Sumut Butuh Aksi, Bukan Janji

Metropolis

Dua Jam Kamaluddin Harahap di Kantor Sumut Pos

Setelah meninggalnya mantan Gubernur Sumut HT Rizal Nurdin dalam kecelakaan pesawat Mandala di Jalan Jamin Ginting, pada 5 September 2005 silam, roda pembangunan di Sumut mulai terseok-seok.


Bahkan, saat pasangan Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho menjabat sebagai gubernur dan wakil gubernur Sumut mulai 2008 lalu, pembangunan tak berjalan seperti yang diharapkan Parahnya, kini kondisi pembangunan dan perekonomian di Sumut semakin tertinggal dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Selatan dan Riau. Bisa dikatakan, saat ini terjadi stagnasi pembangunan yang disebabkan banyaknya persoalan yang terjadi di Sumut yang melibatkan kepala daerah.

“Saya sebagai putra daerah Sumatera Utara merasa miris melihat kondisi Sumut saat ini. Pembangunan di Sumut tak berjalan, khususnya sejak meninggalnya Rizal Nurdin hingga masa Syamsul Arifin yang kemudian digantikan Gatot, karena terjerat kasus hukum,” kata Wakil Ketua DPRD Sumut Kamaluddin Harahap kepada awak redaksi Sumut Pos saat berkunjung ke Graha Pena Medan, Jalan Sisingamangaraja Km 8,5 No 134 Medan Amplas, Rabu (30/5).
Menurut Kamal, saat ini, dari segala aspek Sumatera Utara dalam kondisi memperihatinkan. Baik dari segi infrastruktur, ekonomi, pendidikan, bahkan olahraga.

“Dalam hal infrastruktur, kita masih kalah jauh dari Sumatera Barat. Saya pernah melintas dari Sumatera Barat menuju Medan. Di Sumatera Barat, jalan-jalannya mulus. Tapi setelah memasuki wilayah Sumatera Utara, jalan-jalannya mulai berlubang,” jelas politisi PAN ini.
Menurutnya, infrastruktur yang jelek ini, sangat memengaruhi perekonomian masyarakat Sumut. Pasalnya, investor bakal enggan menanamkan modalnya di Sumut karena infrastrukturnya tak mendukung dan sangat memperihatinkan.

Demikian juga di bidang pendidikan. Menurutnya, pada 2008 lalu ada program beasiswa dari Pemprovsu bagi 130 ribu guru yang belum sarjana. “Namun sejak dua tahun lalu, ternyata program itu sudah tidak berjalan lagi. Belum lagi persoalan infrastruktur pendidikan seperti sekolah rusak. Di Sumut, ada 19 ribu lebih bangunan sekolah yang rusak. Ini harus menjadi perhatian pemerintah, khususnya gubernur mendatang,” kata Kamal.

Disebutkannya, banyaknya kepala daerah di Sumut yang jerat kasus korupsi, juga sangat memperngaruhi citra Sumut saat ini. “Jadi, merosotnya citra Sumut di tingkat nasional juga dipengaruhi masalah dugaan korupsi ini. Ini tak bisa dipungkiri,” bebernya.

Karena itu, lanjut Kamal, untuk memajukan dan mengembalikan citra positif Sumut, dibutuhkan figur atau sosok pemimpin yang berpengalaman. Khususnya mampu melihat pentingnya keseimbangan antara legislatif dan eksekutif dalam menjalankan pemerintahan daerah. “Sehingga masyarakat Sumut ke depan benar-benar merasakan kinerja atau kebijakan yang dilakukan pemimpin tersebut mampu melakukan peningkatan perekonomian rakyat,” kata Kamal.

Dalam diskusi di kantor Sumut Pos yang berdurasi 1,5 jam itu, Kamal menyampaikan kesiapannya untuk maju dalam Pilgubsu mendatang. Kamal juga mengaku optimis dan yakin kalau DPP PAN bakal mengajukan dirinya untuk maju sebagai Cagubsu. “PAN mengajukan calon melalui hasil survei. Jadi, jika melihat hasil survei, saya yakin kalau DPP akan mencalonkan saya sebagai Gubsu,” kata Kamal sembari membeberkan bocoran survey yang dilakukan seorang tokoh yang juga ingin maju dalam Pilgubsu. Dalam survey tersebut, Kamal mendapat angka yang cukup memuaskan.

Lantas, apa yang bakal dilakukan Kamal jika terpilih sebagai gubernur? Menjawab pertanyaan itu, Kamal mengungkapkan, dia akan memberdayakan segala potensi ekonomi regional di masing-masing daerah untuk kemajuan Sumut. “Jadi, nilai plus yang ada di setiap daerah akan saya berdayakan. Karena selama ini, potensi yang ada di daerah tak pernah diberdayakan dan selalu dikelola oleh daerah masing-masing, sehingga potensi yang ada tak memberikan dampak yang positif bagi Sumatera Utara,” bebernya.

Terlepas dari itu, kunjungan ke kantor Sumut Pos tampaknya dimanfaatkan benar oleh Kamal. Setelah diskusi, dia pun mengunjungi percetakan. Ditemani Wakil Pimpinan Umum Sumut Pos, Affan Bey Hutasuhut, Kamal terlihat fokus melihat mesin-mesin yang mencetak koran Sumut Pos dan grup itu. Menariknya, di antara mesin-mesin itu, perbincangan terus mengalir. Bak diskusi, tema perbincangan pun kembali menyoroti perkembangan Sumut ke depan.

Tak pelak, lebih dari setengah jam Kamal berada di ruang tersebut. “Yang dibutuhkan calon pemimpin Sumut mendatang adalah aksi, bukan janji,” katanya sembari permisi untuk meninggalkan Graha Pena Medan. (*)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *