Aksi Coret Baju Siswa Medan Usai UN

Metropolis

Sudah Dilarang, Siswa Tetap Coret Baju

Seluruh kepala sekolah sudah diimbau Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan, Rajab Lubis, untuk melarang siswa didik melakukan coret baju usai pelaksanaan Ujian Nasion (UN) tingkat SMA/MA.


Nyatanya, imbauan tersebut tak diterge para siswa. Mereka tetap mengapresiasikan diri lewat aksi coret baju di luar lingkungan sekolah begitu UN usai.
Di SMAN 5 Medan, ratusan siswa terlihat begitu antusias saat melakukan aksi coret baju di depan sekolahnya yang berlokasi di Jalan Pelajar nomor 14, Kamis siang (19/4) sekitar pukul 13.15 WIB.

Menggunakan tinta piloks dan spidol berbagai warna, puluhan siswa tak canggung untuk saling mencoret baju hingga rambut mereka. Bahkan puluhan siswa juga nekat berada di tengah jalan untuk mengabadikan kegiatan mereka dengan kamera yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Alhasil aksi coret baju di depan sekolah itu, sempat mengganggu pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut. Bagi Haris, salah satu siswa, aksi tersebut merupakan tradisi setiap tahun usai melaksanakan ujian nasional.

“Ini sebagai bentuk  luapan kegembiraan kami, karena  telah melewati masa-masa yang menegangkan. Ini juga momen setahun sekali, jadi tidak ada salahnya kami melakukan ini sebagai kenang-kenangan ,” ujarnya.

Melihat kondisi itu, Kepala Sekolah SMAN 5 Medan, Lindawati mengaku, jika pihaknya sudah memberikan imbauan dan melakukan razia kepada siswa guna menghindari  aksi coret seragam sekolah ini.

Hanya saja aksi  ini terjadi di luar lingkungan sekolah, yang bukan lagi menjadi tanggung jawab sekolah.
“Kami sudah mengimbau siswa agar tidak ada aksi coret baju. Tetapi kalau tetap berlangsung kita tidak bisa ambil sikap karena hal itu dilakukan di luar sekolah bukan di dalam sekolah ,” katanya.
Sementara itu aksi coret baju juga dilakukan para siswa SMAN 7 Medan. Meskipun hanya menggunakan spidol, namun tidak menyurutkan para siswa untuk tetap melakukan aksi coret baju.
“Sebelum ujian kita telah mengimbau para siswa untuk tidak melakukan aksi coret baju. Bahkan kita juga menggeledah tas siswa dan menyita tujuh cat piloks dan 15 spidol milik siswa,” kata Kepala Sekolah SMAN 7 Medan, Daud saat ditemui di sekolahnya.

Sementara itu, guna minimalisir aksi coret-coretan yang kerap dilakukan oleh siswa di Kota Medan, usai melaksanakan Ujian Nasional (UN), para siswa dan para guru Sekolah SMAN 3 Medan melakukan doa bersama serta diikuti dengan pengumpulan pakaian seragam sekolah.

“Coret-coret baju merupakan tindakan mubajir dan tidak mencerminkan kepribadian seorang kaum intelektual, dan itu sangat menyedihkan serta memprihatinkan sekali, dimana usai melaksanakan UN, yang notabene adalah cara untuk menentukan kualitas mutu pendidikan malah dikotori dengan melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai moral dengan melakukan coret-coret seragam sekolah, dimana, diseragam sekolah tersebut memiliki nilai-nilai kebangsaan yang harus dihargai, karena di dalamnya memiliki nilai tertinggi dalam menggapai cita-cita dan masa depan,” ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Emiruddin Harahap di hadapan sejumlah siswa, usai melaksanakan UN.

Menurut Emir,  aksi coret-coret yang dilakukan oleh siswa di Kota Medan, tanpa terkecuali juga dilakukan oleh siswa SMA Negeri 3, yang selama ini terjadi diakuinya merupakan luapan euforia para siswa usai melaksanakan UN.

Namun, mengapa tradisi yang mubajir tersebut tidak diubah dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat positif.

“Satunya yakni dengan mengumpulkan seragam sekolah bekas, adalah kegiatan positif yang harus dilakukan oleh seluruh siswa di kota Medan, terutama siswa SMA Negeri 3. Dengan kegiatan ini, diharapkan nantinya hasil pengumpulannya bisa dipergunakan atau didistribusikan kepada adik-adik kelas atau orang-orang yang tidak mampu, dan itu sangat mulia serta mencerminkan seorang kaum intelektual,” ujarnya. (uma)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *