Meniti Sukses dengan Kesungguhan

Sosok

Deni Surya, Pengembang di Pemilik Kruing Gorup One

Deni Surya adalah pengusaha properti yang bangkit dari kegagalan. Di usianya yang masih muda, 32 tahun, Deni sukses membangun tiga komplek perumahan di tiga lokasi berbeda. Bagaimana perjalanan jatuh bangun pebisnis pengusaha muda ini, berikut petikan wawancaranya:


Sebagai orang muda, banyak yang bilang Anda di jalur sukses. Faktanya, dalam tiga tahun, sejak 2009, berhasil membangun dan memasarkan komplek perumahan di tiga tempat berbeda.Tangapan Anda?

Apakah saya sudah pantas dikatakan sukses? Belum lah (tersenyum).

Soal pencapaian hingga saat ini?

Banyak orang bilang itu faktor keberuntungan, saya bilang… (sambil tersenyum lagi). Orang-orang bilang kekuatan imajinasi itu luar biasa. Itu juga yang saya alami sejak kuliah dulu. Saya orangnya optimis dan ceria. Kalau punya keinginan, selalu terwujud. Pertama, keinginan itu saya renungkan. Kalau sudah mengksirtal, saya kerjakan dan pasti terwujud.

Pengalaman dari kuliah, orang bilang saya biasa-biasa saja. Pada 1999 krismon, selepas SMA, orangtua bilang, kalau enggak (kuliah) di (universitas) negeri, enggak usah kuliah. Jadi saya harus kuliah di PTN. Itu tekad saya, harus masuk PTN. Syukur, saya diterima di Fakultas Teknik Sipil USU.

Saya tidak membiarkan orang lain menggagalkan keinginan besar saya. Kalau ada yang bilang ‘gimana kalau gagal’, saya enggak suka itu. Karena pertanyaan itu bukan untuk saya.

Kapan memulai usaha?

Saya sudah mengenal dunia itu sejak di bangku kuliah. Rental komputer dimodali orangtua. Waktu itu usaha merugi, orangtua marah, modal tak kembali. Tapi saya tidak menyesal. Selepas kuliah, sekitar 2004, saya mencoba menjadi kontraktor.

Bagaimana perjalanan usaha Anda?

2006/2007, usaha kolaps, bangkrut, bahkan minus. Mengutip ucapan Dahlan Iskan dalam pengantar buku Kaya tanpa Bekerja (jadi pengusaha), saya mewarisi penyakit usahawan baru: sirik dan sungkan. Sirik itu tidak fokus ke satu usaha saja. Punya usaha lebih dari satu membuat konsentrasi terganggu. Kalau sungkan, enggak berani nagih piutang. Akhirnya banyak yang pindah atau lari. Ha… ha… ha….

Setelah usaha rental, akhirnya Anda gagal kembali. Seperti apa rasanya?

Waktu itu, sangat tidak enak. Apalagi saya sudah menikah dan punya anak. Kepercayaan diri ngedrop. Saya dicari-cari orang, penagih utang. Kalau ada sepeda motor atau mobil berhenti di depan rumah, saya waswas. Jangan-jangan mau menagih utang. Saya jadi paranoid. Akhirnya saya bangkit, berkat dukungan istri dan keluarga. Kegagalan itu pelajaran sangat berharga bagi saya. Bukankah kita mengetahui melakukan kesalahan setelah melakukannya?

Apa yang dilakukan setelah bangkit dari kegagalan itu?

Setelah kepercayaan diri mulai pulih, saya baru ingat, saya punya izajah sarjana. Tahun 2007, saya melamar dan diterima kerja di perusahaan yang punya proyek di Aceh. Waktu itu, Aceh sedang jadi pusat perhatian internasional, pasca terjadinya tsunami. Sambil bekerja, saya menangkap peluang bisnis. Kebetulan di sana jasa konsultan anggaran masih minim. Perlahan saya mulai mengumpulkan modal lagi. Pada 2009, proyek selesai dan saya pulang ke Medan. Buka bisnis baru, usaha kecil-kecilan.

Apa jenis usaha Anda?

Tetap di bidang sipil. Bangun rumah, bangun ini-itu. Saya mulai dari nol lagi. Dari awal, cita-cita jadi developer. Sambil jalan (berusaha), saya belajar, termask dari buku-buku yang saya beli. Selain itu, bergabung dengan REI dan tukar pikiran dengan developer lain.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk eksis kembali?

Tahun 2010, bisa dibilang awal titik kebangkitan. Saya dapat proyek membangun sekolah di Padang dengan nilai miliaran rupiah. Bangun sekolah bantuan dari Korea, Korean International Cooperation Agency (KICA)

Tak lama kemudian, saya ditawari kerja sama membangun perumahan di lahan seluas setengah hektare di Sergai. Lalu kami membangun perumahan dengan jumlah 25 unit rumah tipe 45. Namanya Graha Firdaus. Alhamdullilah, dalam 2,5 bulan, semua unit ludes terjual.

Dalam waktu singkat bisa menjual semua unit, apa rahasianya?

Lokasinya memang strategis, di depan kantor bupati. Selain itu, kami memakai kiatnya pemasarannya: harga bersaing, DP terjangkau di bawah 10 persen, sekitar 11 juta rupiah.

Sukses di kerja sama awal, ada proyek lanjutan?

September 2011, kami mulai lagi pembangunan Graha Firdaus 2 di depan Rumah sakit Sultan Sulaiman. Tahap I, kita bangun 25 unit rumah, memanfaatkan 34 persen lahan. Sekarang sudah terjual separuhnya.

Selain itu, kabarnya ada proyek perumahan lain. Dimana itu?

Oh iya. Saat ini kami sedang memasarkan perumahan Graha Sempurna di Pasar 7 Tembung. Ada 28 unit tahap I, tapi sudah hampir habis.

Punya cita-cita yang belum kesampaian?

Yah…. Saya berkeinginan membangun rumah murah untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah yang benar-benar membutuhkan.

Mengapa tidak membangun rumah bersubsidi?

Rumah subsidi? Pemerintah mengisyarakan untuk mejual rumah seharga Rp70 juta. Sekarang ini, cari tanah susah, harganya aja sudah berapa. Belum lagi harga bahan bangunan yang terus melambung.

Bagaimana dengan program kredit Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk rumah murah itu?

Sulit juga. Pengembang pasti kejar profit. Dengan kondisi saat ini, bila tidak pintar-pintar, bisa-bisa developer balik modal atau malah merugi.

Rumah murah bersubsidi, untuk saat ini idealnya berharga Rp90 juta. Apalagi, saat bangun rumah banyak tanah yang hilang untuk fasilitas seperti jalan dan fasilitas sosial lain. Row jalan setidaknya 6 meter. Dalam kawasan perumahan, fixed yang bisa dibangun rumah hanya 60-70 persen untuk unit. Sisanya untuk jalan dan fasos (fasilitas sosial) lain. Tapi sebaiknay pengembang jangan hanya mengejar profit melulu.

Tiga proyek perumahan yang dibangun, seluruhnya tipe 45. Tidak ada niat untuk membangun rumah tipe lebih besar?

Pasti ada, mungkin nanti. Untuk sekarang belum. Apalagi per Juni nanti, pemerintah menetapkan kebijakan DP 30 persen. Harga semen dan besi tak terkendali. BBM enggak jadi naik, tapi dampak penundaan, harga-harga sudah terlanjur melambung.

Bagaimana pengaruh kebijakan uang muka 30 persen tersebut terhadap pasar perumahan?

Kita lihat sajalah…. (tms)

Bahagia dulu Baru Sukses

Sebagai orangyang memegang teguh prinsip optimis dan ceria, Deni Surya filosophi terbalik dibanding orang kebanyakan. Bila ada yang berpandangan kebahagiaan diraih saat seseorang mencapai sukses, bapak tiga anak ini berprinsip, bahagia dulu baru sukses.

“Bahagia itu datang dari diri sendiri. Kalau sudah bahagia, perasaan pasti tenang. Kalau sudah begitu, jalan meraih sukses tinggal menitihnya saja,” ujar pengurus PKS Kecamatan Percut Seituan ini.

Deni tak keberatan membagi 7 kunci bahagian yang dipedomaninya. Menurutnya, tiga unsur berasal dari diri sendiri, tiga hasil interaksi dengan orang lain, dan satu lagi hasil interaksi dengan Tuhan pencipta. Tiga unsur pertama adalah sabar menghadapi hidup, mensyukuri apa yang ada serta kemampuan menyederhanakan masalah. Tiga unsur kedua adalah kerelaan memberi maaf, keikhlasan memberi termasuk bersedekah, serta memiliki rasa cinta dan kasih kepada sesama. Yang terakhir, pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. “Sebagaimuslim, saya menyebutnya tawakal. Serahkan semua urusan pada Tuhan,” tukasnya.(tms)

Kiat Bisnis Deni Surya

Demi menjaga kepuasan konsumen, Deni Surya selalu menjaga kualitas bangunan perumahan. Tak masalah walau biaya produksi membengkak Rp5 juta atau lebih dibanding bangunan sejenis yang dikembangkan developer lain. Berikut kiat bisnis Deni Surya:

  1. Membangun rumah tanpa menunggu booking fee dari calon pembeli.
  2. Garansi bangunan selesai tepat waktu kepada konsumen.
  3. Menjaga kualitas bangunan.
  4. Menggunakan cat kualitas propan dan sejenis, bukan cat kapur.

Tentang Deni Surya

[table]

TTL ,”: Sambirejo Timur, 14 Juli 1981″

Agama ,: Islam

Pendidikan ,: S-1 Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara (USU)

Pekerjaan ,”: Pengembang Perumahan Graha Firdaus, Sei Rampah
Pengembang Graha Firdaus 2, Sei Rampah
Pengembang Graha Sempurna, Tembung”

Istri ,: Endang Yunita

Anak-anak ,”:1. Habib Ahmad
2. Muhammad Hudzaifah
3. Muhammad Hanafi”

Hoby ,: Membaca dan Traveling

[/table]

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *