Dua Penyiksa PRT Belum Ditahan

Hukum & Kriminal

MEDAN, SUMUTPOS.CO- Dua wanita tersangka penyiksaan pembantu rumah tangga atas nama Sarmila dan Radika, belum ditahan dengan alasan berbeda. Sarmila, majikan Sri Dewi yang melompat dari lantai 2 rumah majikannya di Jalan Rawa Lorong Mulia Jadi Kelurahan Tegal Sari Mandala III Kecamatan Medan Denai, Jumat (5/12) pagi, belum ditahan karena ancaman hukumannya di bawah 5 tahun.

“Statusnya sudah tersangka. Kita jerat Undang-Undang kekerasan secara psikis ralam rumah tangga dan Undang-Undang Perlindungan. Namun tidak kita tahan karena ancaman hukuman dari pasal itu, 3 tahun 6 bulan,” ungkap Menurut Kapolsek Medan Area, AKP Yudi Frianto, kemarin.

Mantan Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Medan itu menyebut, pihaknya akan berkordinasi dengan Kejaksaan pada Senin (8/12). “Besok kita ketemu dengan Jaksa untuk menentukan penerapan trafickingnya. Sekalian, kita juga minta petunjuk untuk melengkapi alat buktinya. Kalau sudah lengkap alat bukti kita untuk menjerat dengan Undang-Undang Traficking, bisa kita tahan,” tandas Yudi.


Sementara itu, Radika yang juga menjadi tersangka penyiksaan terhadap PRT hingga tewas, juga belum ditahan. Wanita yang tinggal di Jalan Madong Lubis, Jalan Angsa Simpang Jalan Beo Kecamatan Medan Timur itu dibantarkan ke Rumah Sakit Bhayangkara, Jalan Wahid Hasyim Kecamatan Medan Baru karena sakit.

“Sakit, gulanya drop. Sejak sepekan lalu. Dari pada lewat dia ditahanan makanya kita bawa ke sana. Karena kata dokter di sana harus dirawat, makanya kita bantarkan,” ungkap Kepala Satuan Tahti Polresta Medan, AKP S Nainggolan, Minggu (7/12) siang.

Suami Radika, Syamsul Anwar kini menghuni Blok B, ruang tahanan Polresta Medan. Sementara 5 tersangka lainnya yakni M Tariq Anwar aliasPai, Bahri Fahrezi alias Bari, Ferry Syahputra, Kiki Andika dan Jahir, disebut AKP S Nainggolan masih menjadi tahanan Sat Reskrim Polresta Medan, karena masih dalam pengembangan.

Diketahui sebelumnya, Sarmila ditetapkan sebagai tersangka setelah pembantu rumah tangganya bernama Sri Dewi (15) warga Jalan Bunga Dalam Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batubara, nekat melompat dari lantai 2 rumah itu, sebagai upaya melarikan diri. Sri mengaku tidak tahan dengan perlakukan Sarmila yang kerap memukulinya bila tidak becus bekerja dan selalu dikurung di rumah, bila majikannya pergi. Sementara Radika, ditetapkan sebagai tersangka setelah unit VC Polresta Medan berhasil mengungkap penyiksaan hingga menewaskan terhadap PRT di Jalan Angsa simpang Jan Beo Kecamatan Medan Timur. Dalam kasus itu, Radika ditetapkan sebagai tersangka bersama 6 orang lainnya, termasuk suaminya, Syamsul Anwar.

Lokasi Wisata Dadakan
Rumah Syamsul Anwar dan Radika di Jalan Madong Lubis/Jalan Angsa Simpang Jalan Beo Kelurahan Sidodadi Kecamatan Medan Timur, tak pernah sepi didatangi warga. Kasus penyiksaan dan pembunuhan PRT yang dilakukan pasutri dan keluarganya ini seolah memiliki magnet sejak Kepolisian Resort Kota (Polresta) Medan mengungkap kasus trafficking di rumah itu, Kamis Kamis 27 November lalu.

Tak hanya warga sekitar, mereka yang tinggal jauh dari lokasi itu seperti dari Tembung, Lau Dendang dan Simalingkar, juga menyempatkan diri untuk melihat langsung rumah milik Syamsul Anwar dan Radika.

“Sekadar melihat tempatnya. Soalnya, berdasarkan yang saya tahu dari koran, kejadiannya sadis dan tidak manusiawi,” ungkap Nuriza (39), warga Desa Lau Dendang Kecamatan Percut Seituan, Minggu (7/12) siang.

“Saya jadi tambah yakin kalau di sini ada kuburan. Saya lihat dari bentuk lantai keramik rumah itu, berbeda-beda keramiknya, seakan sebagai tanda. Oleh karena itu, harus segera dibongkar Polisi itu,” tandas wanita yang berprofesi sebagai guru SD ini.

Feri (46), warga Jalan Pala 18 Simalingkar, dating untuk memastikan alur cerita dari warga sekitar tempat kejadian. “Udah penasaran kali aku,” ujar Fery singkat.

Banyaknya kerumunan warga dimanfaatkan pedagang keliling untuk meraup rezeki. Seperti Ros Br Sinaga yang membuka lapak berjualan rokok dan air minum kemasan di emperan rumah warga sekitar. Ibu 5 anak yang tinggal di kawasan Jalan Pahlawan ini sudah berjualan di lokasi itu sejak 5 hari lalu.

“Sejak kejadian itu terungkap, terus ramai di lokasi ini. Biasanya sepi sampai pukul 11 malam. Kalau untuk omset, sekitar Rp150 ribu sampai Rp200 ribu setiap hari,” ungkap wanita yang akrab disapa Mak Linda ini.

Amir, penjual jam tangan yang tinggal di kawasan Jalan Antara itu pun mengku dagangannya laris di lokasi itu. “Jam tangan yang saya jual mulai Rp25 ribu sampai Rp50 ribu, terjangkaulah. Makanya, 3 sampai 5 jam tangan, lakulah di tempat ini,” ujarnya.

Sejumlah abang becak pun terlihat menjadikan lokasi itu sebagai pangkalan baru. “Kalau penumpang dari lokasi ini selalu ada,” Samsul (30) warga Pasar 10 Tembung.

Sementara sampah bekas makanan dan minuman kemasan juga terlihat berserakan hingga ke badan jalan. “Kita juga sudah perkirakan akan adanya potensi tindak kejahatan lainnya seperti copet dan curanmor. Untuk itu kita, kita sudah siagakan personel di lokasi itu, dibantu dengan patroli,” ungkap Kapolsek Medan Timur, Kompol Juliani Prihatini via telepon, kemarin. (ain/tom)

loading...