Seperti Pemadam dan Api

z-Index

Anggapan Pria dan Wanita Terhadap Seks

Berapa jumlah terbaik berhubungan seksual untuk mendapatkan manfaat puncak? Prof Perdana Tanzil, mantan Ketua Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa FK USU mengungkapkan, berdasar studi terhadap 112 pasangan menunjukkan bahwa pasangan yang mendapatkan orgasme dua kali seminggu mempunyai daya antibiotik 30 persen lebih tinggi dari pasangan yang kurang aktif dalam kegiatan seksual.


MEDAN- ‘’Sebaliknya, kegiatan seksual yang berlebihan malah merusak immunity boost karena sewaktu orgasme  dihasilkan zat oploid peptides. Apabila zat ini berlebih akan menjadi immunosuppressant,’’ katanya saat jadi keynote speaker simposium 36 Tahun Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa FK USU belum lama ini.

Perdana mengungkapkan persamaan antara mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton, mantan Kepala IMF dan calon Presiden Perancis Dominique Strauss Khan, pegolf Tiger Woods, mantan Gubernur California Arnold Schwarzenegger, aktor kenamaan Charlie Sheeen, anggota Kongres AD Amthony Weiner dan calon Presiden Herman Cain dari Partai Republik yang pernah menggemparkan dunia melalui suatu skandal seks meski diantara mereka memiliki istri yang cantik dan muda.

‘’Karena mereka memegang kekuasaan yang besar, mempunyai self confidence yang besar juga. Karena kepercayaan diri yang kuat ini, mereka cenderung melakukan hal-hal yang menyerempet bahaya. Antara lain melakukan skandal seksual,’’ujarnya.

Secara umum, Perdana menilai pria lebih memperhatikan penampilan wajah, tubuh yang cantik dari wanita. Sedangkan wanita lebih mementingkan sifat dan karakter pria daripada tampang. ‘’Sikap pria dan wanita terhadap seks dapat diibaratkan seperti pemadam kebakaran dan api.  Pria menganggap seks sebagai suatu keadaan darurat yang harus diselesaikan dalam dua menit. Sedangkan wanita seperti api yang menyala,’’ katanya.
Beberapa pembicara lain juga mengangkat masalah seksual. Prof Bahagia Lubis dari Departemen Psikiatri FK USU mengatakan hampir semua problem seksual melibatkan interaksi antara faktor biologik dan faktor psikologik. ‘’Dampak dari problem seksual bervariasi dari ketidakbahagiaan seseorang, frustasi, kehilangan harga diri dan kehilangan fungsi atau peran.

Ferddy Subastian dari Departemen FK USU menambahkan, seksualitas merupakan suatu kebutuhan dasar manusia dan komponen kualitas hidup termasuk pada kelompok masyarakat yang telah  lanjut usia. ‘’Lansia terkadang memiliki ketakutan akan performa yang buruk, hilang atau berkurangnya hasrat seksual, kesulitan dalam mempertahankan ereksi, kesulitan mencapai orgasme, nyeri dalam bersetubuh,’’ ungkapnya.  (dmp)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *