya belum bisa baca. Kalau belajar saya suka menghapal ucapan teman biar bisa menjawab saat ditanya ayah. Tapi, semua itu menempa saya menjadi seperti sekarang,” kenangnya.

Kegagalan lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 8 Medan tidak membuat Syahrir patah semangat. Justru dijadikan hikmah dari usia yang lebih muda tadi. Pengulangan pun dilakukan tanpa beban hingga nantinya memberi hasil yang mengejutkan. Berhasil menjadi lulusan SMA N 8 Medan, anak kebun ini pun berhasil lulus ke Universitas Sumatera Utara (USU). “Orangtua saya memang miskin, makanya kalau kuliah di swasta tidak mungkin. Saya pun bertekad harus masuk negeri dan harus tamat dalam empat tahun. Pokoknya masuk USU dulu, soal ilmu itu masalah lain,” tambahnya.

Suami dari Tuty Haryati Ritonga SE ini pun punya strategi untuk tekadnya tadi. Ketika lingkungan mengejar gelar dokter dan insinyur, dirinya justru memilih Sastra Indonesia di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) di USU. Pasalnya persaingannya kala itu masih kecil sehingga peluang masuk lebih besar. Masalah ternyata belum selesai. Syahrir masih harus berpikir untuk menutupi kekurangan yang dimiliki. Bagaimana dirinya yang tanpa bakat seni tetap bisa tampil di tengah-tengah insan seni. Untuk itu dirinya memilih aktif di organisasi yang menunjang kemampuannya dalam menganalisa masalah. Dengan menjadi Sekretaris Senat Mahasiswa, Syahrir pun dikenal.
Begitu juga strategi mengangkat kajian lirik lagu Iwan Fals sebagai karya sastra untuk skripsi membuatnya berhasil lulus bersamaan dengan teman seangkatan yang lebih dulu selesai sidang meja hijau. Bahkan mendapat apresiasi dari dosen-dosen penguji yang kala itu pakar-pakar sastra. “Kalau mengangkat kajian puisi sastrawan hancur saya karena dosen-dosen itu pasti menguasainya. Saya yang pertama mengangkat itu jadi kesannya mereka yang belajar sama saya,” beber pelahap es campur dan sate padang ini.

Dengan penyatuan otak, hati, dan mulut didukung keyakinan akan kemampuan yang ada Syahrir menciptakan sendiri masa depannya. Dirinya mengawali karir sebagai monitor televisi sebelum menjadi reporter penuh di Harian Bukit Barisan. Status sebagai pegawai tetap di PTP II bahkan ditinggalkan. Saat terjadi reformasi, dirinya yang masih minus pengalaman dipercaya menjadi redaktur pelaksana untuk menangani halaman satu.

Tuntutan kebutuhan tidak membuat ayah dari tiga anak ini mengalah. Agar tetap tampil, Syahrir menolak berkhianat, berpindah ke media lain. Dengan keyakinan akan kemampuan dirinya bergabung membentuk media baru dan tetap sebagai redaktur. Meskipun hanya bertahan enam bulan lamanya. “Kepercayaan hanya datang sekali seumur hidup. Saya pun mencari investor buat harian Realitas dan duduk sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred). Terlepas besar kecilnya media yang penting saya Pemred,” ketus Anggota Dewan Pertimbangan SPS Pusat periode 2007-2011 ini.

Keraguan akan keberlangsungan media yang didirikannya pun dijawab dengan eksistensi yang diperlihatkan hingga menjejak usia 10 tahun. Begitu juga keraguan akan kedudukannya saat ini. Dengan merangkul kalangan akademisi, FISIP USU untuk teori komunikasi, Hukum UMSU untuk pengetahuan hukum, dan FIK Unimed untuk teori olahraga dirinya mengangkat martabat kaum jurnalis dengan keprofesionalan. (jul)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *