Lebih Longgar Kembali ke Tahun 80-an

Trend

Seragam Anak Sekolah

Usia remaja merupakan usia untuk mencari jati diri. Masa peralihan ini yang membuat para remaja menjadi pangsa pasar utama terutama produk fashion. Trend fashion yang biasanya berganti setiap 3 bulan ini juga tidak luput dari perhatian para remaja kota.


Tren fashion bukan hanya pada pakaian glamour atau sehari-hari, seragam pakaian sekolah juga mengalami trend, khususnya seragam sekolah SLTP (SMP) maupun SMU (SMA). Tapi, tak hanya di Indonesia saja tren seragam sekolah ini mewabah, tapi juga di beberapa negara, mulai dari Jepang, Cina, Iran, Rusia, Korea dan lainnya.

Nah, jika ditilik, pada tahun 70-an, seragam sekolah ngetren dengan serba ketat, baik seragam sekolah laki-laki dan perempuan sehingga membentuk tubuh yang jadi terkesan seksi.
Lalu, melaju di tahuan 80-an, seragam sekolahnya beralih ke model serba gobrong. Misalnya, rok sekolah di bawah lutut, untuk celana seragam sekolahnya dengan model ukuran paha yang lebih lebar tapi dibagian kaki justru kuncup (kecil).

Namun, memasuki tahun 2011 ini, tren seragam sekolah justru kembali lagi ke zaman tahun 80-an, tapi lebih dimodif lagi. Seragam ini mengingatkan kita akan zaman ke emasan musik Pop, yang lebih mengedepankan komposisi pakaian yang terdiri dari atasan dan bawahan yang agak longgar. Dan biasanya siswi yang memakai seragam dengan model ini, akan menambahkan aksesoris berupa ikat pinggang sebagai pemanis. Tapi model inilah yang menjadi trend lagi.

Sesuai dengan trend pakaian yang sedang berlaku saat ini, dimana pakaian ala Pop juga sedang booming. Keunikan dari trend seragam ini, yaitu bawahan atau rok yang digunakan panjangnya di bawah lutut yang sesuai dengan aturan yang tetapkan oleh sekolah. “Biasanya anak remaja akan mengikuti trend yang sedang in atau sedang berlaku,” ujar Pengamat Mode dari KM Studia, Afif.

Menurutnya, trend seragam yang sedang berlaku saat ini yaitu kembali ke era 80an, dimana para siswi sekolahan akan memakai baju seragam yang sedikit longgar tetapi tidak body fit. Sedangkan bawahan atau roknya dikancing di pinggang. “Belakangan ini kita lihat rok anak SMA pasti di pinggul dan sepan, tapi batasnya di bawah lutut. Lebih sopanlah,” tambah Afif.

Bagi yang berbokong besar atau yang memiliki berat tubuh sedikit berlebih, lanjutnya,  seharusnya jangan mengikuti gaya seperti ini karena akan kelihatan aneh seperti badut.

Afif menjelaskan, seragam dengan model ini akan menunjukkan lekuk tubuh pada pinggang dan pinggul. “Jadi bagi yang memiliki perut yang sedikit buncit, usahakan untuk menghindari pemakaian ikat pinggang, dan bila perlu baju seragam sedikit dikeluarkan untuk mengelabui mata,” ujarnya.

Nike, salah satu siswi SMA Swasta Eria Medan mengaku, ia juga bergaya seperti itu. “Saya tidak tahu ini lagi trend, hanya saja banyak yang saya lihat teman-teman yang memakai seragam model gini,” ujarnya.

Begitu juga Fika, dari sekolah yang sama. Ia mengaku biasanya siswi sekolahannya merombak sendiri seragam mereka sesuai dengan trend yang sedang berlaku. “Tinggal ke tukang jahit, renovasi sebentar, jadilah model yang diinginkan,” ujar Nike.

Kalau Farah, mahasiswi Ekonomi USU menanggapi model trend seragam sekolah saat ini. “Waktu aku SMA, model seragam kayak begitu dibilang culun, hehehe,” ujarnya.

Staf Pengajar Psikologi Komunikasi Fakultas Fisip USU Emilia Ramadhani mengatakan, untuk trend paling mudah dipengaruhi adalah para remaja, karena cara berfikir mereka yang belum matang.

Menurutnya, seragam sebagai identitas pelajar haruslah disesuaikan dengan pendidikan. “Harus ada ketegasan pihak sekolah dalam mengatur seragam para siswa siswinya. Selain sekolah, keluarga juga bertanggung jawab atas cara berpakaian anaknya yang menjadi murid di sebuah sekolah agar berpakaian terpelajar,” tegasnya.

Menurut Emil, trend yang menjadikan para remaja sebagai sasarannya akan menjadikan trend itu cepat berkembang. “Karena pada dasarnya anak remaja yang cepat terpengaruh,” ujarnya.

Jadi dalam hal ini, tugas sekolah dan keluargalah untuk membuat anak sadar akan lingkungan sekitarnya, termasuk didalamnya trend. “Dukung yang positif dan sadarkan anak bila negatif. Baju seragam sekolah tidak layak dijadikan fashion model,” pungkas Emil. (juli ramadhani rambe)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *