Sebelum ke SPBU, Truk Singgah di Gudang Ilegal

BeritaFoto Metropolis

Hasil Penelusuran Wartawan Sumut Pos

16 Ton Solar Bersubsidi Disita


BELAWAN-Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) terutama jenis solar dan premium, masih meresahkan konsumen di berbagai wilayah di Sumatera Utara. Meski BBM langka, tapi aktivitas penimbunan minyak di gudang ilegal (dikenal dengan istilah siong, red) tetap berlangsung. Sejumlah truk tangki pengangkut BBM terlebih dahulu singgah di siong sebelum ke SPBU.

Fakta itu terungkap dalam penelusuran yang dilakukan Sumut Pos di beberapa tempat, terutama di kawasan Medan Utara. Dari hasil pantauan, mobil tangki minyak PT Pertamina tetap  ‘kencing’ di sejumlah gudang penimbunan minyak tersebut.

Wartawan Koran ini mencoba melakukan penelusuran, Sabtu (9/7) pagi, dengan menunggu di depan depot PT Pertamina Region I Suply dan Distibution Terminal BBM Medan Group Penelusuradi Jalan KL Yos Sudarso KM 20, Kelurahan Pekan Labuhan,  Kecamatan Medan Labuhan. Di depot itu, tampak puluhan mobil tangki minyak keluar masuk. Setelah mobil minyak Petamina keluar dari Depot untuk menyalurkan ke SPBU, wartawan koran ini mencoba mengikuti salah satu mobil untuk mengetahui apakah langsung ke SPBU.

Ternyata, mobil tangki minyak Pertamina yang membawa bahan bakar Solar dengan nomor polisi BK 8723 TM yang baru saja keluar dari Depot Pertamina untuk disalurkan ke SPBU menghentikan lajunya di Jalan KL Yos Sudarso Km 18,5 Kelurahan Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan. Truk ini singgah di gudang penimbunan minyak di tempat itu.

Wartawan koran ini melihat langsung truk tersebut ‘kencing’ di gudang siong. Tampak truk minyak berhenti tepat di depan gudang. Selanjutnya, para pekerja mempersiapkan alat-alat untuk mengambil minyak tersebut seperti drum, ember dan selang. Semua gerakan dilakukan dengan cepat.

Saat itu, pekerja yang mengambil minyak dari truk berjumlah tiga orang. Dua diantaranya mengambil minyak dari tangki dan ditampung di beberapa drum dan ember besar yang sudah disediakan. Sedangkan seorang lagi melakukan pengawasan di sekelilingnya.
Setelah minyak diambil, truk tangki pembawa solar itu melaju ke arah Medan.

Modus yang dilakukan para pelaku adalah mendirikan gudang siong untuk melakukan aktivitas penimbunan BBM. Rata-rata gudang hanya berdindingkan tepas (anyaman bambu) untuk mengelabuhi orang atau petugas. Gudang yang tidak memiliki izin dari pemerintahan setempat masih banyak ditemui di Kawasan Medan Utara.

Wartawan koran ini kemudian keliling memantau puluhan gudang siong di kawasan belawan dan sepanjang Jalan Rahmat Budin hingga Hamparan Perak, Deli Serdang. Di dalam gudang di Jalan Rahmat Budin, tampak sebuah truk tanki berhenti. Tak jelas aktivitas di dalamnya, karena terhalang dinding gudang.

Aktivitas kencing tak hanya dilakukan truk yang baru keluar dari depot. Truk tanki yang baru pulang menyalurkan BBM dari SPBU juga menyinggahi gudang siong. Di Jalan Rahmad Budin sekitar 30 menit, truk tanki yang tak jelas plat BKnya karena sudah berwarna hitam, meluncur ke Depot Pertamina. Wartawan koran ini mengikuti truk hingga depot. Sebelum masuk areal depot, truk itu kencing lagi. Empat orang terlihat mengambil minyak dari truk dari selang yang dimasukkan ke dalam beberapa ember. Kemudian truk baru depot. Aktivitas mereka dilakukan terang-terangan, tanpa ada yang peduli.

Seorang sumber mengatakan, setiap hari mulai pagi hingga malam, puluhan truk tangki secara bergantian berhenti dan masuk ke dalam gudang siong dan setelah sebagian muatannya dikeluarkan, truk baru berangkat ke SPBU.

“Gudang siong ini masih terus beraktivitas walaupun pasakon BBM di SPBU langka, tampaknya gudang-gudang tersebut tidak terjamah oleh hokum karena tidak ada tindakan yang tegas diberikan para pelakunya,” ujarnya.

Dia menambahkan, umumnya jumlah minyak jenis solar yang dikeluarkan dari setiap truk sebanyak seperempat drum atau diistilahkan satu gelang. Diduga, aksi kencing minyak tersebut berjalan mulus karena mendapat dukungan dari sejumlah oknum aparat dan supir mobil tangki itu sendiri.
“Dengan adanya siong, para sopir tangki mendapatkan uang tambahan karena kemungkinan gaji sedikit. Supir itu pun juga diberikan uang oleh pemilik gudang,” kata sumber.

Sore hari wartawan koran ini kembali ke Depot Pertamina. Kejanggalan kembali terjadi ketika truk-truk tangki selesai menyalurkan ke setiap SPBU. Tampak terlihat beberapa orang mengumpulkan sisa-sisa minyak di dalam tangki, saling berebut saat truk memasuki halaman depot Pertamina.
Menurut informasi, truk tangki yang sudah mendistibusikan minyak ke setiap SPBU, selalu ditunggu oknum-oknum yang bekerja sebagai pengumpul minyak.

Mereka menghentikan truk sebelum masuk mengambil minyak. Meskipun hanya sisa, setiap hari bisa mengumpulkan minyak sebanyak ratusan liter. Mereka bekerja secara terkoordinir, berdasarkan memakai shift dan target.
‘’Kami di sini bekerja ada beberapa shift dan ada targetnya setelah kami kumpulkan terus kami jual,’’ kata salah seorang pengumpul minyak tersebut.

Untuk pemasarannya, mereka sudah memiliki penampug tetap yang datang mengambil mintak kepada mereka. Sistem pengambilan minyak juga dibagi beberapa tim dengan jatah berbeda-beda..
Sayangnya, Humas Pertamina Fitri Erika tidak berhasil dikonfirmasi terkait hal itu. Saat wartawan koran ini mencoba sms dan menelpon, yang bersangkutan tidak memberikan jawaban. Namun sebelumnya, beberapa kali Erika mengatakan, pihaknya telah mengantisipasi tindakan nakal para sopir truk dengan memasang GPS agar pergerakan truk terpantau dan mengacak jadwal masing-masing truk.

Sementara itu Polda Sumut melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus), tengah melakukan penyelidikan atas indikasi penyimpangan BBM yang menyebabkan kelangkaan BBM di Sumut dalam kurun waktu satu bulan belakangan ini.
Rencana penyelidikan itu diikuti dengan pembentukan tim oleh Ditreskrimsus, dimana fokus utamanya adalah Depot Pertamina Belawan.

“Berdasarkan perintah Kapolda, kita menurunkan tim guna menyelidiki penyebab kelangkaan BBM. Maka kami membentuk tim melakukan penyelidikan sinyalemen penyimpangan. Senin (hari ini, red) baru dikumpulkan laporannya. Mengenai sinyalemen BBM yang “dikencingkan”, kita menunggu laporan agar bisa menindaklanjutinya,” ujar Kombes Pol Drs Sadono Budi Nugroho SH, Minggu (10/7).

Ketika Sumut Pos menjelaskan adanya praktek “kencing” berdasarkan pantauan langsung di lapangan, dimana ada sebuah truk Pertamina BK 8723 TM “kencing” di Gudang Asiong Jalan KL Yos Sudarso Km 18,5 Kelurahan Pekan Labuhan, Kombes Pol Sadono mengungkapkan, kenyataan itu dapat digunakan kepolisian untuk melakukan penyelidikan secara mendalam. “Terima kasih infonya. Dapat digunakan untuk lakukan lidik di daerah Belawan dan sekitarnya,” katanya.

16 Ton Solar Bersubsidi Disita
Sementara jajaran Polres Tapteng, Jumat (8/7) sore, menangkap dan menyita satu unit truk tangki PT Pertamina bernomor polisi BK 9497 CA di salah satu tangkahan di Pondok Batu, Sarudik Tapteng. Truk Mitshubisi Fuso 220 PS Turbo Intercooler bertuliskan KSU Mega Mandiri diduga menyelundupkan sekitar 16 ton solar.

Informasi dari kepolisian menyebutkan, penangkapan itu berawal dari kecurigaan petugas kepolisian dengan gerak-gerik mobil tangki. Petugas lalu mengikuti mobil tangki yang masuk ke salah satu tangkahan di Pondok Batu. Petugas langsung mengamankan truk dan supir ke Mapolres Tapteng.

Setelah dicek dan ditanya surat-surat supir, mengaku bahwa BBM jenis solar itu seyogianya dikirim untuk APMS (Agen Penyalur Minyak Solar) di daerah Hajoran Tapteng untuk keperluan nelayan.
Kapolres Tapteng AKBP Dicky Patrianegara SH SIk MSi membenarkan penangkapan satu unit mobil tangki berisi 16 ton. Kasusnya kini masih dalam penyelidikan. (ari/mag 11/tob/smg)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *