Mampu Jual Album ‘Cermin’ God Bless Rp100 Ribu

Metropolis

Majid Kaset, Mantan Anak Band Penjual Kaset Lawas

Melintas Jalan Gedung Arca menuju Kampus Institut Teknologi Medan (ITM), dua tahun belakangan ini sorot mata para pelintas pasti cepat tertuju pada sebuah lapak pinggir jalan. Di tengah menjamurnya toko-toko penjual compact disk (cd),  hadir seorang penjual kaset-kaset lama yang tak gentar tertelan zaman.


DONI HERMAWAN, Medan

Majid Kaset, biasa dia dipanggil. Ia bermodalkan lapak sederhana berupa lemari buatan untuk memamekan kaset-kaset dagangannya dan sebuah earphone untuk mendengarkan musik lewat tape. Tanpa atap dan penerangan, setiap pukul 3 sore hingga gelap, Majid mencoba hidup dari kaset-kaset dagangannya yang terkesan kuno dan lawas bagi kalangan umum. Tapi tidak demikian dengan para kolektor yang memburu kenangan lewat kaset.

Ada banyak koleksi kaset yang disediakan Majid. Tak tanggung, 5000-an kaset yang dimilikinya. Beragam genre musik mulai dari pop, rock, jazz, blues, alternatif, hingga dangdut dari berbagai musisi luar negeri maupun domestik ada di sana. Koleksi kaset Majid itu pun ibarat surga bagi para kolektor kaset.

“Ya sekitar 5000-an kaset saya punya. Tidak semua saya bawa kemari. Sebagian di rumah. Selain di sini saya juga jual di rumah tapi itu biasanya dari kawan-kawan yang memang minat dengan kaset saya. Peminatnya banyak. Anak muda sampai orang tua. Dari semua kalangan dari yang jalan kaki sampai naik mobil. Yang pasti mereka semua penggemar musik,” kata Majid sambil melayani seorang pembeli.

Bukan waktu yang singkat untuk mengumpulkan kaset sebanyak itu. 10 tahun lamanya ayah empat orang anak itu mengoleksi kaset-kaset itu. Bahkan, ia tak berpikir jika ia bakal hidup dari kaset-kaset koleksinya itu. “Dulu saya masih sebagai kolektor. Biasanya ada teman-teman yang tahu saya suka kaset. Mereka jual. Selain itu di belakang Ramayana dulu ada toko kaset lama dan saya sering main ke sana. Keseringan datang ke situ jika ada barang baru saya suka ngambil yang sisa. Dari situ aku beli dan kumpulkan hingga bisa sebanyak ini selama 10 tahun. Tapi karena tuntutan ekonomi harus saya jual. Meskipun sebenarnya sayang,” kenangnya.

Untuk koleksi kaset terlawas yang dimiliki Majid adalah Beethoven, Elvis Presley dan lainnya. Kaset langka 1970-an ia punya Grand punk, Free, Bad company, Ufo, Duo Kribo, Aka, Rod Stewart, John Lennon, The Cats dan lainnya. Namun koleksi terbanyaknya berkisar di tahun 80-an hingga 90-an dan awal tahun 2000-an. “Tahun 1960-an biasanya musik-musik klasik yang saya punya. Yang paling banyak memang tahun 80-an. Kalau album-album sekarang jarang. Paling yang awal 2000-an saya punya,” lanjutnya.

Selain itu harga-harga yang ditawarkan cukup terjangkau. Berkisar hingga 10 ribu-35 ribu. “Yang termahal itu kaset rock. Bisa sampai 35 ribu saya jual. Karena memang proses mendapatkannya sulit. Kita harus kontak kawan-kawan dari luar. Itupun mendapatkannya harus membujuk. Apalagi penggemar musik Rock ini biasanya orangnya idealis. Seperti lagu Europe yang terkenal biasanya Final Countdown. Tapi begitu mendengar satu lagu mereka akan mencari lagu-lagu dari album lainnya. Tapi kalau untuk Pop dan dangdut saya hanya patok 10 rib sampai 15 ribu,” kata mantan personel grup musik bergenre Trash Metal, Akhlak pada 1988-1997.

Untuk kaset termahal yang pernah ia jual adalah album Cermin dari God Bless yang laku 100 ribu rupiah. “Itu mendapatkannya memang sulit. Bahkan saya belinya saja sudah modal 80 ribu. Ada teman yang minta,” katanya.

Keorisinalitasan menjadi keunggulan dagangan pria yang juga mahir dalam usaha perbaikan dan pemasangan kamera CCTV. Apalagi bagi para kolektor, keorisinalitasan itu menjadi hal yang utama. Meskipun kaset tersebut sudah lusuh covernya atau kondisinya sudah tak lagi apik. “Orisinal itu penting. Kalau pandangan para kolektor itu biar jelek tetap ori. Karena bagaimanapun barang orisinal itu tetap dicari orang. Ketahanannya tetap lama, 20 tahun ke depan masih bisa kita dengar. Beda dengan kaset bajakan yang semakin lama suaranya hilang,” katanya.

Memang tak dipungkiri eranya kaset mulai ditinggalkan karena teknologi yang berkembang kini semakin memanjakan penikmat musik untuk mendapatkan lagu-lagunya dalam bentuk CD maupun MP3 yang bebas diunduh di internet. Namun, Majid Kaset bergeming dengan perkembangan itu.
“Perbedaan kolektor kaset biar pop biar dangdut dan rock dia gk mau beralih ke CD. Memang untuk mendapatkan CD yang banyak lagu cukup punya modal 5 ribu hingga 7 ribu. Tapi tidak bertahan lama. Sebulan bisa macet. Selama rajin ngerawat kaset itu tentu akan lebih bagus suaranya,” lanjutnya.
Bahkan menurutnya kaset bekas akan selalu dicari walaupun nantinya produksi kaset dihapuskan. “Memang saya dengar pada 2012 katanya gak produksi lewat kaset lagi. Tapi, tidak perlu takut. Ini semacam tradisi. Kaset bekas tidak akan bisa hilang sampai kapan pun,” ulasnya.

Majid pun tak segan membeberkan sejumlah tips untuk merawat kaset agar suaranya tetap enak. Selain dengan sparepart berupa rewind manual, Majid membenarkan tips merawat kaset dengan memasukkannya ke lemari pendingin. “Yang paling vital itu pita dan penggulungnya yang sering putus. Dengan rewind manual bisa kembali bagus. Tapi alat ini sudah tidak ada produksi lagi. Dulu banyak tahun 90-an. Selain itu masukin di kulkas juga benar. Asalkan nanti setelah basah dikeringkan dengan benar agar kotoran berupa jamur mengelupas. Bisa dengan diputar berulang-ulang. Yakinlah suaranya akan kembali bagus,” tambah pria kelahiran Pematangsiantar ini.

Di akhir cerita, Majid yang merupakan penggemar musik turut memberikan pendapatnya soal perkembangan musik Indonesia. “Sekarang studio rekaman yang beli karya band. Kalau dulu anak band yang menyodorkan karya mereka agar diproduksi. Yang menjadi paham lagu itu bisa bertahan lama dan bisa gak jadi legenda? Tapi sekarang beda. Cuma memikiran pasar. Banyak band-band di Amerika tidak memikirkan pasar. Contoh saja Scorpion dan Deep purple yang lagunya tetap dinikmati meski zamannya sudah berbeda.Anak muda sekarang juga,” pungkasnya. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *