Tak Pernah Juara Kelas, Sibuk ke Perpustakaan

Metropolis

Gyta Adinda Nasution, Gadis Penemu Ramuan Penyembuh Diabetes

Menyadari sang ayah terserang diabetes dan asam urat, Gyta Adinda Nasution yang masih kecil tak mau berlepas tangan. Dia mencari pemecahan melalui literatur dari perpustakaan Kabupaten Madina. Hasilnya, dia pun menemukan ramuan mujarab saat umurnya baru 13 tahun.


Ridwan Lubis-Madina dan Amran Pohan-Sipirok

Bisman Nasution menceritakan, putrinya yang saat ini sekolah di SMAN 2 Plus Sipirok merupakan anak pendiam sejak masih SD. Meski begitu dia suka bergaul dan disukai teman-temannya. Gyta pun giat membaca.

Bahkan, tutur pensiunan PNS Pemkab Madina ini, setiap ada tugas sekolah teman-temannya selalu belajar di rumahnya. Di sekolah Gyta memang tidak dapat ranking, namun dia selalu masuk 5 besar. Putri ketiga dari empat bersaudara ini selalu disukai guru dan kawan sekelasnya. “Dia sering dikunjungi kawan-kawannya untuk menyelesaikan tugas sekolah dan sangat suka membaca buku,” kenang Bisman memulai cerita dengan Metro Tabagsel (grup Sumut Pos), Kamis (26/1).

Diceritakan Bisman, penemuan ramuan diabetes itu diawali dengan penyakit yang dideritanya. Bisman menderita diabetes dan asam urat. Tahun demi tahun sakitnya malah semakin parah. “Sejak penyakit saya tambah parah dia (Gyta) banyak menghabiskan waktu di luar jam sekolah di Perpustakaan Madina yang ada dekat kantor KPU Madina di Jayu Jati. Dari situ dia mencoba meramu obat-obatan secara herbal atau dari akar-akaran. Setiap hari itu sajalah kerjaannya,” tutur Bisman sembari mengatakan usaha Gyta itu dimulai ketika dia duduk kelas 1 SMPN 1 Panyabungan.

Setelah berulang kali mencoba hingga dua tahun lamanya, saat Gyta sudah duduk di kelas 1 SMA 2 Plus Sipirok, obat yang diramu Gyta mulai membuahkan hasil. Dasarnya, karena minum ramuan obat Gyta, penyakit Bisman menurun. Dan, sejak itu jugalah beberapa orang datang ke rumahnya meminta ramuan obat yang sama. “Ratusan orang sering datang ke rumah untuk meminta ramuan obat itu. Dan ramuannya kami jual Rp70 ribu per kilogram. Ibunyalah sekarang yang membuat obat itu setelah diajari oleh Gyta,” terang Bisman.

Kata Bisman, saat ini Gyta sedang mengikuti pelatihan di USU mengenai ramuan obat yang ditemukannya tersebut. Untuk belajar ini harus mengeluarkan biaya sampai Rp8 juta. “Dia masih mengikuti latihan di USU. Dan selama latihan itu, dia membutuhkan biaya sebesar Rp8 juta. Namun mengenai biaya itu, kepala sekolahnya (Kasek SMAN 2 Plus Sipirok) sudah membantu Rp2,5 juta,” terangnya.

Gyta yang ditemui pada Jumat 11 Nopember 2011 lalu, mengungkap kalau penemuannya tak lain karena sang ayah. “Semenjak ayah terserang diabetes, ketika itu saya masih duduk dibangku kelas 6 SD (SDN Inpres 1425594 Panyabungan). Saya prihatin melihat ayah yang harus makan kentang dan tak boleh makan nasi. Padahal dia begitu suka dengan nasi. Disamping itu, kondisi tubuhnya yang memang gemuk dan suka makan, tampak tak sehat, dan tak bersemangat. Sejak itu saya berniat mencari solusi dengan gemar membaca buku-buku yang berkaitan dengan  diabetes. Hampir setiap hari sepulang sekolah, saya selalu meluangkan waktunya untuk membaca di  perpustakaan daerah,” ungkap Gyta di kelas kelas XII IPA 1 di SMAN 2 Plus Sipirok.

Anak keempat dari pasangan Bisman Nasution SH dengan Dra Lismawati bercerita, saat di SMP kegiatan mencari dan mengumpulkan data tentang diabetes melalui buku dan internet terus dilakukan. Setelah merasa cukup membaca, mulailah Gyta memberanikan diri meramu obat melalui petunjuk buku yang dibaca di perpustakaan. Bercampur rasa sedih, cemas, kasihan melihat kondisi tubuh sang ayah. lantas gadis belia yang lahir di Medan, 2 Juli 1994 itu mulai meramu obat melalui petunjuk buku yang dibacanya. Padahal usianya ketika itu baru 13 tahun. “Saya mulai meramu obat dari buku Pengobatan Ala Hembing. Dengan bermodalkan keingintahuan dan kemauan yang kuat, saya mencoba melakukan beberapa penelitian dan eksperimen untuk mengatasi penyakit diabetes yang diderita ayah,” kata siswa yang bercita-cita menjadi guru dan dosen tersebut.

Diceritakannya, telah banyak tumbuhan obat yang diteliti dan diraciknya, namun beberapa hasil eksperimen yang dilakukan masih sering kurang memuaskan. Misalnya, ramuan daun mahkota dewa yang dikeringkan lalu direbus dan airnya diminum. Lalu, diganti dengan ramuan buah mahkota dewa yang dikerangkan lalu dijadikan bubuk dan diseduh dan diminumkan. Dan hasilnya juga belum memuaskan. Begitu juga ramuan lainnya akar mahkota dewa, ceplukan (pultak-pultak), asupan jus dan ramuan lainnya, namun tetap saja belum mendapatkan hasil yang maksimal. “Awalnya rata-rata ramuan itu hanya bisa membuat ayah bersemangat saja, tetapi setelah diperiksakan kadar gulanya masih tetap tinggi. Dengan keadaan seperti itu saya terus berusaha menemukan obat yang belum pernah dikenal masyarakat, terus mencoba dan mencoba. Atas saran ibu akhirnya saya menemukan obat sederhana bernama kopi gula. Mula-mula kurang percaya dengan hipotesis itu dan karena penasaran akan khasiatnya, obat itu langsung saya minum rasanya pahit,” akunya sambil mengatakan bahan dasar obat hasil temuannya itu masih tetap tumbuhan yang hasilnya menjadi serbuk sehingga namanya diberikan kopi gula.

Selanjutnya, merasa yakin dengan temuannya, ramuan itu pun diminumkan pada sang ayah dan setelah  mengkonsumsi selama dua hari, sang ayah merasa cocok dengan kopi gula yang telah diracik itu. Dan muncul beberapa perubahan positif seperti pandangan mulai normal atau jelas, badan terasa ringan, kulit yang mulanya kendur menjadi kencang kembali, dan badan yang mulanya lemas menjadi berenergi, serta kadar glukosa  melalui pemeriksaan dapat menurun dan ternetralisir.

“Merasa bahagia karena itu suatu kejutan besar dan ayah sudah sejak 3 tahun terakhir kembali makan nasi, dan kadar glukosanya normal kembali,” kata Dinda panggilan panggilan akrabnya.

Setelah menemukan ramuan tersebut, beberapa anggota keluarga dan kerabat dekat serta sahabat keluarga telah ada selain ayahnya yang menderita, memiliki gejala diabetes telah mengonsumsi ramuan itu. Dan hasilnya kadar glukosa mereka dapat terhambat, ternetralisir dan memberikan peluang hidup lebih baik lagi. “Yang saya ketahui penyakit diabetes merupakan salah satu penyakit yang ganas setelah AIDS. Secara uji klinis temuan saya ini belum ada, namun harapan saya kiranya hasil temuan ini mendapatkan uji klinis dan hak paten agar penderita diabetes yang hidupnya selalu pasrah dapat kembali bersemangat dan terbantu. Saya berterima kasih pada bapak Herry Lontung Siregar, bapak guru di sekolah pemerintah daerah dan sahabat dan kaum famili semua yang memberikan atensi dan dorongan selama ini. Kiranya hasil temuan ini bermanfaat bagi kemaslahatan umum terutama penderita diabetes yang selalu kerab merasa asing dan hidup pasrah,” pungkas Dinda. (***)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *